Penampakan kayu gelondongan yang hanyut bersama banjir di Sumatra

Waktu membaca: 4 menit

Banjir bandang dan longsor yang menerjang 46 kabupaten di tiga provinsi di Sumatra pada pekan lalu telah menewaskan lebih dari 600 orang dan berdampak pada 1,5 juta jiwa, menurut Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).

Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menyebut peristiwa itu dipicu oleh Siklon Senyar, sebuah fenomena alam langka yang menyebabkan hujan ekstrem di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat.

Namun, pegiat lingkungan juga meyakini fenomena alam tersebut bukan satu-satunya penyebab banjir ekstrem.

Walhi menilai bencana ini tak lepas dari masifnya aktivitas industri ekstraktif, mulai dari tambang, perkebunan, dan energi di berbagai lokasi di Sumatra.

Sangkaan itu ternyata kian menguat ketika hamparan kayu gelondongan hanyut terseret bersama kuatnya laju banjir dan terjebak di tengah permukiman warga, sungai, danau, hingga bermuara ke pantai.

Direktorat Jenderal Penegakan Hukum Kehutanan menjelaskan kayu-kayu itu bisa berasal dari beragam sumber, mulai dari pohon lapuk, pohon tumbang, material bawaan sungai, area bekas penebangan liar, bahkan aktivitas yang melanggar hukum termasuk penyalahgunaan Pemegang Hak Atas Tanah (PHAT) dan illegal logging.

Meski begitu, pihaknya masih menelusuri lebih lanjut soal asal muasal kayu gelondongan.

Sementara itu, Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) disebut bakal memanggil Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni pada Kamis (04/12) untuk menjelaskan persoalan tersebut.

Berikut penampakan kayu-kayu gelondongan di berbagai lokasi di Aceh, Sumatra Barat, dan Sumatra Utara.

Aceh

Sumatra Utara

Sumatra Barat