Evolusi kelinci sebagai simbol - dari lambang kesuburan hingga Kelinci Paskah

Bugs Bunny

Sumber gambar, Alamy

    • Penulis, Matthew Wilson
    • Peranan, BBC Culture

Umat Kristen merayakan Paskah, hari kebangkitan Yesus Kristus setelah penyalibannya pada Jumat Agung. Di sejumlah negara, simbol perayaan Paskah adalah makhluk bertelinga panjang, bergigi tonggos, dan membagi-bagikan telur. Dari mana sebenarnya tradisi Kelinci Paskah berasal?

Mencari jawabannya tidak semudah kelihatannya.

Pencarian jawaban akan membawa kita masuk ke beberapa lubang kelinci, seperti Alice dalam perjalanannya menuju Negeri Ajaib.

Tiga tema seputar kelinci bisa ditemukan di berbagai mitologi dan agama global: kelinci yang dianggap suci, hubungan mistis mereka dengan bulan, dan kaitannya dengan fertilitas.

Pencarian jawaban ini akan mencakup kelinci (rabbit) maupun terwelu (hare). Ketika meneliti cerita rakyat dan sejarah seni, kadang-kadang sulit memisahkan keduanya.

Mereka sama-sama bagian dari ordo taksonomi Legomorpha, dan famili Leporidae, dan seringkali diperlakukan secara sama oleh berbagai agama, fabel, dan budaya visual.

Apakah kelinci dikaitkan dengan Paskah karena mereka sering dianggap suci?

Terwelu dihormati dalam mitologi Keltik, dan digambarkan sebagai penipu licik dalam mitos beberapa suku asli Amerika termasuk Michabo dan Manabush.

Dongeng serupa dapat ditemukan di fabel-fabel Afrika Tengah dan tokoh Br’er Rabbit, si jagoan paling cerdik.

Sulit untuk menyangkal bahwa tokoh-tokoh kelinci dalam kartun – termasuk Bugs Bunny – juga mengikuti tradisi kuno yang memandang hewan ini sebagai cerdik dan licik.

Menurut cerita rakyat di Britania Raya, penyihir dapat berubah menjadi kelinci dan terwelu. Dalam banyak budaya, mereka dilihat sebagai tanda keberuntungan maupun kesialan.

Terwelu mampu berlari dengan cepat dan lincah, yang mungkin menciptakan persepsi umum bahwa mereka adalah makhluk yang lihai atau misterius.

Simbol 'tiga terwelu'

Sumber gambar, Alamy

Keterangan gambar, Simbol 'tiga terwelu' telah ditemukan di berbagai budaya di seluruh dunia, dan sejak lebih dari 1300 tahun yang lalu.
Lewati Whatsapp dan lanjutkan membaca
Akun resmi kami di WhatsApp

Liputan mendalam BBC News Indonesia langsung di WhatsApp Anda.

Klik di sini

Akhir dari Whatsapp

Hal yang mendukung pandangan ini adalah fenomena transnasional simbol “tiga terwelu”.

Simbol itu menunjukkan tiga terwelu yang berlari dalam formasi lingkaran, dengan telinga mereka saling bersentuhan untuk membentuk segitiga.

Anda dapat menemukannya digunakan di banyak gereja abad pertengahan di Inggris – di South Tawton (Devon), Long Melford (Suffolk), Cotehele (Cornwall), St David's Cathedral in Pembrokeshire, dan Chester Cathedral.

Awalnya dianggap sebagai ikon yang khas oleh para sarjana Inggris, simbol tersebut kemudian ditemukan di berbagai tempat di Eropa, di katedral dan sinagog di Jerman, di gereja paroki di Prancis.

Tak hanya di Eropa, lambang itu juga ada pada artefak yang diciptakan di Suriah, Mesir, dan Lembah Swat di Pakistan yang berasal dari abad ke-9 Masehi.

Contoh paling awal dapat ditemukan di Gue Dunhuang di China, tempat suci bagi umat Buddha yang diciptakan pada Abad ke-6 Masehi.

Daya tarik simbol “tiga terwelu” sebagian terletak pada ilusi optik di pusatnya – masing-masing terwelu punya dua telinga, tetapi tampaknya hanya ada total tiga telinga dalam gambar tersebut.

Alasan simbol itu dapat tersebar begitu luas bisa jadi karena perdagangan internasional pada milenium pertama Masehi.

