Serangan udara tewaskan 72 penambang emas di perbatasan Sudan-Mesir, siapa yang bertanggung jawab?

Sumber gambar, Getty Images
Setidaknya 72 warga sipil yang sedang menambang emas di Sudan tewas akibat serangan pesawat tempur, Sabtu (10/10).
Pesawat tempur tersebut menyasar para penambang emas skala kecil di negara bagian Sungai Nil, menurut informasi yang dikumpulkan kelompok advokasi hak asasi manusia, Emergency Lawyers.
Pemerintah Mesir maupun otoritas yang secara de facto memimpin Sudan sejauh ini belum memberikan komentar apapun terkait peristiwa tersebut.
Serangan terhadap para penambang emas di sekitar perbatasan Sudan dan Mesir ini bukanlah yang pertama kali terjadi.
Pada kejadian sebelumnya, Mesir diduga bertanggung jawab karena serangan itu dikaitkan dengan kebijakan terhadap apa yang mereka sebut "aktivitas ilegal" di sisi selatan perbatasan mereka dengan Sudan.
Emergency Lawyers, berbasis di ibu kota Sudan, Khartoum, telah menyoroti berbagai serangan yang mereka yakini dilancarkan Mesir. Mereka menyebut Mesir tidak hanya melanggar kedaulatan Sudan, tapi juga menunjukkan kurangnya kendali pemerintah atas wilayah tersebut.
"Penargetan yang disengaja terhadap warga sipil tak bersenjata melanggar hukum humaniter internasional dan hak untuk hidup," demikian pernyataan pada advokat di Emergency Laywers.
"Serangan ini dapat dikategorikan sebagai kejahatan perang," kata mereka.
Jumlah korban tewas dalam serangan itu, menurut Emergency Lawyers, berpotensi meningkat.
Surat kabar Sudan Tribune, yang berbasis di Paris, melaporkan bahwa jumlah korban tewas bisa jauh melampaui angka yang dilaporkan oleh Emergency Lawyers. Mereka mengutip kesaksian seorang penyintas yang mengatakan bahwa masih banyak orang lain yang terluka akibat serangan udara tersebut.
Apa yang sebenarnya terjadi?
Menurut penyintas yang diwawancara Sudan Tribune, serangan udara mulai terjadi sekitar jam enam pagi, waktu setempat.
Saksi mata itu berkata, pesawat menembakkan lebih dari lima rudal langsung ke arah tenda yang dihuni para penambang. Rudal itu menghancurkan tenda-tenda dan lubang galian yang masih berisi orang di dalamnya.

Sumber gambar, Getty Images
Liputan mendalam BBC News Indonesia langsung di WhatsApp Anda.
Klik di sini
Akhir dari Whatsapp
Sudan Tribune Juni lalu memberitakan, militer Mesir diduga mengerahkan pesawat nirawak (drone) dan meluncurkan artileri untuk menyasar lokasi penambangan rakyat di wilayah yang sama.
Serangan pada Juni lalu tersebut yang menewaskan sejumlah orang.
Baca juga:
Sebelumnya, serangkaian insiden sporadis terjadi. Aparat Mesir yang menjaga perbatasan membakar peralatan, memusnahkan tempat penampungan sementara, serta melepaskan tembakan peluru tajam untuk membubarkan para pekerja tambang.
Beberapa hari setelah kejadian itu, badan perbatasan Mesir mengumumkan bahwa pihaknya bersama militer telah memulai operasi keamanan besar-besaran di sepanjang perbatasan. Tujuannya, kata mereka, untuk mencegah migrasi ilegal, penyelundupan narkoba, dan penambangan ilegal.
Pada saat yang sama, pemimpin de facto Sudan mengumumkan penyelidikan atas serangan yang mereka sebut menewaskan puluhan orang tersebut.
Emas menjadi inti dari ketegangan di wilayah perbatasan ini.
Perang saudara yang masih berlangsung di Sudan memicu lonjakan aktivitas penambangan rakyat.
Penambangan tersebut berisiko tinggi dan dilakukan oleh warga sipil menggunakan peralatan sederhana tanpa izin resmi, terutama di daerah-daerah terpencil di dekat perbatasan Sudan dan Mesir.
Wilayah yang kaya sumber daya emas, seperti yang berada di negara bagian River Nile, terletak di sepanjang perbatasan. Daerah seperti ini sulit diawasi.
Secara historis, kawasan kaya emas ini juga berada dekat jalur penyelundupan lintas batas. Berbagai laporan meyakini, emas hasil penambangan rakyat berpotensi masuk ke dalam jaringan penyelundupan tersebut.
Pasukan perbatasan Mesir, Juni lalu, mengumumkan mereka menyita 86 ton bijih emas beserta peralatan pencarian emas skala kecil.






























