Ahli gambut Dr Suwindo Limin meninggal dunia
- Penulis, Rebecca Henschke
- Peranan, Editor BBC Indonesia
- Waktu membaca: 1 menit
Indonesia kehilangan salah seorang ahli lahan gambut kelas dunia yang juga menguasai teknik-teknik pemadaman hutan komunitas.
Dr Suwindo Limin, salah seorang sesepuh masyarakat Dayak, sehari-harinya mengajar di Universitas Negeri Palangkaraya, Kalimantan Tengah, dan menjabat Direktur CIMTROP yang memusatkan perhatian pada penelitian kerja sama dalam kesinambungan lahan gambut tropis.
Dia meninggal dunia Senin 6 Juni subuh pada usia 61 tahun karena menderita kanker.
- <link type="page"><caption> Ketika ada upaya pencegahan kebakaran hutan di Kalteng</caption><url href=" http://www.bbc.co.uk/indonesia/berita_indonesia/2015/12/151201_indonesia_pilkada_kebakaran " platform="highweb"/></link>
- <link type="page"><caption> Kendala ganda hadang penanganan kebakaran hutan</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/berita_indonesia/2016/04/160404_indonesia_peta_konsesi.shtml" platform="highweb"/></link>
- <link type="page"><caption> Target restorasi gambut pemerintah 'cukup berat</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/berita_indonesia/2016/03/160310_indonesia_restorasi_gambut" platform="highweb"/></link>
"Orang belum siap untuk kehilangan ini," kata Bernat Ripoll Capilla, salah seorang Direktur OuTrop, lembaga pegiat orang utan dan perlindungan habitat satwa.
"Kami kehilangan pribadi yang sangat penting dan berpengaruh. Dia merupakan inspirasi. Dia memiliki peran di banyak tempat, di lapangan bersama komunitas Dayak berjuang untuk mendapatkan hak tanah, membangun tim pemadam kebakaran komunitas dan memimpin penelitian tentang lahan gambut serta mendekati para politisi. Dia seseorang yang amat khusus."
Capilla mengatakan 'warisan' Suwindo Lim akan tetap diteruskan.
"Dia merupakan panutan dan membangun sesuatu dalam waktu 20 tahun terakhir yang akan bertahan. Dia pelopor dalam penelitian lahan gambut dan memiliki komitmen kuat dalam konservasi."

Terjun langsung ke lapangan
Sementara itu seorang peneliti CIMTROP, Kitso Kunin, mengatakan Suwindo Limin merupakan sosok bapak bagi banyak orang.
"Kami semua di CIMTROP seperti anak ayam yang kehilangan induk. Begitulah rasanya."
Ketika BBC bertemu dengan Suwindon Limin pada masa puncak kebakaran hutan di Palangkaraya akhir tahun lalu, dia tidur di tenda bersama para sukarelawan komunitas pemadam kebakaran yang didirikannya.
Pada masa itu dia bekerja hingga tengah malam untuk ikut memadamkan api yang semakin mendekat ke pusat kota. Dia melakukannya selama dua bulan, siang dan malam.
"Api di tanah seperti ini amat berbahaya, mereka menghasilkan lebih banyak emisi," katanya kepada BBC saat itu.
"Kebakaran gambut amat unik karena menyebar di bawah permukaan tanah sehingga memadamkannya memerlukan waktu dan tidak bisa diduga. Anda bisa memadamkan api di satu tempat dan kemudian api marak di belakang Anda."
Suwindo Lim memperkirakan kebakaran hutan tahun 2015 menghasilkan emisi CO2 yang sama jumlahnya dengan yang dihasilkan Inggris Raya pada tahun sebelumnya.
Upacara pemamakamannya akan dilakukan pada Rabu 8 Juni 2016.









