ISIS tak lagi gencar lancarkan serangan di dunia, bagaimana aktivitas jaringannya di Indonesia?

ISIS

Sumber gambar, Reuters

Serangan kelompok Negara Islam (ISIS), yang pernah menguasai wilayah yang membentang luas dari timur laut Suriah hingga Irak bagian utara, telah menunjukkan tanda-tanda penurunan yang signifikan pada tahun 2023, menurut data yang dikumpulkan oleh BBC Monitoring.

Aktivitas ISIS mengalami penurunan lebih dari 53% dibandingkan tahun lalu. Kelompok ini juga kehilangan sejumlah pemimpin dalam beberapa tahun terakhir.

Afiliasi kelompok ini di Mesir tidak lagi aktif tahun ini, sama seperti afiliasi kelompok ISIS di Libya dan Yaman, yang sudah tak aktif sebelumnya.

Sementara itu, afiliasinya di Afghanistan mengaku bertanggung jawab atas sebagian kecil dari serangan yang diklaim ISIS.

Serangan afiliasi kelompok ini di Afrika juga mengalami penurunan, kecuali cabang Sahel – yang berkembang di Mali timur – yang mengeklaim serangan besar di Niger, dan berfokus pada kegiatan propaganda.

Berikut ini adalah sejumlah yang kita ketahui tentang serangan ISIS dan aktivitas afiliasinya di Indonesia.

Apa yang kita ketahui tentang serangan ISIS?

ISIS mengeklaim telah melancarkan 838 serangan secara global pada 1 Januari hingga 30 November tahun ini, turun 53% ketimbang serangan yang mereka lakukan pada periode yang sama tahun lalu, sebanyak 1.811 serangan.

Analisis dan temuan tentang jumlah serangan ini didasarkan pada pengumpulan data BBC Monitoring dari klaim resmi ISIS – dengan demikian, angka-angka itu mungkin dilebih-lebihkan atau justru lebih sedikit dari jumlah sebenarnya – dan berdasar pesan dan propaganda resmi ISIS, serta informasi dari para pendukungnya.

Lewati Whatsapp dan lanjutkan membaca
Akun resmi kami di WhatsApp

Liputan mendalam BBC News Indonesia langsung di WhatsApp Anda.

Klik di sini

Akhir dari Whatsapp

Pada puncak kejayaannya, kelompok ini menguasai sebagian besar wilayah Suriah dan Irak. Akan tetapi, pada 2017, kelompok ini telah kehilangan 95% wilayahnya.

Pada tahun 2019, koalisi internasional yang dipimpin oleh AS dan kelompok milisi Kurdi menguasai desa Baghuz, benteng terakhir ISIS di Suriah. Apa yang terjadi kemudian adalah serangkaian kekalahan yang menyebabkan kemunduran kelompok tersebut.

Baca juga:

Sejak itu, ISIS fokus membangun jaringan di Afrika, untuk mengalihkan perhatian dari kekalahannya di Timur Tengah. Di antara kelompok yang terafiliasi dengan ISIS adalah Pasukan Demokratik Sekutu (ADF) di Uganda.

ISIS masih melakukan operasi pemberontakan di Irak dan Suriah dan memiliki jaringan di Asia, Afrika dan Timur Tengah. Betapapun, tampak ada penurunan signifikan dalam aktivitas mereka.

Pada bulan Maret silam, ISIS berusaha menjustifikasi penurunan serangannya dengan mengatakan bahwa mereka tidak secara terbuka mengeklaim semua serangan yang mereka lakukan, sering kali karena alasan keamanan.

Jaringan ISIS yang berbasis di Sinai, Mesir, mengeklaim tak melakukan serangan apa pun pada tahun ini. Padahal, pada tahun lalu, mereka mengeklaim melakukan 102 serangan – termasuk operasi di dekat Terusan Suez pada akhir tahun 2022 – yang menunjukkan bahwa kelompok tersebut mendapat pukulan telak dari angkatan bersenjata Mesir.

