Bertarung demi nasi di tambang emas Pulau Buru

    • Penulis, Rizki Washarti
    • Peranan, Wartawan BBC Indonesia

Gunung Botak
Keterangan gambar, Pertambangan emas di gunung Botak mengakibatkan kerusakan lingkungan

Tambang emas Gunung Botak adalah tempat warga Desa Kayeli, Pulau Buru, Maluku, mencari nafkah dan menaruh harapan untuk masa depan yang indah. Namun, ketika saya mengunjungi daerah itu, yang terlihat adalah pemandangan gersang dan pohon-pohon tandus.

Kondisi itu bukan hal aneh bagi Mahani, salah seorang dari sekitar 12 penambang emas yang sehari-harinya mengais rejeki di <link type="page"><caption> Gunung Botak</caption><url href="http://www.bbc.co.uk/indonesia/majalah/2015/03/150325_duniabisnis_emas" platform="highweb"/></link>.

"Ada air yang bersih, ada yang tidak. Ada batu-batu jatuh. Lalu ada bukit tinggi sekali. Ada batu jatuh kena orang. Gunung itu tinggi, tinggi sekali. Orang jalan juga sulit karena kalau hujan, licin," ungkap Mahani.

Korban yang jatuh karena longsor bisa menderita patah kaki, tangan atau bahkan lebih parah lagi, jelas Mahani.

Meninggal di tambang

"Ada orang yang meninggal. Dalam seminggu atau dua hari, bisa ada yang meninggal dua sampai tiga orang karena tertimbun dengan tanah,longsor. Karena waktu hujan, tanah digali, longsor," kata Mahani.

Gunung Botak
Keterangan gambar, Gunung Botak sangat tinggi dan medan yang sulit kerap menelan korban

Selain menimbulkan korban jiwa karena kondisi alamnya yang keras, Gunung Botak juga memunculkan korban jiwa akibat perebutan emas antar warga.

Namun, meski sudah mengetahui dampak buruk tambang emas, Mahani dan ribuan warga lainnya masih ingin mendulang logam mulia tersebut.

"Karena kerja seperti ini, penambang bisa beli mobil, punya tromol, ada rumah yang bisa berubah (direnovasi). Anak-anak juga bisa sekolah. Jadi penambang ini biar susah, tetapi tetap usaha kita agar anak-anak bisa sekolah, kuliah," tambah Mahani.

Bahaya merkuri

Penambangan emas sebenarnya juga memiliki dampak lain, yang baru dapat diketahui beberapa tahun kemudian.

Yuyun Ismawati, pegiat lingkungan dari Balifokus menjelaskan bahwa untuk dapat mengekstrak emas dibutuhkan merkuri atau yang lazim dikenal dengan air raksa.

Ketika emas dibakar untuk menghasilkan warna kilau yang dikenal masyarakat, merkuri juga ada di udara, jelas Yuyun.

"Uap merkuri ini linger (masih tertinggal) di udara sekitar 1,5 tahun. Waktu hujan turun, dia akan terbasuh lalu terdeposisi di sawah, air, tanah, jadi turun. Tetapi masih ada sisanya di udara," ungkap Yuyun.

Bayi cacat

Efek merkuri ini, menurut Yuyun, sangat buruk bagi wanita hamil.

"Banyak bayi lahir cacat, itu sudah banyak kasusnya. Kemudian di Kalimantan kita bisa lihat, terutama Kalimantan Tengah ada satu kampung yang bayinya atau anak-anaknya semua bibir mereka sumbing. Di Lombok ada anak umur dua tahun tremor," kata Yuyun.

Walau demikian, individu yang kondisi fisiknya sehat pun harus waspada terhadap merkuri karena dapat menyebabkan darah tinggi, pusing, rasa mual bahkan stroke.

Agar merkuri tidak digunakan dalam penambangan emas, pegiat lingkungan Ahmad Ashov Birry dari Greenpeace memberi solusi.

"Pertama, substitusi dari bahan itu sendiri. Kedua, apabila bila tidak ada penggantiya, harus dicari substitusi pada proses. Lalu yang ketiga, substitusi pada materialnya," ujar Ahmad.

Solusi dari pemerintah

Namun bagaimana mengatasi dampak negatif penambangan emas tradisional seperti longsor, penambang yang celaka, dan konflik antar penambang?

Gunung Botak
Keterangan gambar, Pemerintah berharap masyarakat memiliki kesadaran untuk menjaga lingkungan

Deputi Pencemaran Lingkungan Hidup Kementerian Lingkungan Hidup, Karliansyah, mengungkapkan.

"Ada aturan main yang mengharuskan pemerintah untuk mengalokasikan wilayah tertentu untuk wilayah pertambangan rakyat. Di sini pemerintah bisa masuk, bisa membantu kajian lingkungannya, kemudian membantu pengendalian dampak lingkungannya, termasuk limbahnya. Tapi yang kita lihat selama ini kan, banyak wilayah-wilayah yang dieksploitasi oleh yang menamakan dirinya masyarakat," kata Karliansyah.

Oleh karenanya, Karliansyah berharap masyarakat memiliki kesadaran bahwa tambang emas yang mereka gali bukan semata-mata untuk kelangsungan hidup mereka, namun juga untuk lingkungan semua habitat.

Anda juga dapat mendengarkan informasi ini dalam program Lingkungan Kita BBC yang disiarkan melalui radio-radio mitra BBC Indonesia, Rabu, 08 April 2015, mulai pukul 05.00 dan pukul 06.00 WIB.