Fakta-fakta polisi tembak polisi di Solok Selatan diduga terkait tambang ilegal

Petugas provost mengawal tersangka AKP Dadang Iskandar saat konfrensi pers di Mapolda Sumatera Barat, di Padang, Sabtu (23/11).

Sumber gambar, Antara Foto

Keterangan gambar, Petugas provost mengawal tersangka AKP Dadang Iskandar saat konfrensi pers di Mapolda Sumatera Barat, di Padang, Sabtu (23/11).
Waktu membaca: 10 menit

Seorang polisi ditembak sesama anggota polisi di Solok Selatan, Sumatra Barat, diduga terkait kasus tambang ilegal. LBH Padang mendesak kasus ini diungkap secara transparan, terutama soal dugaan konflik kepentingan polisi terhadap tambang ilegal.

Kepala Satuan Reserse Kriminal Polres Solok Selatan, AKP Ulil Riyanto tewas ditembak oleh rekannya sesama polisi, AKP Dadang Iskandar pada Jumat (22/11) dini hari.

Dadang—yang menjabat sebagai kepala bagian operasional—diduga bertentangan dengan penindakan yang dilakukan Ulil terhadap tambang yang diduga ilegal di wilayah Solok Selatan.

Setelah menembak rekannya hingga tewas, AKP Dadang Iskandar menembaki rumah dinas Kapolres Solok Selatan, AKBP Arief Mukti.

Penyidik telah menetapkan AKP Dadang sebagai tersangka dan menjeratnya dengan pasal pembunuhan berencana. Dia menghadapi ancaman hukuman pidana mati atau pidana penjara seumur hidup atau selama paling lama 20 tahun.

Sebanyak tujuh orang telah diperiksa terkait kasus ini hingga Sabtu (23/11).

Kapolri Jendral Pol Listyo Sigit Prabowo memerintahkan Kapolda Sumatra Barat Inspektur Jenderal Suharyono mengusut tuntas kasus ini.

Sementara ketua Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Padang Indira Suryani mendesak agar kasus ini diungkap secara transparan, terutama soal dugaan konflik kepentingan anggota polisi terhadap tambang ilegal.

“Ini tamparan hebat bagi Polda Sumbar, gagal mengatasi kalau memang benar ada bekingan, jadi dampaknya ke internal polisi sendiri,” kata Indira ketika dihubungi.

Apa saja fakta-fakta yang sudah diketahui sejauh ini dan apa motif penembakan tersebut?

Kepala Satuan Reserse Kriminal Polres Solok Selatan, AKP Ulil Riyanto tewas ditembak oleh rekannya sesama polisi, AKP Dadang Iskandar pada Jumat (22/11) dini hari.

Sumber gambar, Detik.com/Nur Hidayat Said

Tewas saat tangani kasus tambang ilegal

Kapolda Sumatra Barat, Inspektur Jenderal Suharyono, mengatakan insiden ini terjadi saat dilakukan kegiatan penindakan tambang ilegal.

"Tanpa diduga sebelumnya, salah satu perwira dalam posisi kontra terhadap penegakan hukum,” ujar Suharyono dalam konferensi pers di Padang, Jumat (22/11).

Motif penembakan ini masih didalami lebih lanjut. Namun yang jelas, AKP Ulil belakangan sedang menangani penertiban tambang-tambang jenis galian C yang diduga ilegal di wilayah hukum Polres Solok Selatan.

“Beberapa di antaranya memang berizin, tapi kami juga sedang mendalami sampai detik ini yang dapat [dilakukan lewat] upaya hukum apakah yang berizin atau tidak berizin," kata Suharyono.

Kapolda Sumatra Barat Inspektur Jenderal Suharyono

Sumber gambar, Halbert Caniago

Keterangan gambar, Kapolda Sumatra Barat Inspektur Jenderal Suharyono mengatakan AKP Dadang kontra terhadap penindakan hukum kasus tambang ilegal

"Dari beberapa, kami akui ada izin. Di satu sisi, itu memunculkan pro kontra saat penegakan hukum itu dilakukan."

