Dulmatin anggota senior JI

Dulmatin
Keterangan gambar, Amerika Serikat menawarkan US$10 juta untuk penangkapan Dulmatin

Dulmatin yang juga diketahui sebagai Joko Pitono dan memiliki nama kecil Jenius diyakini merupakan anggota senior kelompok Jemaah Islamiyah (JI).

Dia dituduh merencanakan dan melakukan serangan bom di Bali tahun 2002.

Dulmatin termasuk orang yang paling dicari di Indonesia selama ini.

Penawaran dari Amerika senilai US$10 juta untuk informasi atas penangkapannya hidup atau mati menunjukkan betapa berpengaruhnya dia.

Washington memberikan jumlah yang sama kepada Thailand tahun 2003 karena berperan dalam penangkapan Hambali, yang dijuluki badan intelejen CIA sebagai "Osama Bin Laden" dari Asia Tenggara.

Kematiannya dalam penyergapan aparat Kepolisian 9 Maret 2010 melegakan banyak pihak.

Ahli elektronik

Dulmatin yang lahir di Pemalang, Jawa Tengah tahun 1970 semula bekerja sebagai penjual mobil.

Bom Bali
Keterangan gambar, Dua bom di Bali tahun 2002 menewaskan banyak wisatawan asing

Ketertarikannya terhadap kegiatan militan masih belum diketahui.

Namun dia diyakini murid dari Azahari Husin, salah seorang dalang pengeboman Bali tahun 2002 dan pengeboman lainnya yang tewas tahun 2005.

Dulmatin diduga tidak memiliki pendidikan formal namun dia tampaknya memiliki kemampuan teknik yang signifikan di bawah bimbingan Azahari.

Menurut Asia Pacific Foundation, Dulmatin termasuk sebagian kecil dari anggota Jemaah Islamiyah yang mampu merakit dan meledakan bom khlor dan nitrat.

Dulmatin juga diketahui mengikuti pelatihan militan di Afghanistan kembali ke Indonesia pertengahan tahun 1990-an.

Dia secara berkala mengunjungi sekolah Islam di Solo yang didirikan Abu Bakar Ba'asyir yang dituduh sebagai pemimpin spiritual Jemaah Islamiyah.

Ba'asyir dipenjarakan karena sangkaan persekongkolan pemboman Bali tahun 2002 meskipun dia dibebaskan dari tuduhan itu.

Bom telepon

Nama Dulmatin terkenal di dunia internasional ketika dia disebut sebagai tersangka utama serangan bom di dua klub malam di Bali 12 Oktober 2002.

Dulmatin
Keterangan gambar, Polisi mengumumkan foto Dulmatin sesudah pemboman Bali 2002

Sebanyak 202 orang tewas dalam serangan itu, kebanyakan wisatawan asing.

Dia diyakini meledakkan salah satu bom itu dengan telepon genggam serta membuat rompi bahan peledak untuk pembom bunuh diri.

Bersama Azahari dia merakit bom mobil yang digunakan untuk serangan di Kuta, Bali.

Seperti Azahari dan Noordin Mohamad Top, beberapa pengamat menganggap Dulmatin juga terlibat dalam serangan bom lain di Asia Timur namun kurang yang mengarah kepadanya.

Sejak tahun 2003, dia diyakini berpangkalan di Filipina Selatan untuk melatih militan di kamp-kamp rahasia.

Tahun 2005 dia diyakini telah tewas dalam serangan udara militer Filipina namun informasi itu ternyata salah.

Januari 2007, militer Filipina menyatakan dia terluka dalam bentrokan bersenjata antara tentara dengan milisi Abu Sayyaf meskipun tidak jelas apakah dia terluka parah.

Sejumlah pengamat khawatir Dulmatin dan tokoh JI lainnya Umar Patek membentuk aliansi dengan Abu Sayyaf, kelompok radikal di Filipina Selatan.

Abu Sayyaf diyakini menyediakan perlindungan dan bantuan untuk JI sedangkan JI menyediakan keahliannya dalam perakitan bom.