Batalnya konser Lady Gaga jadi preseden buruk

Pembatalan konser Lady Gaga di Jakarta dapat menjadi preseden buruk bagi industri konser di Indonesia, kata pengamat musik Denny Sakrie.
Kuasa hukum Big Daddy Entertainment, promotor yang mendatangkan Lady Gaga, Minola Sebayang, hari ini (27/05) memastikan konser sang Mother Monster yang sedianya digelar di Jakarta pada 3 Juni mendatang dipastikan gagal karena kealasan keamanan.
Minola mengatakan manajemen Lady Gaga memastikan untuk membatalkan konser di Jakarta karena alasan keamanan, baik keamanan penyanyi tetapi juga penonton.
"Kalau kita lihat yang buruk akhirnya nama Indonesia karena adanya kesimpangsiuran siapa yang berwenang di sini dan untuk industri konser ini preseden buruk karena tidak jelas standarnya seperti apa," kata Denny Sakrie pada BBC Indonesia.
Menurutnya hal ini hanya menunjukkan ketidaktegasan sikap pemerintah Indonesia karena rencana konser awalnya berjalan lancar.
"Penjualan tiket dikawal polisi dan lancar tetapi tiba-tiba ada tekanan dari ormas dan polisi mengikuti keinginan ormas... ini juga yang membuat manajemen menilai keadaan di Indonesia tidak aman," kata Denny.
Awal pekan lalu promotor sempat mengumumkan bahwa sudah ada kompromi antara pihak penyelenggara dan Lady Gaga untuk melakukan sejumlah penyesuaian.
"Tapi pihak ormas mengatakan kalau izin diberikan mereka akan membuat pencegahan di venue [lokasi], berita itu sampai di manajemen Lady Gaga dan mereka berasumsi akan terjadi hal-hal yang tidak diinginkan seperti penonton cedera sehingga mereka memilih membatalkan saja," kata dia.
'Catatan internasional'
Meski gagalnya konser ini tidak serta merta akan mematikan industri konser musik di negeri ini, Denny mengatakan hal ini akan diingat dunia.
"Tidak semua jenis musik dan musisi kontroversial seperti Lady Gaga tetapi kondisi ini membuat nama Indonesia menjadi catatan tersendiri di mata internasional," kata dia.
Para promotor konser di Indonesia, menurut Denny, menginginkan standar regulasi yang benar dan baku.
"Mereka [promotor] ingin kejelasan bagaimana harus bersikap. Jika mereka melanggar regulasi ya mereka terima, tetapi ini tiba-tiba ada satu pihak yang bertindak sebagai polisi moral dan akibatnya runyam di mana-mana," kata Denny.
Salah satu ormas yang paling keras menyuarakan penolakan terhadap konser ini adalah Forum Pembela Islam (FPI).
Ketua DPD FPI Jakarta Habib Salim Alatas pekan lalu mengatakan pada BBC bahwa mereka tidak menginginkan Lady Gaga karena ia adalah pemuja setan dan juga karena busananya dinilai tidak mengikuti norma kesopanan.
Lady Gaga tidak mengumumkan pembatalan ini di akun Twitternya yang diikuti lebih dari 24 juta orang. Kicauan terakhirnya di Twitter adalah "tidak ada yang suci dari sebuah kebencian."
Sementara itu klub penggemar Lady Gaga di Indonesia mengatakan kecewa tetapi mereka bisa mengerti.
"Kita kecewa sekali tapi ikhlas, karena yang membatalkan Gaga... Lebih baik batal dari pada terjadi apa-apa," kata salah seorang pengurus klub itu, Anggiat Sihombing.









