Wawancara Eksklusif Jokowi (2): turunnya rupiah tak seperti krisis 98

Sumber gambar, EPA
Presiden Joko Widodo mengatakan bahwa keadaan ekonomi sekarang ini memang berat, namun tak bisa dibandingkan demngan krisis ekonomi tahun 1998. Bahkan jatuhnya harga rupiah, juga berbeda dengan ambruknya nilai mata uang kita di tahun 1998 yang memicu krisis politik yang berujung pada jatuhnya Soeharto.
Presiden Jokowi juga yakin, pada akhir masa jabatannya nanti, ekonomi Indonesia akan jauh lebih berkembang daripada sekarang. Berikut bagian kedua wawancara Karishma Vaswani dengan Presiden Joko Widodo.
Mari bicara soal kabut asap. Hal ini bukan hanya masalah bagi negara-negara tetangga seperti Malaysia dan Singapura, tapi juga menjadi masalah buat warga Anda sendiri. Bagaimana Anda menunjukkan, bukan hanya pada warga Anda, tapi pada kawasan bahwa Indonesia mengendalikan situasi ini dan mencoba mengatasinya?

Sumber gambar, Getty
Kita telah kerja keras, kerja keras untuk menyelesaikan masalah asap. Tetapi ini juga bukan pekerjaan yang mudah diselesaikan dalam waktu singkat. Menyangkut puluhan ribu hektar yang terbakar, ada di 6 provinsi, dan kita juga menjadi korban. Yang menjadi korban adalah rakyat saya yang ada di Riau, Sumatera Selatan, di Jambi, Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, Kalimantan Barat, semuanya menjadi korban. Termasuk juga yang berada di negara tetangga, juga menjadi korban. Dan kita sudah sekuat tenaga.
Saya sudah kerahkan 3.700 TNI kita, ada 7.900 Polri yang kita terjunkan di lapangan. Ada 18 helikopter yang kita gunakan untuk waterbombing. Kemudian ada 4 pesawat yang kita gunakan, juga untuk menangani asap ini. Artinya kita sudah kerahkan semuanya untuk menangani ini. Tetapi memang ini perlu waktu.
Perlu dibuat embung di setiap area hutan. Perlu dibuat kanal-kanal di hutan-hutan gambut untuk mendatangkan air. Dan ini perlu waktu. Pekerjaan fisik ini perlu waktu. Perkiraan saya tiga tahun mengerjakan pekerjaan fisik ini. Tetapi saya meyakini setiap tahun akan berkurang karena ada konsistensi untuk pengerjaan infrastruktur yang berkaitan dengan asap. Dan juga penegakan hukum. Ini penting sekali.

Sumber gambar, Getty
Indonesia dilihat sebagai ekonomi besar di Asia Tenggara dan masih kesulitan untuk menghapus reputasi sebagai negara yang belum sukses. Bagaimana Anda tetap kompetitif di tingkat global sementara banyak ekonomi negara-negara di kawasan ini melambat dan beberapa regulasi Anda tampaknya malah menjauhkan investor?
Kita ingin mempercepat deregulasi kita, dan ingin mempercepat pengerjaan infrastruktur. Saya meyakini kalau dua hal ini cepat dikerjakan, infrastruktur cepat dikerjakan, kemudian konsisten, kemudian deregulasi peraturan-peraturan yang ada juga dilakukan, kemudian yang penting juga adalah penyiapan sumber daya manusia. Human resources disiapkan. Saya meyakini, bahwa ke depan Indonesia akan lebih baik pertumbuhan ekonominya. Saya meyakini itu.
Kami bertemu banyak pemilik pabrik di sini, banyak dari mereka bicara dengan rasa optimisme seperti yang Anda miliki tentang masa depan Indonesia..
Iya, harus optimis, semuanya harus optimis.
Tapi Anda pebisnis, Anda pernah menjadi pebisnis, Anda tahu tantangan yang dihadapi perusahaan kecil dan menengah di Indonesia. Mereka harus membayar gaji, mereka harus membayar listrik, dan mereka meminta tolong pada pemerintahan Anda, untuk memudahkan bisnis, untuk memperbaiki infrastruktur - apa yang Anda sampaikan ke mereka?
Tahun ini, kita sudah memberikan pemotongan bunga untuk usaha kecil, usaha menengah, itu dari 22% menjadi 12%. Tahun depan, untuk kredit usaha rakyat yang dulunya 22-23%, tahun depan akan menjadi 9%.