ADF

Sumber gambar, Getty Images

Keterangan gambar, Serangan kelompok ADF yang terafiliasi dengan ISIS semakin sering terjadi sejak Maret 2020.

Serangan yang dilakukan ISIS oleh afiliasinya di Afghanistan juga menurun, dengan kelompok tersebut mengeklaim melakukan 20 serangan pada 2023. Pada tahun-tahun sebelumnya, kelompok itu melakukan 145 serangan pada 2022 dan 293 serangan pada 2021, tahun ketika Taliban kembali berkuasa.

Di Irak, ISIS mengeklaim bertanggung jawab atas 141 serangan pada 2023, dibandingkan dengan 401 serangan pada periode yang sama tahun lalu, menandai penurunan serangan sebesar 65%.

Kelompok ini juga mengeklaim melakukan 112 serangan di Suriah pada tahun ini, turun dari 292 serangan pada tahun lalu.

Mengapa ISIS berkembang di Afrika?

ISIS telah mengalihkan propagandanya untuk fokus pada “ekspansi” dan “kemenangan” di Afrika sub-Sahara. Kelompok itu memiliki lima jaringan di wilayah tersebut: jaringan Afrika Barat (ISWAP) yang berfokus diNigeria, jaringan Afrika Tengah yang berfokus di Kongo – yang kadang-kadang melakukan serangan ke Uganda – jaringan Sahel, jaringan Mozambik, dan jaringan Somalia.

Jaringan yang paling aktif adalah ISWAP, yang sebagian besar beroperasi di timur laut Nigeria dan wilayah sekitar Danau Chad. Akan tetapi, pada 2023, aktivitas mereka juga menurun.

Kelompok ini mengeklaim bertanggung jawab atas 470 serangan pada 2022, dan 266 serangan pada tahun 2023.

ADF, ISIS

Sumber gambar, Getty Images

Keterangan gambar, Pasukan Angkatan Darat Kongo dan pasukan PBB memeriksa lokasi serangan ADF di Uganda, pada 9 April 2021.

Jaringan ISIS di Afrika Tengah dan Mozambik juga mengeklaim serangan yang lebih sedikit ketimbang tahun lalu, meskipun mereka tetap menjadi ancaman utama.

Kedua jaringan ini terus mengeklaim serangan terhadap kekuatan lokal dan regional serta sasaran empuk, yaitu warga desa Kristen.

Jaringan ISIS di Afrika Tengah juga mengeklaim empat serangan tahun ini di Uganda, salah satunya menewaskan dua wisatawan dan pemandu mereka.

Boko Haram

Sumber gambar, AFP

Keterangan gambar, Kelompok milisi Boko Haram menyatakan afiliasinya dengan ISIS pada 2015.

Akan tetapi, kelompok itu mengaku tidak bertanggung jawab atas serangan mematikan yang terjadi pada Juni silam terhadap sebuah sekolah menengah di Uganda barat. Banyak pihak menyalahkan ISIS atas serangan tersebut.

Secara keseluruhan, jumlah serangan yang diklaim ISIS dari cabang-cabangnya di Afrika sub-Sahara turun menjadi 508 serangan pada tahun 2023, dari total 847 serangan pada tahun sebelumnya.

Namun, jumlah ini masih mencakup 60% dari seluruh serangan ISIS secara global – proporsi terbesar di Afrika hingga saat ini.

Bagaimana dengan wilayah lain?

Menurut data yang dikumpulkan oleh BBC Monitoring, cabang ISIS di wilayah Sahel dan Filipina lebih aktif tahun ini.

Jaringan ISIS dilaporkan telah berkembang di Mali timur, dekat perbatasan dengan Niger sejak April. Perkembangan kelompok ini terjadi di tengah gejolak politik dan keamanan yang sedang berlangsung di negara-negara Sahel, yang sering dieksploitasi oleh para ekstremis.

Antara Juli dan Oktober, ISIS merilis laporan dan foto-foto yang menunjukkan “kampanye militer” yang diduga dilakukan kelompok tersebut sejak Mei untuk “memerangi kejahatan” dan menegakkan “keadilan”.

