SBY 'satu-satunya' calon Ketum Demokrat

SBY dan Anas Urbaningrum.
Keterangan gambar, SBY dipandang sebagai satu-satunya figur pemersatu setelah era Anas Urbaningrum.

Nama pendiri partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono makin santer disebut sebagai kandidat utama ketua umum partai pemenang pemilu tahun 2009 itu dalam arena Kongres Luar Biasa di Bali yang akan dibuka besok (Sabtu, 30/3).

Demokrat didera konflik kepercayaan publik setelah serentetan skandal korupsi diduga dilakukan para petinggi partai, sejak bendahara partai M Nazaruddin hingga terakhir Andi Mallarangeng dan Anas Urbaningrum, keduanya sempat bersaing untuk jabatan ketua umum partai yang kemudian dimenangkan Anas.

KLB Bali diselenggarakan untuk memilih ketua umum baru setelah Anas dinyatakan berstatus tersangka dalam kasus korupsi pembangunan komplek olahraga Hambalang di Jawa Barat pada Februari lalu.

"Harus dilihat KLB ini dalam konteks penyelamatan partai," kata Wakil Sekjen Partai Demokrat, Ramadhan Pohan.

Pohan menolak menyebut siapa kader lain yang mungkin menyaingi nama SBY dan menyebut masa-masa sekarang ini adalah periode genting untuk kelangsungan partai selanjutnya.

"Kan ada DCS (Daftar Calon Sementara) untuk legislatif yang harus diteken segera, ini perlu tandatangan seorang Ketum definitif," tambahnya.

Dengan kata lain meski mungkin calon ketum lain akan muncul di arena kongres, 754 wakil DPD dan DPC dari daerah sebenarnya hanya membutuhkan sosok ketua umum sebagai simbol pemegang tertinggi mandat partai.

Demokrat juga herus bergegas memilih ketua baru karena tenggat penyerahan DCS pada Komisi Pemilihan Umum adalah 22 April.

"Pertarungan ketua umum seperti dalam arena kongres biasa mungkin baru muncul nanti 2015," lanjut Pohan menyebut tahun akhir masa jabatan ketua umum saat ini.

'Mulai pulih'

Sejak mulai disebut namanya bulan lalu, nama SBY mulanya sempat disandingkan pula dengan nama Ani Yudhoyono serta Bhaskoro Yudhoyono, istri dan anak bungsu presiden yang kini menjabat sebagai Sekjen partai untuk posisi ketua umum.

Namun sosok SBY nampaknya dianggap lebih pas berkenaan dengan perannya melahirkan partai dan otoritasnya yang sangat besar sebagai penentu keputusan partai.

"Yang kita butuhkan sekarang bukan orang yang punya kemampuan, kalau itu ada banyak. Yang kita butuh adalah figur pemersatu," tegas Ahmad Nizar Shihab, anggota Majelis Tinggi Partai Demokrat.

Dalam pandangan mayoritas DPC dan DPD menurut Nizar saat ini sosok tersebut harus diisi oleh Yudhoyono karena perannya dan otoritasnya.

"Dengan kejadian luar biasa lalu (terkait lengsernya Anas Urbaningrum), sekarang kader ingin kembali ke pangkuan panutan. Pak SBY itu kan seperti orang tua, jadi panutan."

Terpilihnya SBY juga diyakini akan mengatrol kepercayaan publik pada partai yang sempat turun drastis beberapa bulan terakhir.

Sejumlah lembaga survey hingga awal tahun ini menyebut popularitas Partai Demokrat terjun bebas dari lebih dari 20 persen pada pemilihan umum 2009 menjadi tinggal delapan persen.

"Tapi saya dengar dari teman-teman, survey terbaru sejak Majelis Tinggi mengambil alih penanganan partai, popularitas sudah mulai pulih jadi sekitar 11 persen," kata Nizar tanpa merinci lembaga survey yang melakukan pencacahan data.

Dengan pulihnya kepercayaan publik pada partai, ditambah kerja keras kader dan caleg turun ke basis konstituen, ia yakin dalam tiga bulan Demokrat akan mampu meraih popularitas di bilangan 15 persen.