ABK Sinar Kudus dilepaskan perompak

Aparat keamanan Somalia tidak bisa berbuat banyak untuk menghadapi aksi perompak

Sumber gambar, AFP

Keterangan gambar, Aparat keamanan Somalia tidak bisa berbuat banyak untuk menghadapi aksi perompak

Duapuluh WNI awak kapal KM Sinar Kudus telah dibebaskan perompak Somalia, demikian kata perusahaan tempat mereka bekerja.

Dalam konferensi di Jakarta, Minggu malam (1/5), Wakil Direktur Utama PT. Samudera Indonesia David Batubara menyatakan keduapuluh ABK telah memegang kendali penuh atas kapal Sinar Kudus dan kapal mereka telah bergerak meninggalkan perairan Somalia pada pukul 13.10 waktu setempat atau pukul 17.10 WIB.

"Ke-20 awak kapal yang berkewarganegaraan Indonesia dilaporkan berada dalam keadaan selamat dan sehat," kata David.

Manajemen PT Samudera Indonesia dilaporkan telah membayar uang tebusan kepada kawanan perompak Somalia yang menyandera awak kapal sejak 16 Maret 2011.

Seperti dilaporkan media, menurut Kepala Pusat Penerangan Hukum TNI, Laksamana Muda Iskandar Sitompul opsi memberi uang tebusan dipilih demi keselamatan awak kapal.

Sinar Kudus, yang berbobot mati 8.911 ton, dibajak ketika tengah berlayar menuju ke pelabuhan Rotterdam, Belanda, untuk mengantarkan kiriman bahan tambang fero nikel.

Insiden perompakan Sinar Kudus dinilai di luar kebiasaan, karena sekitar 30-50 perompak terlibat dalam aksi tersebut.

WNI ikut disandera

Dalam perkembangan lain, sebanyak 13 WNI termasuk di antara 25 ABK sebuah kapal tanker Korea Selatan berbendera Singapura yang dibajak oleh kawanan perompak Somalia, kata kementerian luar negeri Korea Selatan.

Kawanan perompak dilaporkan naik ke tanker MT Gemini, yang sedang mengangkut minyak kelapa sawit, di perairan di dekat Kenya, negara tetangga Somalia, Sabtu tengah hari (30/4).

MT Gemini yang terdaftar di Singapura tengah mengangkut 28.000 ton minyak kepala sawit mentah (CPO) dari Indonesia dengan tujuan pelabuhan Mombasa, Kenya.

Kapal tersebut kini diduga diarahkan ke perairan Somalia.

Selain warga Indonesia, warga Korea Selatan, Cina, dan Birma mengawaki kapal tanker yang dibajak.

Korea Selatan menempatkan armada angkatan laut di perairan Teluk Aden dengan tugas memperkuat operasi antiperompakan di perairan Somalia dan sekitarnya.

Kemlu Korea Selatan telah membentuk tim untuk memantau situasi, namun pemerintah belum menggerakan AL untuk mengatasi pembajak, lapor kantor berita Yonhap.