NASA siapkan peluncuran perdana roket raksasa ke Bulan

Space Launch System (SLS) adalah roket baru untuk era baru ekspedisi ke Bulan.

Sumber gambar, NASA

Keterangan gambar, Space Launch System (SLS) adalah roket baru untuk era baru ekspedisi ke Bulan.

Badan antariksa Amerika Serikat (NASA) sedang mempersiapkan roket raksasa terbarunya untuk penerbangan perdana ke bulan.

Dijuluki Sistem Peluncuran Antariksa (SLS), roket ini dibawa ke landasan 39B di Pusat Antariksa Kennedy di Florida untuk lepas landas yang dijadwalkan untuk tanggal 29 Agustus.

Penerbangan debut ini adalah tes tanpa awak, namun misi di masa depan akan mengirim astronaut kembali ke permukaan bulan untuk pertama kalinya dalam lebih dari 50 tahun.

SLS yang panjangnya mencapai 100 meter itu dibawa ke landasan menggunakan traktor.

Roket mulai bergerak dari gedung perakitan di Kennedy pada Senin (15/8) malam, waktu setempat, namun dengan kecepatan laju sedikit di atas 1km/jam, ia butuh waktu 8-10 jam untuk menempuh perjalanan sejauh 6,7km itu.

Baca juga:

SLS

Sumber gambar, NASA

Keterangan gambar, Tidak akan ada awak dalam misi ini, namun manekin yang ditempeli banyak sensor akan merekam kondisi selama misi berlangsung.

Ini adalah momen penting bagi NASA, yang pada bulan Desember akan merayakan ulang tahun ke-50 Apollo 17, misi pendaratan manusia terakhir di Bulan.

NASA telah berjanji akan kembali dengan program Artemis, menggunakan teknologi yang cocok dengan era modern (Artemis adalah saudari kembari dewa Yunani Apollo dan dewi Bulan).

NASA melihat misi kembali ke Bulan sebagai persiapan untuk membawa astronaut ke Mars pada tahun 2030-an atau tak lama setelahnya.

SLS akan memiliki daya dorong 15% lebih besar dari roket Saturn V yang membawa Apollo. Kekuatan ekstra ini tidak hanya memungkinkan roket tersebut membawa astronot jauh dari Bumi, tapi juga banyak peralatan dan kargo sehingga para awak dapat pergi dalam waktu yang lama.

Infografis perbandingan tinggi roket dan muatan maksimumnya.

Kapabilitas kapsul tempat tinggal para awak, juga, telah ditingkatkan. Disebut Orion, ruangannya lebih luas satu meter, yaitu lima meter, dibandingkan modul komando di tahun 1960-an dan 1970-an.

“Bagi semua orang yang memandang Bulan, bermimpi akan hari ketika umat manusia kembali ke permukaan bulan – kawan, kami di sini! Kami akan kembali. Dan perjalanan itu, perjalanan kami, dimulai dengan Artemis 1,” kata administrator NASA, Bill Nelson.

“Peluncuran berawak pertama, Artemis 2, akan dilakukan dua tahun dari sekarang pada 2024. Kami berharap pendaratan pertama, Artemis 3, bisa terjadi pada 2025,” katanya kepada BBC News.

NASA telah berjanji bahwa misi ketiganya akan menyaksikan perempuan pertama yang mendarat di permukaan Bulan.

SLS

Setelah SLS tiba di landasannya, para teknisi hanya punya sekitar satu setengah pekan untuk membuat roket tersebut siap terbang.

Tiga kemungkinan kesempatan terbang ada pada akhir bulan, mulai dari Senin 29 Agustus.

Jika masalah teknis atau cuaca buruk mencegah roket lepas landas pada tanggal tersebut, usaha berikutnya dapat dilakukan pada hari Jumat 2 September, dan, bila gagal, Senin 6 September.

Cakupan misi ini adalah mengirim Orion mengelilingi Bulan kemudian membawanya kembali ke Bumi untuk mendarat di Samudera Pasifik di lepas pantai California.

Tujuan utama uji penerbangan ini ialah mengecek apakah pelindung panas pada kapsul dapat bertahan saat reentri ke atmosfer Bumi.

Ilustrasi kapsul Orion

Sumber gambar, ESA

Keterangan gambar, Ilustrasi kapsul Orion yang didorong melalui antariksa oleh European Service Module.

Mitra utama dalam misi ini adalah Eropa.

Badan Antariksa Eropa menyediakan modul propulsi yang dipasang di belakang Orion, mendorongnya melalui ruang angkasa.

“Lebih dari 10 negara di Eropa telah mengusahakan kontrobusi ini dari Badan Antariksa Eropa. Ini adalah momen yang sangat penting bagi kami,” produsen kendaraan antariksa Airbus, Siân Cleaver, menjelaskan.

“European Service Module ini bukan sekadar muatan, bukan sekadar alat – ini adalah elemen yang sangat kritis karena Orion tidak bisa sampai ke Bulan tanpa kami.”

Sementara Nasa mengembangkan SLS, pengusaha roket Amerika Elon Musik tengah menyiapkan kendaraan yang jauh lebih besar lagi di fasilitas litbangnya di Texas.

Ia menyebut roket raksasanya Starship, dan roket tersebut akan berperan dalam misi Artemis di masa depan dengan menghubungkan diri dengan Orion untuk membawa astronot turun ke permukaan Bulan.

Astronot

Sumber gambar, NASA

Keterangan gambar, Pria terakhir di Bulan: Gene Cernan memimpin misi Apollo 17 pada Desember 1972.

Seperti SLS, Starship belum pernah terbang. Tapi tidak seperti SLS, Starship telah dirancang supaya bisa digunakan kembali dan karena itu seharusnya lebih murah untuk dioperasikan.

Asesmen baru-baru ini dari badan pengawas pemerintah federal AS, Office of Inspector General, yang mengaudit program-program Nasa menemukan bahwa empat misi pertama SLS akan membutuhkan biaya lebih dari US$4 miliar – jumlah uang yang disebut “tidak berkelanjutan”.

Nasa mengatakan perubahan dalam caranya mengontrak industri akan mengurangi ongkos produksi secara signifikan di masa depan.