Aktivis LSM Telapak raih penghargaan Magsaysay

Sumber gambar, ramon magsaysay
Aktivis LSM Telapak, Ambrosius Ruwindrijarto, meraih penghargaan Ramon Magsaysay 2012 karena dianggap mampu melakukan upaya penyelamatan hutan dengan melibatkan dan memberdayakan masyarakat.
"Saya dan teman-teman dianggap sudah sejak lama berupaya untuk berkontribusi dalam penanganan kejahatan kehutanan", kata Ambrosius Ruwidrijarto, pendiri LSM Telapak, kepada wartawan BBC Indonesia Heyder Affan, melalui telepon, Kamis (26/07) siang.
Dia mengaku baru mengetahui informasi ini pada Rabu kemarin, setelah pimpinan Ramon Magsaysay langsung menelponnya.
"Apakah saya pantas (menerima penghargaan Magsaysay)... Saya dan teman-teman hanya berupaya sebaik-baiknya, begitu banyak yang belum (kita) capai dan kembangkan," jelas Ruwindrijarto.
Situs resmi Ramon Magsaysay juga menyebutkan, Ambrosius dan rekan-rekannya di LSM telapak dianggap mampu bersikap berani dalam melakukan advokasi dalam sejumlah kasus penghentian penebangan liar di Indonesia.
Ambrosius Ruwindrijarto bersama lima orang asal negara-negara Asia lainnya akan diundang ke Manila, Filipina, untuk memperoleh langsung penghargaan itu pada 25 Agustus nanti.
Hadiah Nobel Asia
Ruwi -- begitu panggilan akrabnya -- merupakan pendiri LSM Telapak pada 1997.
Organisasi ini sejak awal menitikberatkan pada isu persoalan lingkungan (utamanya hutan), masyarakat adat, serta petani dan nelayan.
LSM yang berbasis di Bogor, Jawa Barat ini dikenal melalui kerja investigasi kasus penebangan liar di Taman Nasional Tanjung Puting, Kalimantan Tengah, sejak Agustus 1999.
Sejumlah laporan menyebutkan, temuan Telapak mengungkapkan dugaan keterlibatan perusahaan HPH dan pengolahan kayu dalam penebangan ilegal di Taman Nasional Tanjung Puting.
Dalam situs resmi ramon Magsaysay disebutkan, Ruwi merupakan orang Indonesia ke-22 yang menerima penghargaan ini.
Beberapa nama yang pernah meraih Magsayay Award antara lain Abdurrahman Wahid alias Gusdur, novelis Pramoedya Ananta Toer, wartawan senior Mochtar Lubis, serta mantan pemimpin Muhammadiyah Ahmad Syafii Maarif.
Penghargaan Ramon Magsaysay, yang pertama kali diberikan pada 1957, sering disebut sebagai Hadiah Nobel Asia.
Nama tersebut diambil dari sosok mendiang presiden ketiga Filipina, Ramon Magsaysay, figur pemimpin yang dianggap rendah hati dan sederhana.









