Rehabilitasi topeng monyet 'harus serius'

Pegiat penyayang binatang mendukung rencana pelarangan atraksi sirkus monyet atau topeng monyet di wilayah Jakarta, namun mereka meminta agar proses pengembalian hewan itu ke habitatnya harus dilakukan secara serius.
Alasannya, monyet-monyet itu telah mengalami trauma akibat dieksploitasi oleh pemiliknya selama bertahun-tahun.
"Ternyata dari seluruh monyet yang kami dapat selama ini, yang bekas topeng monyet, traumanya cukup tinggi, cukup besar," kata pegiat penyayang binatang dari Jakarta Animal Aid Network, JAAN, Femke Den Haas, dalam wawancara dengan wartawan BBC Indonesia, Heyder Affan, Selasa (22/10) siang.
Menurutnya, trauma itu menyebabkan hewan-hewan liar itu kesulitan untuk beradaptasi kembali dengan habitatnya.
"Sangat jauh lebih sulit untuk disosialisasikan kembali ke group yang normal, dengan perilaku yang normal," jelasnya.
Sekitar dua tahun lalu, JAAN pernah dilibatkan Pemerintah DKI Jakarta dalam proses sosialisasi terhadap sekitar 40 ekor monyet yang disita dari pemilik atraksi topeng monyet.
Dibuat cacat
Saat itu, menurut Femke, puluhan monyet itu kemudian ditempatkan di tempat khusus di wilayah Jawa Barat untuk mengikuti proses sosialisasi dengan habitatnya.

"Waduh, kami sendiri sangat kaget monyet-monyet ini benar-benar trauma. Rasa ketakutan itu sangat luar biasa," paparnya.
"Mereka pun dicacatkan. Mereka tidak ada gigi. Jadi mereka tidak bisa membela diri," jelasnya lebih lanjut.
Dari kondisi seperti itulah, JAAT meminta agar proses pengembalian hewan-hewan liar itu harus dilakukan secara serius.
"Jadi mereka membutuhkan perhatian yang khusus dan perhatian yang intensif," kata Femke.
Apabila nantinya monyet-monyet itu ditempatkan di Kebun Binatang Ragunan, Femke meminta agar dibuat tempat khusus buat para monyet bekas pemain sirkus tersebut.
"Kalau (Kebun binatang) Ragunan memang bisa mensiapkan satu lahan, itu bisa didirikan tempat-tempat khusus yang cukup alami," katanya menekankan.
Dipaksa berjalan berdiri
Sejak awal dikritik kelompok penyayang binatang karena dianggap telah memperlakukan monyet-monyet itu secara kejam, atraksi topeng monyet akhirnya akan dilarang di Jakarta.
Pemerintah DKI Jakarta menyatakan akan membeli semua hewan itu dari pemiliknya, setelah proses pendataannya selesai dilakukan dalam pekan-pekan ini.

Nantinya hewan-hewan korban eksploitasi manusia itu akan ditempatkan di Kebun Binatang Ragunan, Jakarta, setelah dirawat lebih dahulu untuk memastikan monyet-monyet itu bebas penyakit.
Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo mengatakan, selain alasan menghentikan eksploitasi terhadap hewan itu, kebijakan ini dilakukan untuk ketertiban dan menghindari penyebaran penyakit rabies.
"Itu demi ketertiban, mengganggu di perempatan, ya menyebar penyakit rabies," kata Gubernur Jokowi kepada wartawan, Senin (21/10).
Belum jelas seperti apa proses pengembalian hewan-hewan itu ke habitatnya di kebun binatang, namun sejauh ini otoritas terkait masih melakukan pendataan jumlah pemilik atraksi sirkus monyet di Jakarta.
Rencananya, Pemerintah DKI Jakarta akan membeli monyet itu dari pemiliknya dengan harga Rp1 juta, sebagai ganti modal usaha. Namun sejumlah pengelola atraksi monyet menolaknya karena dianggap terlalu kecil.
Menurut JAAN, diperkirakan ada 300 ekor monyet di Jakarta dan sekitarnya yang diekploitasi menjadi pemain sirkus jalanan oleh pemiliknya.
Sejumlah laporan menyebutkan, salah-satu latihan yang dianggap para pegiat penyayang binatang sebagai "praktek kejam" adalah memaksa monyet-monyet itu berjalan berdiri dengan mengikat tangannya ke belakang.









