PRT Indonesia di London: menikmati kebebasan pribadi

Setiap akhir pekan, kelab malam ini ramai pengunjung, rata-rata tenaga kerja Filipina dan Indonesia.

Sumber gambar, BBC Indonesia

Keterangan gambar, Setiap akhir pekan, kelab malam ini ramai pengunjung, rata-rata tenaga kerja Filipina dan Indonesia.
    • Penulis, Rohmatin Bonasir
    • Peranan, Wartawan BBC Indonesia

Hari baru saja berganti dan hentakan kaki menyambut datangnya Minggu di sebuah kelab malam di dekat pusat perbelanjaan Westfield, London.

Di lantai dansa, para pekerja domestik dari Indonesia dan Filipina berjoget dengan iringan musik disko. Ada yang bergoyang bersama pasangan atau bersama teman di diskotek ini.

  • <link type="page"><caption> Tiba di London, TKI 'melihat peluang' kabu</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/berita_indonesia/2016/06/160604_indonesia_prt_kabur" platform="highweb"/></link>r
  • <link type="page"><caption> Gaji TKI di Inggris sekitar Rp23 juta per bulan</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/berita_indonesia/2016/06/160603_indonesia_tki_kisah" platform="highweb"/></link>
  • <link type="page"><caption> Kisah pembantu Indonesia di Inggris</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/laporan_khusus/domesticworkerscluster.shtml" platform="highweb"/></link>

Di lantai dansa, saya bertemu dengan Yati, perempuan 35 tahun asal Indramayu, Jawa Barat.

Yati

Sumber gambar, BBC Indonesia

Keterangan gambar, Yati berkata ia merasa bebas pergi ke diskotek tanpa khawatir orang akan menggunjingkannya.

Clubbing atau pergi ke kelab malam, katanya, penting setelah sepekan penuh membersihkan rumah, menyeterika, memasak dan berbelanja untuk satu keluarga dengan dua anak dan dua pengasuh mereka.

"Lima hari kerja, kadang kalau weekend (akhir pekan) kadang pusing jadi aku pergi clubbing. Kadang-kadang orang pikirannya jelek, kalau clubbing itu tak bagus, cari cowok. Padahal tidak. Di situ enak, aku cuma dancing (menari) kayak modelnya olahraga," ujar Yati.

Urusan pribadi

Dengan tiket masuk £5 (sekitar Rp95.000) untuk anggota kelab malam, atau masih dibawah patokan nasional gaji minimum £7.20 per jam, diakuinya kondisi ekonominya serta kondisi sosial di ibu kota Inggris mendukung untuk melakukan aktivitas malam seperti itu.

"Kalau di London semuanya bisa, tapi kalau di kampung tak bisa mungkin. Tahu sendiri, tetangga pikirannya jelek. Tidak kayak di London don't care."

Don't care yang dimaksudnya, orang tak memedulikan urusan pribadi orang lain.

Yati merupakan contoh perempuan muda yang secara finansial mandiri di negeri orang dan mampu menopang keluarga di kampungnya.

Rina

Sumber gambar, BBC Indonesia

Keterangan gambar, Rina merasa punya kebebasan hidup di London yang sebelumnya tak pernah dirasakannya.

Seorang teman Yati, Rina, juga mengaku pergi ke kelab malam untuk melepaskan stres.

"Tujuannya juga untuk olahraga, tapi mungkin ada orang yang menganggapnya negatif. Padahal kita cuma ingin menyegarkan pikiran, berjoget seperti zumba, dan menikmati suasana bersama teman-teman," Rina berkata.

Hari besar Indonesia

TKI di London

Sumber gambar, INDUK

Keterangan gambar, Sejumlah TKI mengikuti peringatan Hari Kartini 2016 di KBRI London bersama Dubes Rizal Sukma.

Selain ke kelab malam, pekerja domestik Indonesia juga menggelar arisan atau merayakan hari besar, seperti Hari Kartini di Kedutaan Besar Repubik Indonesia London.

Apapun gaya hidupnya, kata Tuti Hatmawati, ketua INDUK, organisasi tenaga kerja Indonesia yang bernaung di KBRI London dan beranggotakan lebih dari 100 orang, ada prinsip yang dipertahankan.

"Kalau masalah kebebasan hidup, masing-masing kita punya pilihan hidup. Menurut saya, saya suka dengan tradisi orang sini yang bebas tapi tetap ada aturan karena kita, walau bagaimanapun, tetap orang Indonesia yang punya tatakrama, punya moralitas.

Tuti dan Mira

Sumber gambar, BBC Indonesia

Keterangan gambar, Tuti dan Mira, keduanya pengurus INDUK, sepakat bahwa jati diri Indonesia harus dipertahankan.

"Justru bagaimana kita menjadi orang Indonesia yang bisa bersosialisasi di sini dengan siapa pun tanpa harus meninggalkan jati diri kita," tegas Tuti dalam wawancara dengan wartawan BBC Indonesia, Rohmatin Bonasir.

Sementara itu Minister Counsellor bidang Protokol dan Konsuler KBRI di London, Eka Aryanto Suripto, menegaskan berdasarkan pengamatannya, gaya hidup para TKI di London tidak berlebihan.

Secara resmi Indonesia tidak mengirim tenaga kerja ke Inggris, tetapi di negara ini terdapat ratusan tenaga kerja Indonesia di sektor domestik. Pada umumnya mereka masuk ke Inggris dibawa oleh majikan dari negara-negara Timur Tengah dan Asia.

Sejak 2012, pemerintah Inggris memperketat visa kerja bagi pekerja domestik asing sehingga kini semakin sulit bagi tenaga kerja baru untuk masuk ke Inggris.