Baca juga:

Materi propaganda mereka tampaknya mempromosikan hukum Syariah di daerah perbatasan antara Mali dan Niger, dan bertindak sebagai otoritas lokal secara de facto.

Di Niger, menyusul kudeta pada bulan Juli di negara tersebut, ISIS mengeklaim bertanggung jawab atas serangkaian serangan yang memakan korban massal terhadap tentara di bagian barat negara tersebut.

Satu serangan pada awal Oktober dilaporkan menewaskan sekitar 60 tentara, yang mendorong pemerintah Niger mengumumkan tiga hari berkabung.

Sejak tahun 2014, ISIS juga telah menerima janji setia dari kelompok milisi di Asia Tenggara.

Daulah Islamiyah-Maute

Sumber gambar, LANAO DEL SUR PROVINCIAL GOVERNMENT

Keterangan gambar, Serangan di sebuah gereja di Filipina awal Desember silam diduga kuat dilakukan oleh kelompok Daulah Islamiyah-Maute yang terafiliasi dengan ISIS

Afiliasi kelompok ini di wilayah tersebut sebagian besar aktif di pulau-pulau di Filipina selatan, wilayah dengan mayoritas penduduk Muslim di negara yang mayoritas penduduknya beragama Kristen.

Sejak Juli, jaringan kelompok tersebut mengeklaim telah melakukan 20 serangan pada tahun ini, lebih banyak dibandingkan dengan tujuh serangan pada tahun 2022.

ISIS juga mengaku bertanggung jawab atas serangan pada misa Katolik di Filipina selatan pada tanggal 3 Desember dan mengeluarkan seruan untuk merekrut anggota di wilayah tersebut.

Bagaimana aktivitas afiliasi ISIS di Indonesia?

Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) mengeklaim sepanjang 2023 nihil serangan teror oleh jaringan terorisme di Indonesia, baik yang terafiliasi dengan ISIS maupun al-Qaeda.

Kepala BNPT Rycko Amelza Dahniel menyebutkan sebanyak 148 terduga teroris ditangkap oleh jajaran Detasemen khusus (Densus) 88 Antiteror Polri bersama TNI sepanjang tahun 2023.

Rycko mengatakan ratusan terduga teroris yang ditangkap tersebut berasal dari kelompok Jemaah Islam Indoensia (JII) dan Jamaah Ansaarut Daulah (JAD).

Baca juga:

"Sebanyak 148 teroris telah ditangkap sepanjang tahun 2023, didominasi oleh kelompok JII dan JAD," kata Rycko saat menyampaikan rilis akhir tahun BNPT di Sentul, Jawa Barat, Jumat (29/12), seperti dikutip dari kantor berita Antara.

Menurut Rycho, JII dan JAD merupakan dua jaringan teroris terbesar di Indonesia yang terafiliasi langsung dengan kelompok teror dunia al-Qaeda dan ISIS.

Penangkapan 148 teroris itu, klaim Rycko, berjalan linier dengan menurunnya aksi terorisme di Indonesia.

Penangakapan itu antara lain yang dilakukan Densus 88 terhadap 40 terduga anggota JAD pada akhir Oktober silam. Mereka dituduh ingin gagalkan pemilu.

Densus 88

Sumber gambar, Getty Image

Keterangan gambar, Ilustrasi penangkapan terduga teroris oleh Densus 88

Pengamat terorisme dari Universitas Malikussaleh, Al Chaidar, mengatakan banyak afiliasi ISIS yang ada di Indonesia mengalami "keruntuhan dan kerontokan".

"JAK (Jamaah Ansharu Khilafah) misalnya, sudah tidak mau lagi memperjuangkan ISIS," jelas Al Chaidar kepada BBC News Indonesia.

Alasannya, kata Al Chaidar, "radikalisme gaya ISIS tidak masuk akal". Selain itu, konflik di dalam tubuh organisasi ISIS juga disebutnya "sangat intens".

Apa yang kita ketahui tentang para pemimpin ISIS?

