Tren foto 1980-an di ChatGPT viral – Apakah data pribadi pengguna diambil?

Sumber gambar, ChatGPT
- Penulis, Luis Barrucho
- Peranan, BBC News World Service
- Telah diterbitkan
- Waktu membaca: 5 menit
Rambut bergelombang dan mengembang. Foto dengan kualitas agak buram. Warna-warna neon. Latar belakang ala studio foto di pusat perbelanjaan. Jika tampilan media sosial Anda belakangan ini terasa seperti album foto keluarga dari era 1980-an, Anda tidak sendirian. Anda mungkin juga sudah ikut mencoba tren ini.
Jutaan orang di seluruh dunia kini menggunakan ChatGPT dan berbagai perangkat berbasis AI lainnya untuk mengubah foto selfie mereka menjadi potret bergaya retro, lengkap dengan tatanan rambut mengembang, busana vintage, dan efek foto yang membangkitkan nostalgia.
Gambar-gambar yang dihasilkan AI ini sering dibuat menggunakan prompt yang beredar untuk fitur pembuat gambar di ChatGPT. Pengguna cukup mengunggah foto diri mereka, lalu AI mengubahnya menjadi potret bergaya era 1980-an.
Hasilnya yang terlihat sangat meyakinkan dan mudah dibagikan membuat tren ini menyebar dengan cepat di Instagram, TikTok, dan X.
Namun, di balik nostalgia tersebut, para ahli mengingatkan pengguna mungkin sedang membagikan jauh lebih banyak informasi pribadi daripada yang mereka sadari.
'Hiburan dengan imbalan data'
Popularitas tren mengubah foto menjadi bergaya 1980-an ini mencerminkan perubahan yang lebih luas dalam penggunaan AI generatif.
Beberapa tahun lalu, teknologi pembuat gambar berbasis AI masih banyak digunakan oleh para penggemar teknologi dan pengguna yang sudah terbiasa dengan dunia digital.
Kini, teknologi tersebut semakin menyatu dengan kehidupan sehari-hari, mulai dari tren di media sosial hingga berbagai perangkat untuk bekerja dan aplikasi yang digunakan konsumen.
Tren mengubah foto menjadi bergaya 1980-an merupakan salah satu dari rangkaian tren yang didorong oleh AI.
Sebelumnya, muncul tren membuat potret masa kecil yang dipersonalisasi, mengubah diri menjadi karakter fantasi, hingga membuat foto dengan tema perayaan dan liburan.
Menurut pakar etika AI, Catarina Doria, tren viral tersebut tidak hanya menarik pengguna baru, tetapi juga mendorong mereka untuk membagikan data pribadi.
"Tren-tren ini muncul karena menguntungkan perusahaan AI generatif," ujarnya. "Orang-orang didorong untuk mengunggah semakin banyak foto diri mereka sendiri maupun orang lain."
Doria menyebut fenomena ini sebagai "fun for data" atau "hiburan dengan imbalan data"—ketika orang menukar informasi pribadi mereka dengan hiburan, sering kali tanpa benar-benar mempertimbangkan konsekuensi yang mungkin timbul.

Sumber gambar, Getty Images
Carissa Véliz, profesor madya filsafat di Institute for Ethics in AI, University of Oxford, sependapat bahwa pengguna perlu berpikir matang sebelum membagikan informasi pribadi kepada sistem AI.
"Ketika Anda mengunggah foto ke AI, Anda memberikan salah satu jenis data paling sensitif yang bisa Anda berikan," ujarnya. "Foto sering kali mengandung metadata sensitif, seperti lokasi. Namun, yang juga Anda berikan adalah data biometrik."
Informasi biometrik, termasuk karakteristik wajah, sangat sensitif karena tidak mudah diubah jika sampai jatuh ke tangan yang salah.
"Anda bisa mengganti kata sandi jika seseorang mencurinya," kata Véliz. "Tetapi Anda tidak bisa mengganti wajah Anda."

