Impor sapi Australia berkurang, pasar bereaksi

Pasar daging di Mayestik, Jakarta Selatan, Rabu (15/07) sore masih ramai dengan pengunjung walau dalam beberapa menit lagi, pasar segera tutup.
Yono, seorang pembeli daging mengatakan harga daging naik mejelang Lebaran, sesuatu yang selalu terjadi setiap tahun menjelang hari raya dan tidak terlalu menghiraukan kenaikan harga ini.
"Kalau saya sih, biasa aja sih, langganan sih," kata Yono.
Tingginya permintaan daging menjelang Lebaran, diperkirakan menjadi penyebab mengapa harga naik.
Tapi, menurut Uri, seorang pedagang daging, kali ini terdapat penyebab lain mengapa harga daging naik.
"Karena dikuota. Biasanya kan satu bos, satu orang gitu yah, kita bisa lima sampai enam ekor. Ini dibatasin hanya tiga," tutur Uri.
Pemerintah pada tahap pertama kuartal ini hanya akan mengimpor 50.000 ekor sapi dari Australia, yang menjadi salah satu sumber daging yang lazim beredar di pasar.
Padahal, selama tiga bulan sebelumnya, pemerintah mengimpor 250.000 sapi Australia.
Mengisi pasar domestik
Menteri Perdagangan Rachmat Gobel mengatakan pemerintah mempunyai pertimbangan tersendiri dalam mengambil keputusan tersebut.
"Kalau dilihat kan, 80% punya peternak lokal. Impor itu kurang lebih cuman 20%. Kita sedang mengevaluasi hal ini, bagaimana caranya supaya peternak lokal ini juga bisa mengisi pasar domestik," ujar Rachmat.
Beberapa pihak sempat berasumsi pengurangan daging sapi impor dari Australia disebabkan oleh faktor politik, menyusul ketegangan hubungan kedua negara kibat berbagai kasus, seperti kasus pengungsi dan eksekusi mati terpidana kasus narkoba.
Tapi hal ini dibantah oleh Muladno, Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan dari Kementerian Pertanian.
Dia mengungkap keputusan pengurangan impor sudah dihitung secara seksama oleh Kementerian Perdagangan dan Kementrian Pertanian.
"Kami menghitung, di feedloter-feedloter (perusahaan penggemukan sapi) itu, di total ada 221.000 ekor. Kalau perhitungannya sebulan 45.000, itu masih cukup untuk sampai lima bulan ke depan," kata Muladno.
Indonesia pada kuartal pertama tahun 2015 mengimpor 75.000 ekor sapi dari Australia.
Sedangkan pada kuartal berikutnya, April-Juni 2015, Indonesia mengimpor 250.000 ekor sapi Australia.









