Jenazah teroris diterima warga Kedungwungu

Sumber gambar, Reuters
- Penulis, Rafki Hidayat
- Peranan, Wartawan BBC di Jakarta
Setelah sempat menolak, warga desa Kedungwungu, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, akhirnya menerima jenazah salah satu terduga pelaku teror di kawasan Sarinah, Jakarta, Ahmad Muhazan alias Azan, untuk dimakamkan di desa mereka.
“Karena alasan kemanusiaan, dan karena permohonan dari keluarga ahli waris,“ ungkap Kepala Desa Kedungwungu, Ahmad Fuadi kepada wartawan BBC Indonesia, Rafki Hidayat, Rabu (20/01).
Jenazah Ahmad Muhazan ditemukan polisi di dalam kafe Starbucks dengan bagian dada bolong, diduga karena <link type="page"><caption> melakukan bom bunuh diri dalam rangkaian aksi teror di kawasan Sarinah, Kamis (14/01),</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/berita_indonesia/serangan_bom_jakarta" platform="highweb"/></link> yang menewaskan empat warga sipil dan empat penyerangnya.

Sumber gambar, Dedy Musashi
Penerimaan atas jenazah Azan oleh warga desa Kedungwungu dilakukan setelah warga dan kepala desa berembuk dan mengeluarkan empat petisi pada Selasa (19/01).
Petisi-petisi tersebut berfokus pada pernyataan desa yang 'mengutuk dan memohon maaf atas serangan teror yang dilakukan Azan' dan 'meminta warga aktif menangkal radikalisme'.
Dimakamkan terpisah
Meskipun ‘diterima’, Kepala Desa Kedungwungu menekankan jenazah Azan tidak dimakamkan di tempat pemakaman umum (TPU) yang biasa digunakan untuk menguburkan jenazah warga desa.

Sumber gambar, Getty Images
Jenazah lelaki berusia 25 tahun itu akan dimakamkan di lahan milik desa di sebelah TPU, 'untuk menghindari keributan'.
Keputusan diambil pimpinan desa karena pada Sabtu (16/01) lalu mengalir deras penolakan dari warga, yang antara lain membentangkan spanduk bertuliskan 'Menolak Mayat Teroris' dengan cat bewarna merah.

Sumber gambar, Reuters
“Kita jelas sekali menolak, dengan standard bahwa tindakan terorisme adalah jelas-jelas melanggar hukum negara dan agama,” kata Abdul Muiz, tokoh masyarakat desa Kedungwungu kepada wartawan, Sabtu lalu.
Keluarga pasrah
Ahmad Muhazan alias Azan merantau ke Jakarta sejak lima tahun lalu dan dikenal warga sebagai figur yang tertutup dan kurang bergaul.

Sumber gambar, AFP
Semenjak kesepakatan dengan kepala desa, sebagian besar warga pun mulai mau menerima jasad terduga teroris yang diketahui bekerja sebagai penjual ban tersebut.
“Saya turuti kesepakatannya. Intinya yang saya tolak hanyalah kejahatan yang dilakukan,” ujar Sukhi Abdullah, salah seorang warga, kepada wartawan lokal di Indramayu, Dedy Musashi, Rabu (20/01).
Meskipun dimakamkan ‘terpisah’, keluarga Azan menerima keputusan pimpinan dan warga desa Kedungwungu.

Sumber gambar, Dedy Musashi
“Yang penting tidak ada lagi keributan, tidak ada lagi yang dirugikan. Yang diharapkan keluarga, jenazah disemayamkan di desa,” ungkap Miftah Hariri, juru bicara keluarga Azan kepada Dedy, Rabu (20/01).
Jenazah Azan direncakan akan dibawa dari Jakarta untuk dimakamkan di Indramayu, paling cepat Kamis ( 21/01).

Sumber gambar, AFP
Kasus penolakan warga terhadap jenazah, bukanlah yang pertama. Sebelumnya, jenazah terpidana mati kasus narkoba asal Sumatera Selatan, Zainal Abidin, akhirnya dimakamkan di Cilacap pada April 2015, setelah ditolak warga kampung halamannya.
Jenazah salah satu penganut Ahmadiyah pada konflik di Cikeusik 2011 lalu, juga sempat ditolak warga. Hal serupa pun pernah terjadi pada jasad korban kasus pembunuhan 1965.









