Kecelakaan Sukhoi disebabkan 'faktor manusia'

sukhoi indonesia victims
Keterangan gambar, Keluarga korban kecelakaan pesawat Sukhoi Superjet saat pelepasan jenazah di Bandara Halim Perdanakusumah

Kecelakaan pesawat Sukhoi RRJ-95B-97004 Superjet 100 yang menabrak Gunung Salak pada 9 Mei lalu diakibatkan oleh faktor manusia.

Pernyataan itu disampaikan Ketua KNKT Tatang Kurniadi di Jakarta, Selasa (18/12). Menurut Tatang dari sejumlah temuan KNKT mengenai penyebab kecelakaan, dua diantaranya adalah awak pesawat tidak menyadari kondisi jalur penerbangan di kawasan Gunung Salak dan mengabaikan peringatan dari sistem peringatan Terrain Awareness Warning System, TAWS.

Tatang mengatakan 38 detik sebelum pesawat membentur tebing Gunung Salak, TAWS memberikan peringatan.

"Peringatan berupa suara, ‘Terrain Ahead Pull Up’ dan diikuti oleh enam kali ‘avoid terrain’, PIC ( Pilot In Command) mematikan TAWS tersebut karena berasumsi peringatan-peringatan itu diakibatkan oleh database yang bermasalah’", jelas Tatang

Berdasarkan hasil simulasi yang dilakukan setelah kejadian diketahui bahwa TAWS berfungsi dengan baik dan memberikan peringatan dengan benar. Simulasi juga menunjukkan bahwa benturan dapat dihindari jika pilot melakukan tindakan menghindar hingga 24 detik setelah peringatan TAWS yang pertama

Tujuh detik menjelang tabrakan, terdengar peringatan berupa suara "Landing Gear Not Down", yang berasal dari sistem peringatan pesawat.

Menurut Tatang, peringatan itu aktif jika pesawat berada pada ketinggian kurang dari 800 kaki di atas permukaan tanah dan roda pendarat belum diturunkan.

Perhatian teralihkan

sukhoi indonesia victims
Keterangan gambar, Evakuasi korban kecelakaan di Gunung Salak, Bogor.

Kesimpulan investigasi ini juga menyimpulkan radar Jakarta belum dilengkapi dengan Minimum Safe Altitude Warning (MSAW) yg berfungsi untuk daerah Gunung Salak.

Selain itu, Tatang menyatakan adanya pengalihan perhatian awak pesawat karena terlibat dalam percakapan yang tidak terkait dengan penerbangan yang menyebabkan pilot tidak menyadari pesawat keluar dari orbit.

Menurut ketua Tim investigasi Mardjono, percakapan itu seputar konsumsi bahan bakar antara pilot dengan calon pembeli potensial.

Dirjen Perhubungan Udara Herry Bakti S. Gumay mengatakan akan menindaklanjuti rekomendasi KNKT dari aturan dan pengawasannya.

“Dan mungkin dari Angkasa Pura dan demikian juga yang lainnya…Hasil investigasi ini merupakan pelajaran agar tidak terulang kembali.”

Duta Besar Rusia untuk Indonesia Mikhail Galuzin mengatakan pesawat Sukhoi sedang diujicoba di Rusia dan akan didatangkan ke Indonesia dalam waktu dekat.

“Kita bicara mengenai penyempurnaan selanjutnya sistem keselamatan penerbangan, maupun mengenai diperkokohnya kerja sama antara otorita penerbangan Rusia dan Indonesia,” kata Galuzin.

Kecelakaan pesawat purwarupa (prototype) penumpang pertama buatan Sukhoi itu menewaskan 45 orang penumpang dan awak berkebangsaan Indonesia dan asing.