Tujuh daerah di Indonesia terpapar gelombang 'panas ekstrem', bagaimana kondisi di negara-negara Asia lainnya?

    • Penulis, Derek Cai, Orchi Othondrila dan Bimala Chaudhary
    • Peranan, BBC World Service
    • Melaporkan dari, Singapura, Bangladesh, dan Nepal

Sejumlah daerah di Indonesia akan menghadapi 'panas ekstrem' dalam puncak fenomena El Nino pada Agustus-Oktober 2023, kata BMKG.

Daerah-daerah itu, antara lain, adalah Sumatra bagian tengah hingga Selatan, Riau bagian Selatan, Jambi, Lampung, Banten, dan Jawa Barat.

Dan, bagaimana dengan kondisi di negara-negara lain di Asia?

Di tengah hujan maupun panas, Mohammad Shukkur Ali, harus bekerja menarik becak di jalanan ibu kota Bangladesh, Dhaka.

Pekerjaan itu sungguh berat bagi pria berusia 50-an tahun seperti Mohammad Shukkur Ali, karena membutuhkan fisik yang kuat.

Tetapi tahun ini, cuaca panas memperburuk keadaan. Suhu di Dhaka mencapai 40,6 derajat Celsius pada bulan April, yang merupakan rekor tertinggi.

Namun Ali, yang tinggal bersama istri dan dua anaknya di kamar kos, mengatakan dirinya tidak punya pilihan lain.

“Saya tetap harus bekerja karena kami miskin,” katanya.

Ali bekerja selama delapan jam setiap hari di Gulshan, sebuah kawasan makmur dengan apartemen mewah, kantor-kantor perusahaan, dan sejumlah kedutaan asing.

Untuk masuk ke area tersebut saja, dia harus mengenakan jaket, semacam seragam yang melapisi kemejanya, dan itu membuatnya semakin merasa gerah.

Cuaca panas yang melanda negara itu diperburuk oleh keterbatasan bahan bakar minyak akibat perang di Ukraina, sehingga pemadaman listrik sering terjadi.

Jutaan orang di seluruh dunia, termasuk di Amerika Utara dan Eropa menghadapi panas terik tahun ini.

Banyak kota mencatat rekor suhu terpanas. Para ilmuwan juga mengatakan bahwa Juli “hampir pasti” akan menjadi bulan terpanas yang pernah tercatat.

Negara-negara di dunia telah berjanji akan menjaga tingkat pemanasan global tidak lebih dari 1,5C –batas yang dianggap sebagai ambang batas untuk mencegah dampak terburuk perubahan iklim dengan mengurangi emisi bahan bakar fosil.

Para ilmuwan mengatakan ada kemungkinan ambang batas itu akan terlampaui dalam empat tahun ke depan.

Suhu rata-rata Bumi saat ini berkisar 1,1 derajat Celsius lebih hangat dibandingkan era pra-industri. Namun yang mengkhawatirkan, peningkatan suhu itu bahkan lebih tinggi di Asia pada tahun ini.

Sebuah laporan baru-baru ini, yang disusun oleh puluhan pakar iklim, menemuan bahwa suhu pada awal tahun ini naik 2 derajat Celsius di banyak wilayah Asia, yang dihuni oleh lebih dari 4,5 miliar orang.

Dampak panas ekstrem paa tahun ini juga telah dirasakan di negara-negara di seluruh benua.

Setidaknya 23 orang tewas akibat cuaca panas di Korea Selatan sejak Mei hingga Agustus, melebihi tiga kali lipat dibanding periode yang sama tahun lalu.

Suhu di beberapa wilayah negara itu telah meningkat hingga 38 derajat Celsius. Pada Kamis lalu, ratusan peserta Jambore Pramuka Dunia ke-25 di Busan mengalami kelelahan akibat panas. Sementara bagian lain dari negara itu mengalami hujan lebat dan banjir.

Jepang mengeluarkan peringatan sengatan panas di separuh wilayah negaranya pada pertengahan Juli, menyusul suhu di berbagai tempat mencapai rekor tertinggi.

Tokyo mencatat rekor tertinggi 38 derajat Celsius, lebih tinggi 8 derajat Celsius dibandingkan rata-rata musim panas di kota itu.

