Salah poster kewaspadaan HIV, Kemenkes 'kecolongan'

Sumber gambar, Rahman Seblat
Gara-gara Kementerian Kesehatan kecolongan, aktivis HIV jadi perlu dikirim ke stasiun-stasiun kereta api untuk memberi tahu publik soal kekeliruan itu, kata seorang aktivis.
Aditya Wardhana dari Koalisi AIDS menyebut, kementerian kesehatan kini harus melancarkan berbagai program besar-besaran untuk memperbaiki kekelirian itu," katanya kepada AFP.
Kekeliruan yang dipermasalahkan adalah materi kampanye di dalam gerbong kereta Commuter Line Jakarta yang menyebutkan antara lain, bahwa HIV dapat menular lewat gigitan nyamuk, berenang dan makan bersama, keringat, dan bersin.
Pejabat Kementrian Kesehatan mengakui kesalahan tersebut karena "salah cetak". Seharusnya kampanye itu berbunyi 'HIV tidak menular melalui...," dan bukan 'menular melalui...'
Kemenkes telah meminta maaf atas kekeliruan tersebut lewat twitter.
Seorang aktivis dari Suara Kita, Hartoyo menyebut, Kemenkes kecolongan, dan tidak mengerti mengapa bisa terjadi kesalahan sefatal itu, namun ia menghargai keputusan Kemenkes yang segera mencabut lembar-lembar kampanye itu dan meminta maaf.
Menurut Hartoyo, "masyarakat pasti banyak yang kaget, tapi pasti mereka mengerti bahwa ini merupakan kesalahan."
Karena, menurutnya, "masyarakat sudah melek pengetahuan, dan gampang mendapat informasi lain melalui internet."
Tetapi mengenai kemungkinan sabotase atau penyesatan secara sengaja, Hartoyo mengatakan, 'saya tak berpikir sejauh itu."
Netizen dibuat heboh ketika pada Sabtu malam (14/11) gambar publikasi itu tersebar di jejaring sosial Facebook, twitter, dan Instagram.

Sumber gambar, Twitter
Rahman Seblat mengaku pertama kali menemukan kekeliruan itu pada poster di salah satu gerbong kereta commuter line.
Ia memotret banner tersebut kemudian membagikannya ke grup WhatsApp Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI). Kebetulan, ia pernah menjadi fasilitator PKBI untuk kegiatan pendampingan penderita HIV di penjara anak.
"Anak-anak PKBI respon, 'Mas, posting di Sosmed dong'. Akhirnya saya posting di Instagram, dibagi ke Facebook dan Twitter," kata Rahman kepada BBC Indonesia.
Kemudian cuitan itu, lanjut Rahman, di-retweet para aktivis PKBI dengan menyebut akun Pusat Promosi Kesehatan (@puspromkes). "Mereka respon malam itu juga ke temen-temen PKBI," ujarnya.
Keesokan harinya (15/11), publikasi keliru itu dicopot.
Direktur Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Muhammad Subuh mengatakan, kekeliruan tersebut disebabkan "salah cetak".
"Mereka alpa mencetak kata 'tidak'. Itu murni kekeliruan," ujarnya kepada kantor berita AFP.
Menurut Subuh, agensi percetakan tidak menunjukkan posternya kepada Kemenkes sebelum dipasang.
Agensi percetakan pun meminta maaf atas kesalahan tersebut lewat twitter.
Namun Subuh mengatakan, kontroversi ini memunculkan semacam "berkah."
"Banyaknya orang yang menyadari kesalahan dalam poster itu menunjukkan, telah ada kemajuan dalam kesadaran masyarakat tentang penyebaran virus HIV."











