Pasca banjir, perbaikan jalan butuh Rp2T

Sumber gambar, AP
Kementerian Pekerjaan Umum membutuhkan dana lebih dari Rp2 triliun untuk membenahi 5.000 lubang di jalan dan gorong-gorong akibat banjir dan tanah longsor di seluruh Indonesia.
Perbaikan tersebut tidak hanya dibutuhkan di Jawa, tetapi juga di Sumatera Selatan, Bengkulu, Sulawesi Utara, dan Sulawesi Tenggara.
Kerusakan terparah salah satunya terjadi di <link type="page"><caption> jalur Pantai Utara Jawa (Pantura)</caption><url href="http://www.bbc.co.uk/indonesia/berita_indonesia/2014/01/140121_banjirsubang.shtml" platform="highweb"/></link>, Jawa Barat, terutama di ruas Karawang-Cikampek-Palimanan dan Pananukan-Sewo-Lohbener.
Sementara banjir di Manado, Sulawesi Utara juga merusak infrastruktur jalan dan jembatan, terutama di ruas jalan Manado-Tomohon, Airmadidi-Tonado, Manado-Tumpuan, Tomohon-Kawangkoan, dan jalan Ring Road.
Dari Rp2 triliun, sebesar Rp510 miliar dibutuhkan untuk penanganan kerusakan secara sementara, sedang sisanya diperlukan untuk perbaikan permanen, lapor wartawan BBC Indonesia, Christine Franciska.
"Setelah penanganan sementara, dibutuhkan juga penanganan permanennya. Untuk perbaikan permanen dana yang diperlukan mencapai Rp1,5 triliun," kata Djoko Murjanto, Dirjen Bina Marga, Kementerian PU di Jakarta.
Djoko mengatakan dampak bencana banjir dan longsor terhadap kerusakan jalan pada tahun ini berada "di luar perhitungan teknis" karena dampaknya yang lebih luas dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
"Angka mungkin bisa bertambah karena ini adalah kebutuhan dana per 28 Januari dengan sekitar 5.500 lubang. Angkanya masih bergerak terus, besok belum tentu sama."
Transportasi darat di Indonesia dikliam menjadi jalur paling penting bagi perekonomian karena berkontribusi sebesar 92% terhadap konektivitas dibandingkan jalur udara dan laut.
Padahal idealnya jalur darat hanya berkonrtibusi sekitar 70-75%, sehingga ketika jalur terhambat, moda transportasi laut dan udara bisa menjadi alternatif.