Bersama banyak simbol artistik terkenal lainnya, lambang ini kemungkinan tampil dalam barang-barang yang dibeli, dijual, dan diekspor di sepanjang Jalur Sutra yang menghubungkan Eropa dengan Asia.

Diyakini bahwa simbol tersebut menyiratkan kemakmuran dan regenerasi melalui komposisi siklikal dan bentuk yang tumpang tindih.

Tema pembaruan dan kelahiran kembali tampaknya berhubungan dengan pesan Paskah.

Mungkinkah Kelinci Paskah berasal dari simbol Buddha kuno ini?

Simbol “tiga terwelu” diyakini berasal dari cerita sebuah cerita dalam Jataka (cerita-cerita tentang kehidupan Buddha) tentang “terwelu tanpa pamrih”.

Dalam cerita ini, sang terwelu adalah inkarnasi sebelumnya dari Buddha historis, Siddhartha Gautama.

Sang terwelu begitu murah hati dan taat hingga ketika ia bertemu dengan seorang pendeta yang lapar, ia mengorbankan dirinya dengan melompat ke dalam api supaya si pendeta bisa makan.

Sebagai hadiah atas kesalehan ini, citra terwelu diukirkan di bulan.

Cerita ini, dan asosiasi terwelu dengan bulan secara umum, barangkali berasal dari agama yang jauh lebih kuno di India.

Bulan memang punya tanda di permukaannya yang kelihatan seperti terwelu, jika dilihat dengan sedikit imajinasi.

Lukisan kelinci

Sumber gambar, New Orleans Museum of Art

Keterangan gambar, Seekor kelinci mistis yang hidup di bulan dalam cerita rakyat Jepang, seperti yang ditunjukkan dalam lukisan Rabbit Pounding the Elixir of Life Under the Moon oleh Mori Ippo, 1867.

Terwelu yang hidup di bulan dan menatap bulan bertebaran di budaya visual China, Jepang, dan Korea. Tradisi Taois di China mengisahkan tentang seekor kelinci yang tinggal di bulan dan meracik ramuan kehidupan.

Budaya penduduk asli Amerika Utara dan Tengah punya mitos yang sangat mirip, juga menghubungkan terwelu dan kelinci dengan bulan, barangkali karena mereka juga mendeteksi bentuk yang mirip kelinci di permukaan bulan.

Tampaknya kelinci adalah makhluk yang dihormati, identik dengan kekuatan surgawi dan peremajaan tidak hanya bagi umat Kristiani pada Paskah, tetapi juga banyak budaya di seluruh dunia.

Kelinci dan fertilitas

Meskipun simbolisme dan fabel dari Timur telah memasuki ikonografi Eropa, asal-usul Kelinci Paskah mungkin lebih dekat dari Eropa.

Kebanyakan simbol Kristen berasal dari sumber Alkitab, kendati ada beberapa yang bertahan dari budaya seni Yunani dan Romawi kuno.

Alkitab menunjukkan sikap yang beragam terhadap kelinci. Dalam kitab Ulangan (Deuteronomy) dan Imamat (Leviticus), mereka disebut sebagai hewan yang tak suci.

Namun, dalam Mazmur dan Amsal mereka dijabarkan punya semacam kecerdasan, walaupun akhirnya dikecam sebagai makhluk yang lemah.

Hal yang memukau para penulis Yunani dan Romawi kuno tentang kelinci adalah fertilitasnya.

Filsuf Aristoteles (384-322 SM), misalnya, mengamati bagaimana kelinci dapat berkembang biak dengan kecepatan luar biasa.

Penulis berpengaruh lainnya, Plinius Tua (23-79 SM), dengan keliru percaya bahwa kelinci dapat berkembang biak begitu cepat karena mereka adalah hermafrodit, dan baik jantan maupun betinanya sama-sama bisa melahirkan.

Dapatkah Kelinci Paskah berhubungan dengan ide klasik tentang fertilitas ini, digunakan untuk mengekspresikan kesegaran dan kesuburan musim semi?

Kemampuan reproduksi biologis kelinci yang luar biasa itu jelas memengaruhi simbolisme Eropa.

Dalam seni abad pertengahan dan Renaisans, kelinci seringkali digambarkan di samping Venus, dewi cinta dan seksualitas dalam tradisi Romawi kuno.

Nafsu (seksual) adalah satu dari tujuh dosa besar, dan ketika para seniman menggambarkannya dalam bentuk alegori (“Luxuria”), ia kadang-kadang berbentuk seorang perempuan yang membawa kelinci.

