Tujuh awak pesawat Fokker dan tiga warga sipil tewas

Korban tewas kecelakaan pesawat Fokker 27 milik TNI AU menjadi sepuluh orang.

Sumber gambar, AFP

Keterangan gambar, Korban tewas kecelakaan pesawat Fokker 27 milik TNI AU menjadi sepuluh orang.

Korban meninggal dunia akibat kecelakaan pesawat Fokker 27 milik TNI AU yang jatuh di dekat Pangkalan Udara Halim Perdanakusuma, Jakarta, bertambah menjadi sepuluh orang.

Tujuh orang merupakan awak pesawat, sedangkan tiga orang lainnya adalah penghuni rumah di dalam komplek perumahan TNI AU Halim Perdanakusuma yang tertimpa pesawat tersebut.

Dengan demikian, kru pesawat yang semula dinyatakan kritis yaitu ko-pilot Lettu (Pnb) Paulus, akhirnya meninggal dunia.

"Tujuh orang kru pesawat meninggal semua, (dan) tiga orang di rumah (yang tertimpa pesawat dan terbakar) meninggal," kata Kasubdis Penum TNI AU Kolonel Penerbang Agung Sasongko Jati, dalam jumpa pers, Kamis (21/06) petang.

Menurut Agung, korban sipil yang meninggal adalah dua orang anak-anak (yang berusia 6 tahun dan 2 tahun) dan pembantunya.

"Semua korban meninggal dunia adalah keluarga besar TNI AU, yaitu penerbang dan kru, sementara non kru adalah dua anak kecil dan serta seorang pembantu," jelas Agung.

Semua jenazah, menurut Agung, masih diotopsi di RSUP AU Esnawan Antariksa, Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur.

Dicek rutin

Warga menyaksikan sisa reruntuhan rumah yang terbakar setelah tertimpa pesawat Fokker 27 milik TNI AU.

Sumber gambar, Reuters

Keterangan gambar, Warga menyaksikan sisa reruntuhan rumah yang terbakar setelah tertimpa pesawat Fokker 27 milik TNI AU.

Lebih lanjut Agung Sasongko mengatakan, pesawat Fokker 27 yang jatuh menimpa sekitar delapan rumah di kawasan sekitar Lanud Halim Perdanakusuma, tidak mengalami gangguan sebelumnya.

Pesawat itu menurutnya juga rutin dicek dan biasa digunakan mengangkut pejabat dan personil TNI.

"Pesawat dicek rutin tidak ada masalah dan lazim digunakan mengangkut pejabat dan personil TNI," katanya.

Ditegaskan pula, pesawat yang terdaftar dibuat pada 1977 itu tidak mengalami gangguan saat berkomunikasi dengan menara pengawas.

"Komunikasi dengan tower normal, minta take off dan landing," ungkapnya.

Pesawat itu diterbangkan dalam rangka latihan rutin. "Ini latihan lokal saja," katanya.

Latihan rutin itu, imbuhnya, berupa take off dan landing. "Kejadiannya kira-kira setelah take off dan sebelum landing," ungkap Agung.

"Ada informasi (pesawat itu) sudah digunakan pagi hari, dan aman saja. Ini penerbangan kedua," jelasnya.

Evakuasi terhadap badan pesawat yang hancur akan dilanjutkan pada Jumat (22/06) besok.

"Evakuasi itu akan dilakukan setelah selesai (proses) data untuk penyelidikan kecelakaan," tandas Agung.