Kelompok ini baru-baru ini mengalami kehilangan besar di jajaran kepemimpinannya.

ISIS kehilangan tiga pemimpin hanya dalam waktu satu tahun, semuanya tewas di Suriah antara Februari 2022 dan April 2023.

Menyusul tewasnya Abu Bakr al-Baghdadi dalam serangan AS pada 27 Oktober 2019, kelompok tersebut dipimpin oleh Abu Ibrahim al-Hasimi al-Qurashi, kemudian Abu al-Hasan al-Qurashi, dan selanjutnya Abu al-Hussein al-Qurashi.

Para pemimpin ini tidak memiliki hubungan kekerabatan – nama belakang "al-Quraishi" merujuk pada suku Quraisy di Mekkah yang memiliki hubungan dengan Nabi Muhammad.

Abu Bakr al-Baghdad

Sumber gambar, Anadolu/Getty Images

Keterangan gambar, Abu Bakr al-Baghdadi tewas dalam serangan AS pada 27 Oktober 2019

Sejak kelompok ini mendeklarasikan diri sebagai “kekhalifahan” pada bulan Juni 2014, mereka terus menyebut pemimpin mereka sebagai “khalifah”, yang pertama adalah al-Baghdadi.

Pada bulan Agustus 2023, ISIS menghadirkan pemimpin baru, Abu Hafs al-Hashimi al-Qurashi, namun hanya sedikit yang diketahui tentangnya dan sejauh ini dia belum pernah tampil di publik untuk memberikan pernyataan tentang kepemimpinannya.

ISIS juga kehilangan beberapa komandan utamanya, khususnya di Suriah dan Irak, sebagian besar karena serangan koalisi yang dipimpin AS.

Pada bulan Agustus, militer Mozambik mengatakan mereka telah membunuh pemimpin ISIS di wilayah tersebut, namun ISIS jarang berkomentar mengenai pembunuhan pemimpinnya, kecuali dalam kasus “khalifah” dan juru bicaranya.

Apa dampak perang di Gaza?

Operasi militer melawan ISIS dan persaingan dari kelompok-kelompok saingan di beberapa negara termasuk Somalia, Sahel, wilayah Danau Chad, dan Suriah diyakini menjadi salah satu faktor yang berkontribusi terhadap penurunan aktivitas kelompok tersebut.

Hilangnya kepemimpinan – dan anonimitas dari kepemimpinan saat ini – juga dianggap sebagai faktor utama.

Akan tetapi, ratusan serangan ISIS, terutama di Afrika, masih terjadi dan kelompok ini terus beroperasi di banyak negara dengan mengeksploitasi kerentanan politik, keamanan, dan kondisi masyarakat.

ISIS

Sumber gambar, Getty Image

Keterangan gambar, Seorang wanita berkerudung penuh menggendong bayinya melarikan diri dari kelompok ISIS di Baghouz pada 13 Februari 2019

Perang di Gaza dapat dilihat sebagai salah satu “peluang” bagi ISIS dan kelompok ekstremis lainnya, yang akan mencari cara menggunakan konflik tersebut untuk mengalihkan kemarahan terhadap musuh-musuh mereka.

Hampir 20.000 orang kini dilaporkan tewas dan lebih dari 52.000 orang terluka di Gaza sejak dimulainya perang, yang terjadi setelah serangan Hamas di Israel pada tanggal 7 Oktober yang menewaskan 1.200 orang dan 240 lainnya disandera).

Walaupun Al-Qaeda menyerukan umat Islam untuk mengambil bagian dalam perjuangan bersama militan Palestina, tanggapan ISIS, yang diterbitkan di surat kabar mingguan kelompok tersebut, al- Naba, tidak memberikan pujian bagi kelompok Palestina, juga tidak menyerukan umat Islam untuk mendukung Hamas.

Kelompok ini sebelumnya menuduh Hamas menindas pengikutnya di Jalur Gaza. Sebaliknya, ISIS fokus menghasut serangan balas dendam di seluruh dunia, termasuk terhadap pemerintah Arab yang dituduh “melindungi” Israel.