Menurutnya, AKP Dadang berada dalam posisi menentang dengan penegakan hukum yang dilakukan Ulil dan timnya.

“Ini sesuatu yang tidak kami duga karena awalnya penegakan hukum ini sudah kami apresiasi, bahkan AKP Ulil ini sudah kami beri penghargaan,” tuturnya.

Suharyono mengaku sudah dua kali bertemu dengan AKP Ulil di rumah. Menurutnya, Ulil juga telah mendapat apresiasi atas prestasinya Ulil menindak tambang galian C yang diduga ilegal.

Baca juga:

Ulil baru bertugas di Polres Solok Selatan selama kurang lebih satu tahun, sedangkan Dadang sudah menjadi penjabat sementara di sana selama tiga tahun.

Dalam perkembangan terbaru, Direktur Reserse Kriminal Umum (Direskrimum) Polda Sumbar, Kombes Pol Andri Kurniawan, menjelaskan motif AKP Dadang melakukan penembakan lantaran merasa tak senang dengan penindakan hukum yang dilakukan AKP Ulil terkait tambang ilegal.

"Untuk motif penembakan itu dari pengakuan tersangka karena ada rekanannya yang ditangkap oleh Satreskrim Polres Solok Selatan," ujar Andri Kurniawan dalam konferensi pers pada Sabtu (23/11).

Polda Sumbar menetapkan Kabag Ops Polres Solok Selatan AKP Dadang Iskandar sebagai tersangka penembakan terhadap Kasatreskrim Polres Solok Selatan AKP Ryanto Ulil Anshari hingga tewas

Sumber gambar, Antara Foto

Keterangan gambar, Polda Sumbar menetapkan Kabag Ops Polres Solok Selatan AKP Dadang Iskandar (tengah) sebagai tersangka penembakan terhadap Kasatreskrim Polres Solok Selatan AKP Ryanto Ulil Anshari hingga tewas.

Rekanan yang dimaksud adalah seorang sopir yang membawa hasil tambang galian C yang ditangkap oleh tim Satreskrim Polres Solok Selatan beberapa jam sebelum kejadian penembakan.

"Tersangka ini meminta tolong agar rekanannya itu dibebaskan. Karena tidak ada tanggapan, maka dia melakukan penembakan itu," jelas Andri.

Kendati begitu, lanjut Andri, Polres Solok Selatan hingga kini belum mengungkap pemilik tambang yang ditindak oleh tim AKP Ulil.

"Untuk hal itu masih kami dalami dan untuk proses penindakan tambang ilegal itu masih ditangani oleh tim Satreskrim Polres Solok Selatan," cetusnya.

Tujuh orang diperiksa

Direktur Reserse Kriminal Umum (Direskrimum) Polda Sumbar, Kombes Pol Andri Kurniawan, kemudian menjelaskan sebanyak tujuh orang telah diperiksa, termasuk tersangka, hingga Sabtu (23/11).

Dua orang yang menangani kasus tambang ilegal bersama AKP Ulil dan Kapolres Solok Selatan, AKBP Arief Mukti, termasuk mereka yang diperiksa, kata Andri.

Andri menjelaskan bahwa setelah AKP Dadang menembak korban, dia langsung pergi ke rumah dinas kapolres yang berjarak sekitar 20-25 meter dari tempat parkir yadan melepaskan beberapa tembakan di dalam rumah dinas tersebut.

"Saat kejadian, kapolres berada di dalam rumah dinas itu. Tetapi dalam pengakuannya ia tidak sempat bertemu dengan pelaku," jelas Andri.

Menurut Andri, rumah dinas Kapolres hanya sekitar 20 sampai 25 meter saja dari tempat parkir yang menjadi lokasi penembakan AKP Ulil.