Dhanya dalam satu pekan di bulan Juli, media lokal melaporkan bahwa lebih dari 9.000 orang dirawat di rumah sakit akibat sengatan panas di seantero Jepang.

China mencatat suhu tertingginya, ketika suhu di kota Xinjiang melonjak menjadi 52 derajat Celsius pada Juli. Sebulan sebelumnya, ibu kota Beijing mencatat hari terpanas di bulan Juni dengan suhu 51 derajat Celsius Itu adalah rekor tertinggi selama lebih dari 60 tahun.

Di India, gelombang panas yang hebat menyapu bagian utara negara itu pada Mei, dengan suhu naik ke rekor 49,2 derajat Celsius di beberapa bagian ibu kota, Delhi.

Asia Tenggara juga mengalami rekor suhu di sejumlah negara pada bulan April dan Mei - yang biasanya merupakan bulan terpanas di wilayah tersebut.

Gelombang panas adalah salah satu bencana alam paling mematikan di dunia, yang terkadang membunuh lebih banyak orang dibandingkan gempa bumi, angin topan, atau banjir.

Gelombang panas juga dapat melelehkan jalan, merusak infrastruktur, dan memicu kebakaran hutan. Beberapa ahli menyebut gelombang panas sebagai bencana tersembunyi karena fatalitasnya sering kali tidak langsung terlihat.

Gelombang panas juga bisa memicu kondisi yang sudah ada sebelumnya, seperti diabetes yang dapat memburuk karena kemungkinan dehidrasi saat panas.

Panas yang ekstrim juga membuat jantung bekerja lebih keras. Kenaikan suhu inti tubuh setengah derajat saja dapat meningkatkan detak jantung hingga 10 detak per menit.

Menurut Mayo Clinic, sengatan panas dapat terjadi ketika suhu inti tubuh naik dan bertahan di atas 40 derajat Celsius.

Kondisi itu dapat menyebabkan kegagalan organ, serangan jantung, hingga kematian jika tidak ditangani segera.

Panas meningkatkan kelembaban di udara dan “keringat di kulit Anda tidak bisa menguap begitu saja [dan menghilangkan panas] dalam kelembapan,” kata Winston chow, seorang profesor iklim perkotaan di Singapore Management University.

“Jadi berbahaya ketika tubuh kehilangan kemampuan alaminya untuk mendinginkan diri.”

Menurut ahli fisiologi di Indiana University Bloomington, Zach Schlader, temperatur bola basah 35 derajat Celsius, yang oleh para ilmuwan disebut sebagai ukuran panas ditambah kelembapan adalah “batas absolut” yang dapat ditoleransi oleh manusia.

Senthil Logesh, seorang buruh konstruksi berusia 26 tahun asal India di Singapura, mengatakan bahwa tempat berteduh dan titik air harus dipasang di tempat dia bekerja saat ini.

Suhu panas di beberapa area di kota ini, yang biasanya humid sepanjang tahun, telah mencapai 37 derajat Celsius pada Mei, menyamai rekor yang tercatat empat dekade lalu.

Suhu bola basah dipantau di lokasinya bekerja, dan para pakerja diminta beristirahat ketika suhunya terlalu tinggi.

Namun, Logesh yang bekerja hampir 10 jam setiap hari dalam seminggu, mengatakan bahwa orang-orang selalu “basah karena berkeringat”.

Profesor Chow mengatakan dalam beberapa dekade mendatang, populasi di Asia diperkirakan berlipat ganda, dengan pertumbuhan terjadi di kota-kota tingkat dua di Thailand, Indonesia, dan Vietnam.

“Bukan cuma akan ada lebih banyak konstruksi yang dikerjakan, tetapi itu juga akan dilakukan dalam kondisi yang lebih panas, jadi kita perlu mengurangi risikonya bagi orang-orang yang rentan,” kata dia.

Sementara pengurangan emisi penting untuk mencegah dunia dari pemanasan lebih lanjut, Profesor Chow mengatakan bahwa negara-negara perlu beradaptasi dengan gelombang panas, yang intensitas dan frekuensinya akan meningkat.

Menghadapi gelombang panas

Di negara-negara kaya Asia Tenggara seperti Singapura misalnya, infrastruktur yang ada dapat melindungi orang-orang dari panas, seperti AC yang tersedia di mal dan pemukiman.

