Obesitas dan malnutrisi, dua masalah anak Indonesia

Sumber gambar, UNICEF
Sejumlah negara di Asean, termasuk Indonesia, menghadapi masalah gizi buruk pada anak-anak. Laporan bersama dari UNICEF, WHO dan ASEAN menyatakan sebagian anak mengalami obesitas, sedangkan anak-anak lainnya mengalami hambatan pertumbuhan dan kekurangan berat badan.
Proporsi masalah pertumbuhan anak di Indonesia persis sama, yakni 12 persen anak-anak di Indonesia kelebihan berat badan, dan 12 persen lainnya mengalami kekurangan berat badan.
- <link type="page"><caption> Gizi buruk di NTT</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/berita_indonesia/2015/07/150720_indonesia_ntt_pangan" platform="highweb"/></link>
- <link type="page"><caption> Pola asuh picu obesitas</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/majalah/2015/03/150330_kesehatan_obesitas_anak" platform="highweb"/></link>
Penyebab kelebihan berat badan dan kekurangan gizi saling terkait, tulis laporan itu. Anak yang mengalami hambatan pertumbuhan pada usia dini berisiko lebih besar untuk mengalami kelebihan berat badan dikemudian hari.
Risiko kelebihan berat badan, juga dipicu oleh banyaknya anak mengonsumsi 'makanan tak bergizi atau ‘junk food’ dan minuman cepat saji. Aktivitas fisik dan gaya hidup tidak aktif atau kurang bergerak, memberi kontribusi signifikan terhadap meningkatnya prevalensi penyakit kronis seperti diabetes dan kondisi jantung.
- <link type="page"><caption> Indonesia konsumen mie instan terbesar kedua di dunia</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/majalah/2013/04/130426_bisnis_mie_instan" platform="highweb"/></link>
- <link type="page"><caption> Makanan cepat saji di televisi</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/majalah/2014/07/140704_pendidikan_tv_anak" platform="highweb"/></link>
"Banyak negara di Asia Tenggara telah melihat keuntungan ekonomi yang mengesankan dalam dekade terakhir, mengangkat jutaan anak-anak keluar dari kemiskinan," kata Christiane Rudert, Regional Nutrition Advisor untuk UNICEF Asia Timur dan Pasifik.
"Namun, pada saat yang sama kita telah melihat munculnya kondisi seperti obesitas, yang sebelumnya dikaitkan dengan negara-negara berpenghasilan tinggi. Kini anak-anak Asia berisiko mengalami malnutrisi dari kedua ujung spektrum,” tambah Christiane Rudert.
Pola asuh anak menjadi faktor penting lainnya yang membuat seorang anak mengalami obesitas. Bintang, balita berusia 15 bulan di desa Pandes, Jawa Tengah, sudah mengalami obesitas.

Sumber gambar, UNICEF
Sehari-hari ia diasuh oleh neneknya, karena orang tuanya harus pergi bekerja. Bintang banyak mengonsumsi makanan berlemak tinggi dengan kandungan gula yang tinggi pula.
“Bintang banyak makan biskuit, roti, jelly, dia mudah sekali untuk makan. Bintang beberapa kali bahkan sudah minta makan, sebelum waktu makan tiba” kata Budianto, ayah Bintang. Nenek Bintang, rutin membawa cucunya ke klinik setempat, untuk mendapat vitamin A setiap enam bulan sekali. Klinik yang didatangi Bintang juga menyediakan layanan konsultasi gizi, tapi nenek Bintang memilih tidak ikut bergabung dalam sesi konsultasi.
“Saya tidak perlu ikut sesi konsultasi gizi. Makanan yang saya kasih untuk Bintang, sama dengan makanan yang saya makan dulu.”
Ahli gizi di klinik Pandes, Dessy Sandra Dewi, menyatakan, nenek sering memanjakan cucunya saat memberi makan, sehingga rentan memicu obesitas pada anak.
“Banyak anak yang diasuh oleh nenek atau kakeknya, karena kedua orang tuanya bekerja. Tapi banyak diantara mereka (kakek-nenek), yang tidak memiliki pengetahuan yang cukup tentang asupan gizi yang seimbang. Mereka juga terpengaruh oleh iklan-iklan makanan instan, yang seolah menunjukkan itu adalah makanan yang tepat dikonsumsi.”

Sumber gambar, UNICEF