Direktur Reskrim Umum Polda Sumbar, Kombes Pol Andri Kurniawan (kiri) menunjukan barang bukti penembakan polisi di Mapolda Sumatera Barat, di Padang, Sabtu (23/11).

Sumber gambar, Antara Foto

Keterangan gambar, Direktur Reskrim Umum Polda Sumbar, Kombes Pol Andri Kurniawan (kiri) menunjukan barang bukti penembakan polisi di Mapolda Sumatera Barat, di Padang, Sabtu (23/11).

Dalam pemeriksaan lebih lanjut, Polda Sumbar menemukan enam selongsong peluru di rumah dinas Kapolres Solok Selatan, AKBP Arief Mukti.

"Ada sebanyak enam selongsong peluru yang kita temukan di dalam rumah dinas Kapolres saat melakukan olah Tempat Kejadian Perkara (TKP) kemarin," kata Andri.

Andri mengungkapkan, selongsong peluru yang ditemukan itu berasal dari senjata yang digunakan oleh AKP Dadang setelah menembak AKP Ulil.

"Kami juga menemukan sebanyak tujuh lubang bekas tembakan di dalam rumah dinas Kapolres Solok Selatan," katanya.

"Selongsong peluru yang ditemukan totalnya dua di TKP penembakan Kasat Reskrim dan enam di dalam rumah dinas Kapolres," lanjutnya kemudian.

polisi tembak polisi

Sumber gambar, ANTARAFOTO

Keterangan gambar, Kapolri Jenderal Pol Listyo Sigit Prabowo (tengah) bersiap mengikuti rapat kerja dengan Komisi III DPR di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (11/11/2024).

Di tempat terpisah, Kapolri Jendral Pol Listyo Sigit Prabowo memerintahkan Kapolda Sumbar, Suharyono mengusut tuntas kasus ini.

"Saya minta untuk mendalami motifnya. Namun, yang jelas, saya sudah perintahkan agar kasus itu diproses tuntas," kata Listyo.

Ia juga membantah pembunuhan polisi oleh polisi ini dilatarbelakangi konflik internal.

"Saya kira bukan masalah konflik internal ya. Proses sudah didalami, Propam Polri kita turunkan," tambahnya.

Baca juga:

Bareskrim Mabes Polri juga ikut menyelidiki kasus penembakan yang dilakukan Kabag Ops Polres Solok Selatan, AKP Dadang Iskandar terhadap Kasat Reskrim APK Ulil Riyanto Anshari.

"Tim kita sudah berangkat [ke lokasi] baik dari Inafis dan Dittipidum," kata Kabareskrim Polri, Komjen Wahyu Widada.

Tambang ilegal masif di Solok Selatan

Solok Selatan adalah salah satu wilayah yang paling banyak ditemukan tambang ilegal.

Menurut catatan Komunitas Konservasi Indonesia (KKI) Warsi pada 2020, wilayah ini telah kehilangan tutupan hutan sebanyak 4.795 hektare akibat tambang ilegal. Jumlahnya pun masih terus bertambah pada tahun-tahun berikutnya.

Ketua LBH Padang Indira Suryani menduga kondisi itu langgeng lantaran tambang-tambang ilegal tersebut dibekingi oleh aparat.

"Polisi tidak mungkin tidak tahu ada tambang-tambang ilegal karena itu sangat kasat mata dan diketahui oleh umum," tutur Indira ketika dihubungi.

Kalau kasus ini terbukti dipicu oleh "bekingan" terhadap tambang ilegal, LBH Padang mendesak agar Kapolda Sumbar dan Kapolri Jenderal Listyo Sigit menindaknya dengan serius.

Dia juga meminta agar kasus ini ditangani secara transparan, tidak ditutup-tutupi, dan tidak dipandang sebagai masalah internal semata.

"Kalau memang benar ini karena ada bekingan, ini tamparan hebat bagi Polda Sumbar, gagal mengatasi bekingan, jadi dampaknya ke internal polisi sendiri," ujar Indira.