Lukisan kelinci

Sumber gambar, Alamy

Keterangan gambar, Kelinci kadang-kadang menjadi simbol nafsu seksual, seperti dalam lukisan Venus, Mars, dan Cupid (1490) karya Piero di Cosimo.

Penulis Romawi Aelian (kira-kira 175-235 SM) menduga bahwa terwelu mampu melakukan superfetasi – kemampuan untuk mengandung embrio lain meskipun sedang hamil (dengan kata lain, hamil lagi saat sedang hamil).

Anggapan ini tidak dianggap serius untuk waktu yang lama, tetapi sains baru-baru ini membuktikan bahwa terwelu memang mampu melakukan hal seperti itu.

Aelian dan pengamat lain fenomena ini percaya bahwa terwelu dan kelinci dapat melahirkan tanpa kopulasi.

Jadi, anehnya, pada periode abad pertengahan dan Renaisans, kelinci dapat menjadi simbol keperawanan atau seksualitas tanpa batas, tergantung konteks.

Lukisan Madonna of the Rabbit

Sumber gambar, Getty Images

Keterangan gambar, Dalam The Madonna of the Rabbit (1520-30) karya Titian, kelinci melambangkan kesucian.

Ini bisa dilihat ketika kita membandingkan lukisan karya Titian yang tenang dan terang The Madonna of the Rabbit (1520-30) dengan karya Pisanello yang memesona Allegory of Luxuria (1426).

Dalam lukisan Titian, kelinci putih bersih adalah simbol keperawanan Maria. Dalam lukisan Pisanello, kelinci melambangkan kecabulan.

Allegory of Luxuria (1426) karya Pisanello

Sumber gambar, Alamy

Keterangan gambar, Sedangkan dalam Allegory of Luxuria (1426) karya Pisanello, seekor kelinci memiliki arti yang sama sekali berbeda

Sifat biologis kelinci dan terwelu ini juga mendorong asosiasinya dengan fertilitas di budaya-budaya lain yang tidak berhubungan.

Dalam mitologi Aztek, misalnya, ada kepercayaan tentang Centzon Tōtōchtin – sekelompok 400 kelinci dewa yang konon mengadakan pesta mabuk untuk merayakan kelimpahan.

Bahkan di dalam Eropa, masyarakat yang berbeda menggunakan kelinci sebagai ikon kesuburan dan mengaitkan mereka dengan dewa-dewa reproduksi.

Menurut tulisan Beda Venerabilis (653-735 M), seorang dewi Anglo-Saxon bernama Ēostre ditemani oleh seekor kelinci karena ia merepresentasikan rejuvenasi dan fertilitas musim semi.

Perayaan festival untuk Ēostre dilaksanakan pada bulan April, dan umumnya diyakini bahwa darinyalah kita mendapatkan nama Paskah (Easter) dan teman kelincinya.

Kalau ini benar, itu berarti bahwa sejak dahulu kala, ikonografi Kristen mengapropriasi dan mengadaptasi simbol dari agama pagan yang lebih tua, menyatukannya dengan simbol-simbolnya sendiri.

Apakah ini menutup pencarian kita akan asal-usul Kelinci Paskah?

Masalah dengan upaya memberikan jawaban pasti ialah kurangnya bukti.

Selain dari Bede, tidak ada kaitan jelas antara Ēostre dan Easter, dan Bede tidak bisa dianggap sebagai sumber asli tentang agama Anglo-Saxon karena ia menulis dari sudut pandang seorang Kristen.

Meskipun kemungkinannya tampak besar, koneksi itu tidak pernah bisa dibuktikan dengan pasti.

Alih-alih, seperti di cerita Alice di Negeri Ajaib, sang kelinci putih tidak pernah bisa sepenuhnya dipahami.

Sepanjang sejarah, kelinci dan terwelu telah dipandang sebagai hewan sakral dan lambang kecerdikan. Mereka telah dikaitkan dengan kemurnian enigmatik bulan, dengan keperawanan, dan dengan kesuburan yang luar biasa.

Jadi wajar saja bila hewan yang sangat misterius ini terus menghindari pemaknaan.

Semakin jauh kita menelusuri asal-usul Kelinci Paskah, semakin ia menghilang dalam lubang, memancing rasa penasaran kita untuk sebuah jawaban logis.

Bukannya memberikan jawaban, para kelinci justru menghadapkan kita pada teka-teki yang lebih rumit.

Artikel ini dapat Anda baca dalam versi bahasa Inggris, Easter Bunny: Evolution of a symbol, di BBC Culture.