Singapura juga berencana membangun lebih banyak ruang hijau, jalan setapak yang teduh, dan mengubah desain bangunan untuk menawarkan lebih banyak tempat berteduh.

Namun, negara-negara miskin di kawasan ini tidak bisa menerapkan hal serupa. Bahkan ketika ada rencana mengatasi panas, mereka biasanya kekurangan dana sering mengabaikan komunitas yang lebih miskin

Thailand, misalnya, memiliki sistem peringatan dini tingkat nasional untuk gelombang panas, meminta orang mencari tempat berlindung atau mengenakan pakaian berwarna terang, kata Chaya Vaddhanaphuti, salah satu penulis laporan gelombang panas Asia.

"Tapi tidak semua orang bisa melakukan itu, seperti tunawisma, penyandang disabilitas, atau orang tua. Rencananya juga perlu disesuaikan dengan kelompok rentan ini," katanya kepada BBC.

“Itupun dengan asumsi orang-orang benar-benar menerapkan apa yang disarankan. Ini lebih seperti rekomendasi umum ketimbang instruksi khusus.”

Salah satu contoh rencana anggaran rendah yang terlihat cukup sukses adalah dengan yang dikembangkan oleh Kota Ahmedabad di barat India pada 2013, setelah mengalami gelombang panas dahsyat yang menewaskan 1.344 orang.

Pemerintah mengecat atap rumah-rumah kumuh migran untuk mendinginkannya. Seperempat dari rumah tangga di kota ini merupakan migran.

Taman-taman umum juga dibuka sepanjang hari agar pedagang kaki lima dan pekerja konstruksi punya tempat berteduh. Kota-kota India lainnya telah mencoba mereplikasi rencana ini.

Namun para kritikus mengatakan semestinya ada lebih banyak upaya yang dilakukan untuk masyarakat rentan, karena mereka sering kali tidak memiliki sarana perlindungan dan akses ke infrastruktur untuk menghadapi gelombang panas.

Pada suatu malam di tengah musim panas yang terik di Nepal, Krishni Tharu yang berusia 30 tahun tidur di kamar yang sama dengan dua anak dan ibu mertuanya. Mereka sekeluarga berbagi satu kipas angin.

Di Kota Nepalgunj, tempat dia bekerja sebagai buruh konstruksi, suhu mencapai 44 derajat Celsius pada bulan Juni.

Nepal menghangat selama musim panas, khususnya pada Mei hingga Juli. Data pemerintah juga menunjukkan bahwa suhu rata-rata meningkat setiap tahun.

Dari pekerjaannya yang melelahkan selama 10 jam sehari, dari pagi hingga senja, Tharu biasanya menghasilkan uang US$4,5 (Rp68.500) per hari untuk menghidupi keluarganya.

Menurutnya, pekerjaannya yang dilakukan di luar ruangan terasa kian sulit dalam beberapa tahun terakhir akibat suhu panas yang semakin parah.

Namun dia tidak bisa berhenti bekerja begitu saja. Mengurangi pendapatan yang berharga bagi keluarganya bukanlah suatu pilihan.

“Tidak ada jalan keluar. Saya harus bekerja,” katanya kepada BBC.

Bagaimana di Indonesia?

Di Indonesia, Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) telah memperingatkan sejumlah daerah akan menghadapi panas ekstrem dalam puncak fenomena El Nino pada Agustus-Oktober 2023.

Plt Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan, mengatakan daerah yang dimaksud antara lain Sumatra bagian tengah hingga Selatan, Riau bagian Selatan, Jambi, Lampung, Banten, dan Jawa Barat.

Menurut Plt Deputi Bidang Klimatologi BMKG Ardhasena Sopaheluwakan, daerah-daerah itu akan mengalami hujan yang sangat kecil sehingga akan menyebabkan kekeringan.

Dia juga telah mengingatkan Kementerian Pertanian untuk memitigasinya, terutama di wilayah yang memiliki banyak lahan pertanian.

“Jawa Barat ini banyak sawah, kalau mereka terkena dampak El Nino yang cukup parah, maka harus melakukan langkah siaga, seperti mengelola air hujan, atau memanen air hujan seperti di Sulawesi Tengah," tuturnya.

Orchi Othondrila adalah reporter BBC Bangla yang tinggal di Dhaka. Bimala Chaudhary adalah reporter BBC Nepal yang tinggal di Kathmandu.