Polisi: kondisi alam hambat pengejaran kelompok Santoso di Poso

Sumber gambar, AFP

Aparat gabungan TNI Polri mengaku masih sulit untuk menangkap kelompok militan pimpinan Santoso di wilayah Poso, Sulawesi Tengah, jelang berakhirnya operasi Tinombala pada 9 Maret nanti.

Operasi Tinombala digelar kepolisian untuk menangkap Santoso dan kelompoknya, tapi belum dapat menahan pimpinan kelompok Mujahidin Indonesia Timur.

Kepala Operasi Tinombala, Kombes Leo Bona Lubis, mengaku tim gabungan TNI Polri hingga kini masih sulit untuk menangkap Santoso dan anggota kelompoknya yang berada di pegunungan dan hutan di Poso.

"Kondisi alam di hutan dan pengunungan di Poso menyulitkan pengejaran Santoso," jelas Leo.

Dia juga menyatakan belum dapat memastikan berapa jumlah anggota MIT yang masih berada di hutan Poso.

Leo mengatakan jika Santoso belum tertangkap sampai operasi berakhir, maka pengejaran tetap akan dilakukan.

“Target waktu operasi Tinombala tidak berubah, kami tetap menetapkan operasi Tinombala akan selesai dalam 60 hari," jelas Leo, "Namun, jika hingga batas akhir waktu operasi yang telah ditentukan, Santoso belum tertangkap, kami akan memperpanjang masa operasi dengan nama operasi yang sama.“

Operasi Tinombala resmi dimulai sejak 10 Januari 2016, dan akan berakhir pada 9 Maret 2016. Aparat TNI Polri yang dilibatkan dalam Operasi Tinombala berjumlah 2.000 Personil. Operasi Tinombala 2016 digelar untuk menggantikan Operasi Camar Maleo 4 yang telah berakhir pada 9 Januari 2016 lalu.

Santoso<link type="page"><caption> banyak merekrut orang dari Bima</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/berita_indonesia/2016/02/160215_indonesia_santoso_bima_ntbhttp://www.bbc.com/indonesia/berita_indonesia/2016/02/160215_indonesia_santoso_bima_ntb" platform="highweb"/></link>, Nusa Tenggara Barat (NTB), untuk bergabung dengan jaringannya, yang juga dikenal dengan sebutan kelompok <link type="page"><caption> Mujahidin Indonesia Timur (MIT).</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/berita_indonesia/2016/01/160115_indonesia_explainer_kelompok_teror" platform="highweb"/></link>

Abu Wardah alias Santoso, ialah mantan kepala Jemaah Ansharut Tauhid (kelompok yang didirikan Abu Bakar Ba’asyir) cabang Poso. <link type="page"><caption> Santoso memiliki reputasi melatih milisi</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/berita_indonesia/2013/07/130710_video_santoso_polisi" platform="highweb"/></link>, merakit bom, dan menargetkan anggota polisi.

Pada 2015, polisi dan tentara menggelar operasi gabungan untuk melacak Santoso. Dia dilaporkan mampu meloloskan diri, namun wakilnya, Daeng Koro, ditembak mati.