Presiden Ukraina bertemu para pemimpin negara di KTT G7, termasuk Presiden RI Joko Widodo

Di hari terakhir KTT G7 yang bertempat di Hiroshima, Jepang, Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky bertemu dengan para pemimpin negara, termasuk Presiden RI Joko Widodo.

Setibanya di Jepang pada Sabtu (20/05), Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky bergabung dalam berbagai diskusi kunci yang membahas dukungan negara-negara G7 pada Ukraina.

Dia juga bertemu dengan para pemimpin negara Global South - yang meski bukan anggota G7 - namun diundang ke KTT tersebut oleh negara tuan rumah Jepang.

Zelensky tampak bertemu dengan Presiden RI Joko Widodo dan Perdana Menteri India Narendra Modi, Minggu (21/05).

Dalam sesi final diskusi soal Ukraina, Perdana Menteri Jepang Fumuio Kishida menyampaikan kata sambutan pada Zelensky.

“Kami ingin memperdalam diskusi tentang bagaimana kami harus merespons situasi di Ukraina, dan tantangan-tantangan lain yang sedang dihadapi komunitas internasional untuk perdamaian dan stabilitas global,” katanya.

G7 sepakat ‘membuat mesin perang Rusia menderita’ dengan sanksi tambahan

Melalui pernyataan tertulis, para pemimpin Group of Seven - tujuh negara dengan kekuatan besar di dunia - mengatakan mereka akan “melemahkan Rusia dari teknologi, perlengkapan industri dan jasa dari G7 yang mendukung mesin perang negara itu”.

Tindakan ini berarti membatasi ekspor benda-benda yang “penting bagi Rusia di medan perang”.

Serangkaian sanksi juga akan dikenakan kepada kelompok-kelompok yang dituduh memindahkan material ke garis depan perang untuk Moskow.

Sebelumnya, dalam rangkaian acara KTT G7 yang tahun ini bertempat di Jepang, G7 menyepakati akan menjatuhkan lebih banyak sanksi kepada Moskow dan memperbarui komitmen mereka untuk menyediakan “dukungan finansial, kemanusiaan, militer, dan diplomasi” untuk Ukraina.

Perdana Menteri Inggris Rishi Sunak mengatakan kepada wartawan BBC Chris Mason di Hiroshima, dirinya akan memulai penjatuhan sanksi baru kepada Rusia, dan “berharap negara-negara lain akan mengikuti”.

Impor berlian dari Rusia ke Inggris adalah salah satu hal yang akan segera dilarang oleh pemerintah Inggris.

Untuk diketahui, ekspor berlian Rusia secara global senilai US$4 miliar (sekitar Rp 59,7 triliun) pada 2021.

Inggris juga berencana melarang pembelian tembaga, aluminium, dan nikel yang berasal dari Rusia, dengan undang-undang baru yang akan disahkan tahun ini.

“Kami percaya dengan demokrasi, kemerdekaan, peraturan hukum - dan adalah hal yang benar untuk membela hal-hal tersebut,” kata Sunak kepada BBC.

“Saya berharap dan yakin bahwa negara-negara partner Inggris akan mengikuti langkah kami, seperti yang sudah mereka lakukan selama ini.

“Ini akan membuat sanksi-sanksi yang ada lebih efektif, memastikan Rusia membayar aktivitas ilegalnya,” ujarnya.

Sejak serangan Rusia ke Ukraina, Inggris telah menargetkan lebih dari 1.500 individu dan perusahaan, juga telah membekukan aset senilai lebih dari £18 miliar (Rp333 triliun) dengan sanksi.

Tahun lalu, Inggris, AS, Kanada, dan Jepang juga melarang impor emas Rusia dalam upayanya untuk menghambat kemampuan negara tersebut untuk membiayai perang di Ukraina.

Amerika Serikat dan Uni Eropa juga telah mengumumkan sanksi mereka untuk Rusia. Tahun lalu, Presiden AS Joe Biden menerangkan rencana untuk melarang pembelian berlian, hasil laut, dan vodka dari Rusia.

Presiden Dewan Eropa, Charles Michel, mengatakan Uni Eropa juga ingin melarang perdagangan berlian Rusia untuk semakin mengisolasi Moskow.

Apa isi pernyataan G7?

Pernyataan resmi yang dirilis oleh negara-negara G7 juga menyebutkan tuntutan mereka agar Rusia “dengan segera, sepenuhnya, dan tanpa syarat menarik pasukan dan peralatan militernya dari wilayah Ukraina yang diakui secara internasional”.

Pernyataan itu menambahkan bahwa “perdamaian yang adil tidak dapat diwujudkan tanpa penarikan pasukan dan peralatan militer Rusia secara lengkap dan tanpa syarat dan ini harus selalu dimasukkan dalam seruan perdamaian”.

Para pemimpin juga menegaskan “dukungan kami untuk Ukraina tidak akan goyah” dan negara-negara G7 “berdiri bersama melawan agresi Rusia yang ilegal, tidak dapat dibenarkan, dan tidak beralasan terhadap Ukraina”.

Zelensky ke Arab, Rusia mendekat ke China

Sebelumnya, Zelensky menghadiri Liga Arab di Arab Saudi sebelum menuju Jepang dengan pesawat dari pemerintah Prancis.

Sementara itu, saat negara-negara G7 sepakat dengan tambahan sanksi untuk Rusia, sejumlah pejabat Rusia diberitakan sedang bersiap untuk bertemu dengan sekutu mereka.

Perdana Menteri Rusia Mikhail Mishustin dijadwalkan untuk berkunjung ke China pada 23-24 Mei, di saat bersamaan Wakil Perdana Menteri Belanda Wopke Hoekstra juga berada di China pekan depan.

Pembahasan G7 tentang ‘pemaksaan ekonomi’ China

Analisis oleh Nick Marsh di Hiroshima

Kemarin, para pemimpin G7 merilis pernyataan yang berjanji untuk melawan “kebangkitan yang mengganggu” dari pemaksaan ekonomi.

China memang tidak disebutkan secara langsung dalam pernyataan itu, tapi jelas ini merujuk kepada Beijing.

Secara khusus, tuduhan itu mengatakan bahwa China telah menggunakan kekuatannya yang besar untuk menghukum atau membujuk negara-negara lebih kecil untuk mengikuti aturan mereka.

Australia dan Lituania adalah dua negara yang baru-baru ini merasakan pembalasan perdagangan atas keputusan politik mereka.

Jadi, kekhawatiran atas pengaruh ekonomi Beijing telah menjadi pokok bahasan yang penting di G7.

Meski demikian, para pemimpin G7 tampak masih bingung untuk mengatasi masalah ini.

Negara-negara tidak bisa begitu saja “melepaskan diri” atau memutus hubungan dengan negara ekonomi terbesar kedua di dunia. Ini terutama berlaku untuk negara-negara Eropa dan Jepang.

Maka, mereka memilih kebijakan untuk “mengurangi risiko” dan “diversifikasi”. Ini berarti, tidak terlalu bergantung pada China secara ekonomi dan menyisihkan investasi dan rantai pasok jauh dari negara tersebut.

Meski nama China tidak disebutkan, Beijing tahu pernyataan itu merujuk pada mereka dan mengeluarkan pernyataan balasan.

China berkata G7 sedang melakukan ‘serangan terkoordinasi’ dan ‘pencemaran nama’ kepada mereka, dan bahwa pemaksa ekonomi sebenarnya adalah AS.