Artis di DPR: Idealisme atau cari aman?

Sumber gambar, Reuters
Di antara 555 anggota parlemen terpilih yang dilantik pada Rabu (01/10), terdapat 15 artis dan mantan artis yang juga mewakili rakyat Indonesia menjadi anggota Dewan Perwakilan Rakyat periode 2014-2019.
Tanpa pengalaman di bidang politik, apa kontribusi yang bisa mereka berikan sebagai wakil suara dari 260 juta rakyat di tanah air?
Pengamat mengatakan hal itu selalu menjadi faktor penyebab timbulnya keraguan akan legislator dari latar belakang dunia keartisan.
Di antara artis yang akan menjabat lima tahun mendatang terdapat beberapa orang yang sudah menjadi anggota dewan lima tahun terakhir seperti Rachel Maryam (Gerindra), Venna Melinda (Demokrat) dan Okky Asokawati (PPP).
Adapun beberapa artis merupakan <link type="page"><caption> wajah baru</caption><url href="http://www.bbc.co.uk/indonesia/berita_indonesia/2014/10/141001_jelang_lantik_dpr" platform="highweb"/></link> seperti Nico Siahaan (PDIP), Emilia Contesa dan Anang Hermansyah.
Mereka pun berusaha untuk menjalankan amanah rakyat dengan baik, seperti yang diungkap penyanyi era 1970-an Emilia Contesa.
"Untuk menjadi anggota dewan, kita mengeluarkan banyak sekali biaya, waktu dan tenaga. Kemudian Allah berikan kehormatan yang begitu tinggi buat manusia, sayang sekali kalau itu dipakai untuk hal-hal yang justru akan menghinakan kita. Saya akan mensyukuri apa yang Tuhan berikan kepada saya dan saya akan jaga harkat dan martabat dan kehormatan saya supaya tidak terhinakan," kata Emilia.
Tak perlu jadi anggota DPR
Pengamat politik Tobias Basuki mengatakan stigma bahwa artis yang duduk di parlemen diragukan kapasitasnya tidak selalu benar.
“Kalau kita lihat dari dua, tiga periode lalu, memang peran artis mixed result, gak semuanya menunjukkan mereka tetap jadi artis dan kurang ada performa. Sebagian kelihatan cukup baik yah seperti Rieke Diah dan yang lain," tuturnya.
Namun demikian, ia menunjuk sistem perekrutan partai sebagai kunci.
"Tapi yang jadi masalah ini memang tergantung artis, orang ke orang dan terutama yang jadi masalah adalah perekurtan partai," tambahnya.
Modal musisi
Kebanyakan artis yang beralih profesi menjadi politisi mengusung gagasan akan memperjuangkan masalah hak cipta.
Salah satunya penyanyi Anang Hermansyah bertekad menepis anggapan, artis tidak paham dunia politik.
"Yang ingin aku lakukan adalah bagaimana aku melaksanakan tanggung jawab dan bagaimana pun juga, aku bisa bekerja di tempat yang aku paham. Karena itu terjadi karena memang ada teman-teman yang memang bukan di tempat yang dia paham," ujar Anang.
Dia pun beranggapan <link type="page"><caption> modal terkuatnya</caption><url href="http://www.bbc.co.uk/indonesia/berita_indonesia/2014/09/140930_targetdpr" platform="highweb"/></link> untuk berada di DPR adalah 30 tahun pengalamannya sebagai musisi, sehingga dia dapat memperjuangkan royalti dan hak cipta artis.
Tobias berpendapat lain. Ia menilai untuk memperjuangkan hal tersebut, seorang artis tidak perlu duduk di kursi parlemen.
"Kalau dikatakan khusus mengenai hak cipta dan yang lain, kenapa harus ada 15-16 (artis anggota DPR). Dan keliatannya banyak artis yang berdasarkan trend-trend terdahulu, jika periode keartisannya sudah mulai menurun, next kariernya jadi politisi," kata Tobias.