Sumber gambar, Getty
Dengan bunga yang murah ini, saya meyakini, mereka akan mempunyai daya saing yang lebih baik. Tetapi memang kondisi sekarang dengan pasar yang sedang turun dengan perlambatan ekonomi dunia yang baru turun, saya kira memang banyak usaha-usaha mikro, usaha kecil yang masih punya daya tahan yang baik. Tetapi juga ada yang memang sedikit masalah.
Anda menghadapi tingkat pertumbuhan PDB terendah dalam 10 tahun terakhir. Rupiah ada dalam rekor terendah dan muncul asumsi bahwa Indonesia tengah menghadapi krisis keuangan 1998. Bagaimana Anda menjelaskannya? Bagaimana Anda mengatasi masalah ini?
Sangat berbeda jika dibandingkan dengan 1998. Yang pertama, non-performing loan di perbankan, dulu lebih dari 30%, sekarang masih pada posisi normal, 2,6%. Dulu bunga bank sampai mencapai 70%, sekarang bunga bank di Indonesia juga masih 11-12%, masih normal. Tidak ada masalah. Jadi tidak bisa dibandingkan seperti itu.
Dulu dolar, dulu satu dolar Rp2 ribu menjadi Rp15 ribu, ini kan loncatannya kan sampai 700%. Yang sekarang kan dari Rp12.500 menjadi Rp14.500, ini perbedaannya di situ, sangat berbeda sekali. Oleh sebab itu, kalau kita lihat, ekonomi juga masih tumbuh 4,7%. Tumbuh 4,7%, ini sebuah pertumbuhan yang... kalau dibandingkan dengan negara-negara lain yang sudah hanya tinggal 1%, 2%, ada yang minus, saya kira, Indonesia, kita wajib bersyukur bahwa masih tumbuh 4,7%.
Tapi seperti Anda bilang sendiri, ini negara besar, ada 250 juta orang yang bergantung pada Anda agar memastikan ekonomi terus tumbuh. Menurut pengamat,agar orang-orang di negara ini bisa mendapat pekerjaan, dan kesejahteraan mereka meningkat, pertumbuhan ekonomi perlu berada di tingkat 7-8%, bukan pada tingkat 4,7%.
Ya untuk memberikan lapangan pekerjaan kepada rakyat Indonesia yang masih menganggur memang membutuhkan pertumbuhan yang tinggi. Di atas 6%, di atas 7%, itulah yang menjadi tugas saya, menjadi tanggung jawab saya untuk membuka, investasi yang sebesar-besarnya, dunia usaha dibuka sehingga tumbuh industri, ada hilirisasi, ada kerja-kerja di infrastruktur yang semua orang bisa bekerja di sana.

Sumber gambar, setkab.go.id
Saya kira arahnya memang ke sana. Bahwa kita memberikan ruang pada investasi, ini adalah, pertama adalah untuk pertumbuhan ekonomi, yang kedua untuk membuka lapangan pekerjaan yang sebesar-besarnya untuk rakyat. Rakyat saya, rakyat Indonesia. Tapi perlu waktu.
Anda mengakui 12 bulan terakhir sangat menantang, dan empat tahun ke depan, selama Anda di pemerintahan, apa beberapa prioritas ekonomi Anda, yang harus Anda penuhi. Apa saja dari di akhir masa jabatan, Anda akan bisa bilang, 'saya sudah melakukan semua ini'.
Yang pertama tadi saya sampaikan, satu, ada deregulasi, ini harus dilakukan konsisten terus. Yang kedua, fokus pada infrastruktur, fokus di situ. Dan ini harus mulai kelihatan nanti pada tahun ketiga, harus mulai kelihatan infrastruktur ini.

Sumber gambar, Getty
Yang ketiga, terus fokus juga kepada petani, kepada nelayan, sehingga yang namanya infrastruktur untuk desa. Yang namanya waduk, yang namanya irigasi, itu harus diberikan juga prioritas. Itu nanti akan kelihatan kalau waduk selesai, irigasi selesai, infrastruktur jalan, kemudian listrik, kemudian pelabuhan ini selesai, kereta api selesai, ini akan kelihatan. Inilah nanti yang akan memberikan pertumbuhan ekonomi dalam jangka tahun keempat, tahun kelima.
Seberapa yakin Anda bisa memenuhi daftar pekerjaan yang sangat ambisius itu?
Bekerja harus yakin. Bekerja harus punya keyakinan. Dan bekerja harus punya prioritas. Dan bekerja harus punya fokus ke mana. Kan tadi sudah saya sampaikan secara jelas.









