JK: Solidaritas bangsa tampak saat tsunami

Sumber gambar, BBC World Service
- Penulis, Pinta Karana
- Peranan, Editor BBC Indonesia
Wakil Presiden Jusuf Kalla mengenang apa yang terjadi 10 tahun silam saat ia pertama kali mendengar tentang bencana tsunami di Aceh dalam peringatan 10 tahun peristiwa tsunami di Banda Aceh, Jumat (26/12).
“Saat itu seluruh bangsa ini bingung apa yang terjadi di Aceh. Jam 07.00- 08.00 pagi saya mendengar ada gempa di Aceh, gubernur sedang ada di Jakarta, panglima tidak bisa dihubungi, semua tidak bisa dihubungi,” kata Kalla.
Gempa dan tsunami di Aceh pada 26 Desember 2004 menewaskan lebih dari 170.000 jiwa di Aceh. Tsunami di hari itu juga menghantam sejumlah negara lain termasuk Thailand, India, Srilanka hingga Somalia.
Acara peringatan mengenang bencana itu diadakan di Lapangan Blang Padang, Banda Aceh. Acara juga dihadiri oleh perwakilan 35 negara donor yang membantu rekonstruksi dan rehabilitasi. Para duta besar negara-negara itu mendapat penghargaan dan gelar kehormatan dari Gubernur Aceh Zaini Abdullah.

Sumber gambar, BBC World Service
Kalla mengatakan saat itu solidaritas dan kesetiakawanan untuk Aceh datang dari seluruh Indonesia.
“Benar-benar dari Sabang sampai Merauke, orang semua datang untuk membantu. Aceh waktu itu tertutup dan sejak itu Aceh dibuka seluas luasnya untuk orang yang ingin membantu, silakan datang tanpa visa,” kata Kalla.
Baik Kalla mau pun Gubernur Aceh Zaini Abdullah mengucapkan terima kasih kepada semua relawan dan negara-negara yang membantu pembangunan kembali Aceh pasca tsunami.
Sementara itu di lapangan Blang Padang, masyarakat berkumpul untuk mendengarkan jalannya acara melalui pengeras suara. Seorang warga yang saya temui mengatakan ia kehilangan tujuh anggota keluarganya dalam<link type="page"><caption> tsunami</caption><url href="http://www.bbc.co.uk/indonesia/search/?q=tsunami" platform="highweb"/></link>.
“Keluarga saya ada sembilan, tujuh hilang termasuk mamak (ibu) saya. Saya berharap mamak masih hidup, saya masih belum bisa menerima mamak saya hilang, saya merasa hidup saya pun tenggelam,” kata Cut Lina kepada wartawan BBC Pinta Karana.










