Asal-usul simbol Paskah, apa makna telur dan kelinci?

Telur melambangkan kehidupan dan kelahiran kembali.

Sumber gambar, Getty Images

Keterangan gambar, Telur melambangkan kehidupan dan kelahiran kembali. Di atas ini adalah contoh-contoh telur yang dihias, dalam tradisi yang sudah ada sejak Abad Pertengahan
    • Penulis, André Bernardo
    • Peranan, BBC Brasil
  • Waktu membaca: 5 menit

Setiap tahun umat Kristen merayakan Paskah di berbagai belahan dunia, ada dua hal yang kerap muncul: telur dan kelinci.

Di tengah kontroversi dan beragam interpretasi di kalangan gereja, apa yang mendasari hubungan telur dan kelinci dengan perayaan Paskah dan peristiwa kebangkitan Yesus Kristus dari kematian?

Sebuah narasi yang telah tersebar luas selama berabad-abad mengisahkan bahwa Maria Magdalena mengunjungi makam Yesus Kristus dari Nazaret pada Minggu pagi sebelum matahari terbit untuk mengurapi jasadnya. Yesus diyakini sudah wafat setelah disalibkan pada hari Jumat.

Ketika Maria tiba, ia mendapati makam itu terbuka sebagian.

Seekor kelinci diyakini sebagai makhluk hidup pertama yang melihat Yesus bangkit. Hewan itu disebut-sebut terjebak di dalam makam berbentuk gua yang dipahat.

Atas dasar itu, kelinci tersebut dipercaya memiliki peran khusus untuk menyampaikan berita baik dan membawa telur pada saat Paskah.

Adapun telur dianggap sebagai simbol kehidupan dan kelahiran kembali.

Orang Romawi kuno menganggap alam semesta berbentuk oval. Kemudian, pada Abad Pertengahan, telur dipercaya sebagai cikal bakal dunia.

Tradisi saling memberi telur ayam tak lama kemudian menjadi kebiasaan. Ada spekulasi dari sejarawan bahwa praktik ini berakar dari Persia atau China.

Pakar Hukum Kanon, Monsignor André Sampaio Oliveira, menerangkan bahwa berabad-abad sebelum kelahiran Yesus, tradisi bertukar telur dilakukan saat ekuinoks musim semi yang jatuh pada 21 Maret di belahan bumi utara.

Di Jerman, telur-telur yang diwarnai digunakan sebagai hiasan pohon layaknya pernak-pernik Natal.

Sumber gambar, Getty Images

Keterangan gambar, Di Jerman, telur-telur yang diwarnai digunakan sebagai hiasan pohon layaknya pernak-pernik Natal.

Momen ini adalah cara orang-orang pada saat itu merayakan berakhirnya musim dingin.

Oliveira menambahkan bahwa ketika perayaan Paskah dimulai, ritual pagan yang merayakan musim semi ini dimasukkan ke dalam Pekan Suci.

"Selanjutnya umat Kristen menginterpretasikan telur sebagai simbol kebangkitan Yesus," jelas Oliveira.

Telur senilai Rp336 miliar

Tak lama kemudian, telur-telur mulai dihias sebagai hadiah. Pada Abad Pertengahan, kulit telur ayam dicat secara manual.

Evaristo Eduardo de Miranda, penulis buku Guia de Curiosidades Católicas, menerangkan bahwa di Jerman, telur-telur yang diwarnai digunakan sebagai hiasan pohon layaknya pernak-pernik Natal.

Dia menambahkan bahwa di Rusia, telur diletakkan di atas kuburan sebagai bentuk penghormatan kepada orang yang telah meninggal.

Sementara di Italia, meja makan saat Paskah dihias dengan telur-telur berwarna.

Para Tsar Rusia menerapkan tradisi pemberian telur sebagai hadiah ke level yang lebih tinggi.

Selama periode 1885 hingga 1916, Tsar Alexander III dan Nicholas II memesan sebanyak 50 telur dari Peter Carl Fabergé, seorang perancang perhiasan Rusia

Sumber gambar, Getty Images

Keterangan gambar, Selama periode 1885 hingga 1916, Tsar Alexander III dan Nicholas II memesan sebanyak 50 telur dari Peter Carl Fabergé, seorang perancang perhiasan Rusia

Selama periode 1885 hingga 1916, Tsar Alexander III dan Nicholas II memesan sebanyak 50 telur dari Peter Carl Fabergé, seorang perancang perhiasan Rusia yang sangat dihormati.