Sumber gambar, LightRocket via Getty Images
Menurut Doria, risiko yang ditimbulkan bahkan bisa lebih besar dibandingkan ketika pengguna membagikan informasi di platform media sosial seperti Instagram atau Facebook, bahkan aplikasi kencan.
Pasalnya, pengguna biasanya mengunggah banyak foto berkualitas tinggi yang memang dibuat untuk menampilkan wajah mereka dengan jelas.
Ia juga menyoroti kebiasaan pengguna membagikan banyak informasi pribadi kepada chatbot AI melalui percakapan tentang pekerjaan, hubungan, dan berbagai minat mereka.
Jika informasi tersebut digabungkan dengan foto, semuanya dapat membentuk profil seseorang yang semakin lengkap dan rinci.
Iklan yang ditargetkan
Liputan mendalam BBC News Indonesia langsung di WhatsApp Anda.
Klik di sini
Akhir dari Whatsapp
Namun, persoalannya bukan hanya soal privasi. Para ahli juga memperingatkan adanya ketidakpastian mengenai bagaimana data yang dibagikan hari ini dapat digunakan di masa depan.
"Sebagian persoalan di era digital adalah kita tidak tahu bagaimana data kita akan digunakan di masa depan," ujar Véliz.
"Kita bahkan tidak tahu data tersebut akan berakhir di mana, karena begitu banyak perusahaan memperjualbelikannya, sering kali tanpa kehati-hatian," ucapnya.
Doria dan Véliz sama-sama menyoroti perkembangan pesat deepfake yang dibuat dengan AI sebagai contoh bagaimana teknologi dapat berkembang ke arah yang sulit diprediksi beberapa tahun lalu.
Foto yang hari ini diunggah untuk tujuan yang tidak berbahaya, bukan tidak mungkin digunakan untuk membantu mengembangkan sistem AI yang jauh lebih canggih di masa depan.
"Lima atau enam tahun lalu, kita tidak pernah membayangkan hal ini akan terjadi," kata Doria, merujuk pada perkembangan pesat gambar realistis yang dihasilkan AI.
"Saat itu, kita hanya dengan senang hati mengunggah foto di internet," ujarnya.
Kekhawatiran lainnya berkaitan dengan pembuatan profil pengguna dan iklan yang ditargetkan.
Data yang dikumpulkan perusahaan teknologi dapat digunakan untuk membangun gambaran yang semakin rinci tentang minat, kebiasaan, dan perilaku seseorang.
Hal ini memungkinkan pengiklan dan organisasi lainnya menargetkan individu dengan lebih tepat.
Sejumlah perusahaan AI besar mengatakan mereka menyediakan kontrol privasi bagi pengguna, termasuk pengaturan yang memungkinkan pengguna membatasi penggunaan konten mereka untuk meningkatkan atau melatih model AI di masa mendatang.
Kepada BBC, OpenAI mengatakan kepercayaan dan privasi merupakan bagian mendasar dari produk-produknya.
Pengguna tetap memiliki kendali atas informasi mereka, termasuk pilihan untuk menghapus percakapan. Sementara itu, jika pengguna mengaktifkan Temporary Chat, percakapan tidak akan disimpan, diingat, atau digunakan untuk meningkatkan model AI.
'Privasi adalah kekuatan'
Doria berharap masyarakat lebih berhati-hati dan tidak mudah mengikuti tren viral seperti mengubah foto menjadi bergaya 1980-an.
Namun, banyak pakar privasi tidak sampai menyarankan orang untuk sepenuhnya menghindari penggunaan AI.
Sebaliknya, mereka mendorong pengguna untuk lebih bijak dalam menentukan informasi apa yang dibagikan dan bagaimana cara membagikannya:
- Hindari mengunggah foto anak-anak. Anak-anak belum dapat memberikan persetujuan secara bermakna. Karena itu, orang tua sebaiknya mempertimbangkan matang-matang sebelum membuat rekam digital yang bisa tersimpan secara permanen atas nama mereka.
- Gunakan foto dengan resolusi lebih rendah jika memungkinkan. Foto beresolusi tinggi dapat mengungkap informasi biometrik yang lebih detail.
- Pilih platform yang sudah dikenal. Layanan yang memiliki reputasi baik biasanya mempunyai kebijakan privasi yang lebih jelas dan tata kelola yang lebih kuat dibandingkan aplikasi-aplikasi tidak dikenal yang bermunculan mengikuti tren viral.
- Periksa pengaturan privasi. Banyak layanan AI menyediakan pilihan bagi pengguna untuk tidak mengizinkan konten mereka digunakan untuk meningkatkan model AI di masa mendatang. Periksa dan sesuaikan pengaturan tersebut jika tersedia.
- Matikan fitur memori yang tidak diperlukan. Beberapa chatbot AI menyimpan informasi dari percakapan sebelumnya untuk memberikan respons yang lebih personal. Menonaktifkan fitur ini dapat mengurangi jumlah informasi pribadi yang tersimpan.
Seiring AI semakin menyatu dengan kehidupan sehari-hari, para ahli mengatakan tantangannya adalah memahami apa yang kita dapatkan dan apa yang kita korbankan ketika menggunakan teknologi tersebut.
"Privasi adalah kekuatan karena privasi melindungi kita dari kemungkinan penyalahgunaan kekuasaan," kata Véliz.






