Ditembak dua kali dari jarak dekat

Suharyono mengatakan Ulil ditembak di area Mapolres Solok Selatan sebanyak dua kali dari jarak dekat.

"Diperkirakan dari hasil visum dokter itu dua kali di bagian pelipis dan pipi menembus bagian tengkuk," jelas Suharyono.

“Itu di saat berada di ruangan identifikasi, saat akan mengambil handphone di kendaraannya, diikuti oleh pelaku, ditembak dengan cara yang sangat tidak manusiawi, akhirnya tewas di tempat."

Peti jenazah AKP Ulil, korban polisi tembak polisi di Solok Selatan

Sumber gambar, Halbert Caniago

Keterangan gambar, AKP Ulil akan dimakamkan di kampung halamannya di Makassar, Sulawesi Selatan

Dia juga mengatakan bahwa senjata api yang digunakan pelaku adalah senjata dinasnya sebagai kepala bagian operasional.

Hasil pemeriksaan sejauh ini menunjukkan bahwa senjata tersebut berisi 15 peluru, namun sembilan peluru sudah ditembakkan.

“Dari sembilan itu, dua ditemukan di tubuh korban, tujuh lagi sedang kami selidiki,” tuturnya.

Tersangka akan dipecat secara tidak hormat

AKP Dadang Iskandar diklaim telah menyerahkan diri ke Polda Sumbar pada Jumat (22/11) sekitar pukul 03.30 WIB.

MenurutKapolda Sumatra Barat Inspektur Jenderal Suharyono , Dadang akan dipecat secara tidak hormat.

“Dalam minggu ini kami upayakan sudah ada proses PTDH (pemberhentian tidak dengan hormat). Setidak-tidaknya sampai tujuh hari ke depan,” kata Suharyono.

“Saya sudah melaporkan ke pimpinan Polri, ini tindakan yang tegas kepada siapa pun yang menghalang-halangi penegakan hukum yang mulia ini,” ujarnya.

Petugas provost menggiring tersangka AKP Dadang Iskandar saat konfrensi pers di Mapolda Sumatera Barat, di Padang, Sabtu (23/11).

Sumber gambar, Antara Foto

Keterangan gambar, Petugas provost menggiring tersangka AKP Dadang Iskandar saat konfrensi pers di Mapolda Sumatera Barat, di Padang, Sabtu (23/11).

Keluarga syok dan diselimuti duka

Mata Alphis Rudi berkaca-baca saat melihat keponakan kesayangannya terbujur kaku di dalam peti yang sudah ditutup dengan bendera merah-putih di Rumah Sakit Bhayangkara Polda Sumbar pada Jumat (22/11).

Laki-laki berpangkat jenderal TNI itu tampak menahan tangis saat peti itu dibuka dan melihat jenazah keponakannya telah menggunakan pakaian rapi dengan sebuah pad berwarna cokelat di dadanya.

"Yang ingin saya nyatakan hanya satu, polisi baik melawan polisi jahat, yang menang polisi jahat," katanya saat diwawancarai wartawan Halbert Caniago yang melaporkan untuk BBC News Indonesia.

AKP Ulil, korban polisi tembak polisi di Solok Selatan

Sumber gambar, Halbert Chaniago

Keterangan gambar, Alphis Rudi, paman dari AKP Ulil menengok jasad keponakannya di Padang pada Jumat (22/11)

Rudi enggan untuk bertutur lebih banyak, hanya kekecewaan yang terpancar dari wajahnya yang memerah usai terpapar sinar matahari saat upacara pelepasan jenazah yang dilakukan oleh Polda Sumbar.

Di Makassar, Sulawesi Selatan, ibu dari Ulil juga disebut syok setelah mengetahui putranya tewas ditembak oleh rekannya sendiri.

"Tentunya kami sangat prihatin, kaget. Tidak disangka ini anak pergi dengan peristiwa kejadian macam itu. Anak ini, kan, melaksanakan tugas dengan baik," ujar paman korban, AKBP (Purn) Joni Mangin dilansir dari Detik.com.

