Meski perekonomian membaik, Indonesia harus "tetap waspada"

Rupiah

Sumber gambar, AFP

Keterangan gambar, Nilai tukar rupiah yang menguat baru-baru ini berperan dalam pertumbuhan ekonomi di triwulan 3.

Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan tiga tahun 2015 lebih baik dari triwulan sebelumnya, Badan Pusat Statistik melaporkan.

Meski begitu, pengamat berpendapat pemerintah harus tetap waspada karena pertumbuhan itu bergantung kepada faktor eksternal, terutama nilai tukar rupiah.

Hari ini (05/11) BPS melaporkan, ekonomi Indonesia pada triwulan tiga 2015 tumbuh 4,73% terhadap triwulan tiga 2014. Ini peningkatan dibanding 4,67 % pertumbuhan pada triwulan sebelumnya (April-Juni), yang merupakan angka terendah selama enam tahun.

Laju pertumbuhan melambat dibanding capaian triwulan tiga tahun 2014, yang tumbuh 4,92%.

Berdasarkan pernyataan di situs resmi BPS, pertumbuhan didorong dari sisi produksi dan pengeluaran.

Dari sisi produksi, pertumbuhan didorong oleh hampir semua lapangan usaha. Capaian tertinggi ialah usaha Informasi dan Komunikasi, yang tumbuh 10,83 persen.

Sedangkan dari sisi pengeluaran, pertumbuhan tertinggi dicapai Komponen Pengeluaran Konsumsi Pemerintah sebesar 6,56%, diikuti Komponen Pengeluaran Konsumsi LNPRT dan Komponen Pengeluaran Konsumsi Rumah Tangga.

'Tetap Waspada'

Pengamat Ekonomi Yanuar Rizky mengatakan, pertumbuhan ini karena kondisi fundamental didorong oleh kondisi teknis. Bukan sebaliknya.

Kondisi fundamental maksudnya konsumsi, produksi, dan investasi. Sementara kondisi teknis ialah terkait sistem keuangan.

Menurut dia, produksi dan konsumsi masih bergantung pada faktor eksternal, terutama nilai tukar rupiah.

“Kalau konsumsi datang dari barang impor, ketika harga barang impornya turun dari (nilai tukar rupiah) 14.700 jadi 13.000 ya jelas tumbuh dong ekonominya. Di sisi lain, impor bahan baku akan lebih besar karena harganya turun. Karena itu produksi pun bertambah.

"Maka dari itu pemerintah harus tetap waspada karena faktor eksternal ini ruangnya pendek, selalu mengalami naik-turun."

Kurang fokus

Yanuar menjelaskan, karena pengeluaran pemerintah punya andil besar dalam pertumbuhan ekonomi, mereka "harus fokus di pengeluaran yang punya efek pengganda terhadap konsumsi juga investasi dan produksi."

"Misalnya, bagaimana pemerintah fokus ke ketahanan pangan, sehingga kita tidak lagi impor. (Dengan itu) kita tidak lagi tergantung kepada faktor eksternal."

Paket ekonomi yang selama ini berjalan, dia nilai masih kurang fokus karena tidak tidak menyentuh isu ketahanan pangan dan daya saing industri.

"Meningkatkan daya saing itu bukan hanya dari bahan baku. Bisa saja pemerintah memberikan insentif dari sisi bahan penolong, dari sisi produksi. Itu belum kelihatan."

Dia menambahkan, "yang saya lihat kebanyakan bergerak masih di pasar keuangan."

Presiden Joko Widodo berjanji meningkatkan pertumbuhan ekonomi hingga rata-rata 7% selama lima tahun, percaya bahwa pengeluaran negara yang lebih cepat dan serangkaian langkah yang telah diambil akan mendorong pertumbuhan Juli-September sampai 4,85%.