Gempa Mentawai telan korban jiwa

Sedikitnya 23 tewas dan ratusan hilang setelah gempa berkekuatan 7,7 pada Skala Richter mengguncang Kepulauan Mentawai, Sumatra Barat, Senin larut malam.
Gelombang pasang yang menyusul gempa menerjang ratusan rumah di sedikitnya dua desa pesisir di Pulau Pagai dan Silabu. Kedua pulau tersebut bagian dari gugusan Kepulauan Mentawai yang terpencil dan berpenduduk jarang.
Sebanyak 23 mayat telah ditemukan dan puluhan orang hilang, kata Ade Edward dari Kepala Bidang Operasi Penanggulangan Bencana Pemda Provinsi Sumatra Barat kepada BBC.
Sedikitnya tujuh orang meninggal dunia hilang akibat gelombang pasang pasca gempa di Pagai Selatan, Kabupaten Kepulauan Mentawai, lapor kantor berita Antara.
Tujuh orang tersebut tewas akibat tersapu gelombang itu adalah warga Desa Muntai yang ketika gelombang datang mereka tengah mencari ikan di pinggir Pantai Pagai Selatan, kata Kepala Penanggulangan Bencana Wilayah Pagai Selatan Joskamatir, Selasa siang (26/10) kepada kantor berita Antara.
Jumlah korban jiwa diperkirakan masih akan terus bertambah.
Gempa berkekuatan 7,7 pada skala Richter berpusat sekitar 20 km di bawah permukaan laut.
Menurut Survei Geologi Amerika Serikat (USGS), gempa bawah laut itu terjadi pada pukul 2142 waktu setempat dengan episentrum 240km barat Bengkulu, atau 280 km selatan Padang.
Kepulauan Mentawai memiliki empat pulau utama, termasuk Siberut, Sipura, Sikakap Utara dan Sikakap Selatan. Kepulauan di sebelah barat Pulau Sumatra itu termasuk kawasan geologis yang aktif.
Pencarian

Malindas Salaleubaja, relawan yang berbicara berbicara kepada BBC dari Pulau Sikakap Utara, mengatakan dia melihat sebuah desa kecil ''tersapu habis'' oleh gelombang pasang.
''Dusun Muntei tersapu habis, banyak yang hilang, dan yang ditemukan baru 40 orang dari 300 orang penduduk, katanya.
''Kondisi kampung itu, tersapu, rumah rumah tidak ada lagi yang berdiri, dan dusun sudah kosong dan masyarakat di desa Muntei sudah mengungsi dari dusun itu,'' tambahnya.
Sedikitnya 160 warga, kebanyakan wanita dan anak-anak, dinyatakan hilang dari desa Betu Monga, kata para pejabat.
Sementara itu, dua mayat korban ditemukan di Pulau Sipora, kata seorang pejabat pemerintah seperti dikutip AFP.
Kepala DPRD Kabupaten Kep Mentawai, Hendri Dori Satoko menyerukan agar pemerintah melakukan tanggap darurat.
''Kita harap pemerintah memperhatikan, karena kondisi sekarang sulit untuk mencapai akses lokasi kejadian. Dan mereka mengharapkan bantuan dari propinsi dan pusat, katanya.
Pagai selatan dan utara berpenduduk sekitar 10 ribu orang. ''Mereka mengungsi ke dataran tinggi. Mereka buat gubuk kecil, dan dipastikan belum ada bantuan,'' kata Hendri.
''Mereka mengungsi dengan keterbatasan, seperti tenda dan makanan, apalagi sebagian dari mereka, kehilangan tempat tinggal karena tersapu tsunami,'' ujarnya.
Tim penolong juga tengah mencari sebuah kapal kecil yang membawa sekelompok warga Australia. Orang-orang tersebut dinyatakan hilang setelah gempa terjadi.
Tenaga penolong dari pemerintah daerah dan juga tim PMI telah bergerak ke kawasan yang terkena dampak gempa dan gelombang pasang.
Sebuah lembaga no-pemerintah yang berkiprah di bidang selancar, SurfAid International, akan mengirim tim pencari dan penolong atau SAR ke kawasan Mentawai, kata Direktur Medis SurfAid, Dave Jenkins, yang sedang berada di Padang, kepada BBC Indonesia.
Kawasan gempa dikenal sebagai tujuan peselancar yang populer.
Pada tahun 1883, kawasan tersebut dilanda gempa mungkin yang mungkin setara dengan gempa Samudara Hindia yang memicu tsunami dahsyat pada Desember tahun 2004.