Jenazah Ulil rencananya akan dimakamkan di kampung halamannya di Makassar.

Keluarga dan kerabat berada di samping peti jenazah Kasat Reskrim Polres Solok Selatan AKP Ulil Ryanto Anshari saat tiba di rumah duka, Makassar, Sulawesi Selatan, Sabtu (23/11/2024) dini hari.

Sumber gambar, Antara Foto

Keterangan gambar, Keluarga dan kerabat berada di samping peti jenazah Kasat Reskrim Polres Solok Selatan AKP Ulil Ryanto Anshari saat tiba di rumah duka, Makassar, Sulawesi Selatan, Sabtu (23/11) dini hari.

Kasus berulang polisi tembak polisi

Lewati Whatsapp dan lanjutkan membaca
Akun resmi kami di WhatsApp

Liputan mendalam BBC News Indonesia langsung di WhatsApp Anda.

Klik di sini

Akhir dari Whatsapp

Pegiat hukum dan HAM mendesak agar Kapolri Jenderal Listyo Sigit memberi atensi serius pada kasus ini, terutama perihal motif di baliknya yang diduga terkait dengan "perlindungan anggota polisi terhadap penjahat lingkungan".

"Dengan adanya penembakan dalam kasus ini mengkonfirmasi bahwa kecurigaan-kecurigaan masyarakat terhadap adanya keterlibatan polisi dalam membekingi aktivitas pertambangan di Sumatera Barat baik legal maupun ilegal, patut diduga keras benar adanya," kata Ketua Perhimpunan Bantuan Hukum Indonesia (PBHI) Sumatra Barat, Ihsan Riswandi.

Ihsan juga menyoroti soal penyalahgunaan senjata api dalam kasus ini untuk melakukan tindakan kekerasan.

Senada, pengamat kepolisian dari dari Institute for Security and Strategic Studies (ISESS) Bambang Rukminto mengatakan tindakan AKP Dadang menunjukkan indikasi “pragmatisme dan materialisme yang melingkupi institusi Polri”.

Wujud nyata di lapangannya, menurut Dadang, adalah prilaku menerobos aturan untuk mengumpulkan kekayaan.

polisi tembak polisi

Sumber gambar, ADITYA AJI/AFP via Getty Images

Keterangan gambar, Kasus polisi tembak polisi yang melibatkan Irjen Ferdy Sambo dan anak buahnya Yosua Hutabarat telah menyita perhatian publik.

“Salah satunya menjadi beking usaha ilegal mulai dari tambang, logging, fishing, maupun judi online,” kata Bambang.

Pada akhirnya, muncul tindak kekerasan yang berdasar pada pragmatisme itu.

Menurut Bambang, kasus ini adalah imbas dari ketidaktegasan pimpinan tertinggi kepolisian dalam menegakkan peraturan internal dan tebang pilih penegakan hukum sehingga memicu korban dari jajarannya sendiri.

Apa yang terjadi pada AKP Ulil juga menambah deret kasus kematian di internal kepolisian yang disebabkan konflik sesama polisi.

Pada 23 Juli 2023, Bripda Ignatius Dwi Frisco tewas diduga akibat kelalaian dua rekannya yang ingin menunjukkan senjata api.

Namun ketika dikeluarkan dari tas, senjata itu meletus dan mengenai leher Bripda IDF sehingga dia meninggal dunia.

Kemudian pada 2022, Brigadir Yoshua Hutabarat tewas ditembak oleh rekannya sesama polisi atas perintah atasan mereka, Ferdy Sambo.

Kasus itu mendapat sorotan publik lantaran ada upaya menghalang-halangi penyidikan yang dilakukan oleh Sambo dan orang-orang dekatnya di Polri.

Sambo kini menjalani vonis hukuman penjara seumur hidup karena dinyatakan terbukti bersalah melakukan pembunuhan berencana.

Berita ini akan terus diperbarui...