Topang keluarga, pengungsi Rohingya berdagang keliling

Sumber gambar, Saiful MDA
Hafiz Mohammad Yunus, seorang pengungsi Rohingya dari Myanmar, menjadi pedagang keliling di kota Lhokseumawe, Aceh, selama sekitar satu tahun terakhir.
Yang ia jual bisanya adalah sisa bantuan berupa pakaian dan makanan yang ia terima sebagai pengungsi.
"Satu minggu sekali dapat bantuan bahan makanan dari IOM (Organisasi Migrasi Internasional). Ada susu, ada roti. Tidak ada uang," kata Hafiz sebagaimana dilaporkan oleh Saiful MDA, wartawan di Lhokseumawe.

Sumber gambar, Saiful MDA
Yunus, 36, tercatat sebagai salah satu dari hampir 1.000 orang Rohingya bersama ratusan migran Bangladesh yang mendarat di Aceh pada bulan Mei satu tahun lalu.
Mereka mendarat di Aceh dalam tiga gelombang setelah perahu-perahu mereka ditinggalkan di tengah laut oleh jaringan yang diduga sebagai kelompok perdagangan manusia.
- <link type="page"><caption> Malaysia sayangkan pengungsi Rohingya lari dari Aceh</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/dunia/2016/02/160223_dunia_pengungsi_rohingya_aceh" platform="highweb"/></link>
- <link type="page"><caption> Fasilitas pengungsi Rohingya di Aceh Utara 'mubazir'</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/berita_indonesia/2016/02/160224_indonesia_fasiltas_pengungsi" platform="highweb"/></link>
- <link type="page"><caption> Pengungsi Rohingya 'kabur' dari Aceh ke Malaysia</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/multimedia/2016/04/160425_aceh_rohingya" platform="highweb"/></link>
Pada bulan-bulan pertama kedatangan mereka, bantuan mengalir deras baik dari dalam negeri maupun luar Indonesia.
Oleh karenanya, Hafiz yang sebelumnya berprofesi sebagai guru di Myanmar, bisa menjual sisa bantuan kepada warga di sekitar kamp pengungsi di Blang Adoe, Aceh Utara, dan rata-rata dulu mengantongi sekitar Rp1 juta per bulan.
Menanggung anak-anak dan istri
Ia juga menjajakan barangnya di kota Lhokseumawe yang berdekatan dengan kamp pengungsi Rohingya di Blang Adoe. Akan tetapi sekarang bantuan sudah jauh berkurang.
"Sekarang hanya bisa jualan satu minggu satu kali. Hasilnya Rp70.000-80.000," tuturnya.
Penghasilan ini, menurutnya, amat diperlukan untuk menopang kehidupan keluarganya; istri dan lima anak mereka yang ditinggalkan di Myanmar.

Sumber gambar, Saiful MDA
Saat ditemui, Hafiz Mohammad Yunus sedang menjajakan barang dagangannya di Desa Manyang Kandang, Lhokseumawe. Di sana, dagangannya laku satu: sebuah kaus yang dibeli oleh Helmi, kepala desa setempat.
"Saya membeli pakaian ini sebagai bentuk kepedulian terhadap Muslim Myanmar, dan merasa tersentuh meihat keberadaan saudara kita. Dan saya berharap dengan membeli pakaian dari dia, mampu meringankan beban untuk kebutuhan sehari hari," kata Helmi.
Selain dikenal sebagai pedagang keliling pengungsi Rohingya ini juga dikenal sebagai pemimpin Masjid Arakan di kompleks pengungsi Blang Adoe.
Namun berdagang keliling hanyalah langkah sementara bagi Yunus dan para pengungsi lainnya sebab secara resmi mereka tidak boleh bekerja. Indonesia tidak menandatangani Konvensi Pengungsi PBB tahun 1951 yang antara lain memandatkan akses ke lapangan kerja dan pendidikan.
Ia mengaku senang tinggal di Aceh karena merasa aman. Adapun untuk kembali ke Myanmar, ia masih ragu apakah pemerintahan baru akan mampu menjamin hak-hak kelompok minoritas Rohingya.
Oleh PBB, Rohingya digolongkan sebagai salah satu kelompok minoritas yang paling tertindas di dunia.