Di antara telur-telur tersebut, salah satu yang diberikan Tsar Alexander III kepada istrinya, Permaisuri Marie Feodorovna, menyimpan kejutan berupa jam tangan yang dihiasi dengan safir dan berlian.

Pada April 2014, benda berharga setinggi 8,2 cm ini diperkirakan bernilai US$20 juta (setara Rp336 miliar).

Sekitar abad ke-18, pembuat manisan Prancis berinovasi dengan mengosongkan telur dan mengisinya dengan cokelat.

Baca juga:

Setelah berselang satu abad, mulailah era pembuatan telur dari cokelat yang diisi dengan berbagai macam permen.

Kreasi gastronomi ini mendapatkan penerimaan luas, bahkan dari individu yang tidak mengaitkan telur dan kelinci dengan makna religius apa pun.

Menurut Rabi Michel Schlesinger dari Conib, anak-anak Yahudi sangat gembira menerima telur Paskah.

Lebih lanjut, ia menyarankan agar anak-anak Kristen mencoba matzah (roti tidak beragi) dengan tambahan cokelat atau krim keju, dan ia yakin mereka juga akan menikmatinya.

Apa arti kelinci Paskah?

Namun, muncul pertanyaan mengenai kelinci. Mengingat bahwa hewan ini adalah mamalia dan tidak menghasilkan telur, apa yang menjadikannya simbol dalam perayaan dalam agama Kristen?

Sejak zaman Mesir kuno, kelinci dikenal sebagai simbol kesuburan karena kemampuannya bereproduksi dengan cepat, rata-rata 4-8 kali setahun dengan 8-10 anak per kelahiran.

Selain kesuburan, kelinci juga menjadi simbol kelahiran kembali karena merupakan hewan pertama yang terlihat keluar dari liang setelah musim dingin berakhir.

"Kelinci bahkan dikaitkan dengan Yesus dalam ikonografi Kristen, dengan telinga besar untuk mendengar firman Tuhan dengan lebih baik", kata peneliti Evaristo de Miranda.

Selain kesuburan, kelinci juga menjadi simbol kelahiran kembali karena merupakan hewan pertama yang terlihat keluar dari liang setelah musim dingin berakhir.

Sumber gambar, Getty Images

Keterangan gambar, Selain kesuburan, kelinci juga menjadi simbol kelahiran kembali karena merupakan hewan pertama yang terlihat keluar dari liang setelah musim dingin berakhir.
Lewati Whatsapp dan lanjutkan membaca
Akun resmi kami di WhatsApp

Liputan mendalam BBC News Indonesia langsung di WhatsApp Anda.

Klik di sini

Akhir dari Whatsapp

Di Brasil, tradisi mengaitkan kelinci dengan kebangkitan Yesus Kristus dimulai sekitar tahun 1910-an, ketika imigran Jerman mengecat telur dan menyembunyikannya untuk anak-anak.

Jefferson Ramalho, kandidat doktor dalam bidang Sejarah di Universitas Campinas, menyatakan bahwa dari perspektif sejarah, mustahil untuk memastikan asal usul kaitan kelinci dan telur Paskah.

Dia menambahkan bahwa yang dapat dipastikan adalah adanya beberapa versi yang valid, yang dikisahkan oleh berbagai bangsa dan budaya.

"Bagi kami para sejarawan, hal terpenting bukanlah mengidentifikasi 'kisah sebenarnya', namun menguraikan makna yang dikaitkan dengan simbol-simbol ini dan gagasan yang ingin disampaikannya," tambahnya.

Menurut Gereja Katolik, simbol Paskah yang sesungguhnya adalah lilin Paskah, lilin putih besar yang mewakili kebangkitan Yesus.

Lilin ini dihiasi huruf Alfa dan Omega, simbol bahwa Kristus adalah awal dan akhir.

"Simbol Paskah yang paling agung adalah terang Kristus. Terang hari Minggu Paskah kontras dengan kegelapan hari Jumat Agung. Apa yang tadinya menyakitkan dan menyedihkan diubah menjadi kekuatan dan sukacita," kata teolog Isidoro Mazzarolo.