You’re viewing a text-only version of this website that uses less data. View the main version of the website including all images and videos.
Mengapa semakin banyak kaum muda memilih untuk sering pindah tempat kerja?
Alex Christian, BBC Worklife
Banyak yang dulu percaya bahwa seorang pekerja sebaiknya menetap di satu perusahaan untuk jangka panjang – atau setidaknya beberapa tahun. Tetapi kini, lebih sering pindah kerja ternyata dapat mempercepat kemajuan jenjang karier seseorang.
Dalam 18 bulan terakhir, Anna, 29 tahun, telah ganti pekerjaan sebanyak tiga kali. Dalam periode itu, karier pemasar digital yang berbasis di London ini telah berkembang cepat.
Di setiap posisi barunya dia bekerja dengan klien profil tinggi, memperoleh pengalaman yang lebih banyak, dan memperoleh keterampilan yang lebih dalam yang sangat berguna di pasar kerja yang dinamis.
Ada juga hasil signifikan lainnya: perpindahan pekerjaan Anna yang berturut-turut berarti gajinya meningkat 30% dalam waktu singkat.
“Saya tidak akan berada di posisi saya sekarang kecuali saya terus berganti pekerjaan,” jelasnya.
“Saya memulai dari start-up kecil, dan dengan cepat naik pangkat. Setiap posisi baru saya selalu lebih tinggi dari posisi sebelumnya – saya tidak akan menerima upah seperti sekarang dengan menunggu peningkatan jabatan.”
Baca juga:
Alih-alih merencanakan langkahnya secara strategis, Anna, yang nama belakangnya dirahasiakan demi keamanan pekerjaannya, mengatakan bahwa dia memilih untuk berganti pekerjaan – bahkan industri – setiap kali ada peluang yang lebih baik.
“Kecuali saya benar-benar menikmati peran itu, saya tidak melihat gunanya bertahan selama bertahun-tahun,” tambahnya.
“Jika saya dapat menemukan pekerjaan yang lebih memuaskan dan secara efektif naik jabatan di tempat lain, maka berapa lama saya tinggal di sebuah perusahaan seharusnya tidak menjadi masalah.”
Pekerja seperti Anna yang meninggalkan jenjang karier tradisional, dan melompat dari satu pekerjaan ke pekerjaan lainnya, sering kali mendapat stigma; pada 1970-an, job hopping (pindah-pindah pekerjaan) disamakan dengan gelandangan dan dicap 'Sindrom Hobo' oleh psikolog industri.
Dengan demikian, kebiasaan ini telah menerima reputasi buruk di banyak tempat; dari kalangan perekrut dan hingga tingkat pimpinan.
Namun, stereotip ini mungkin sudah ketinggalan zaman.
Dalam pasar tenaga kerja yang ketat dan lingkungan di mana perusahaan menunjukkan semakin sedikit loyalitas kepada pekerja, banyak dari mereka yang melompat-lompat tempat kerja justru menikmati hasilnya.
Pertanyaannya: apakah pendekatan terhadap pekerjaan ini berkelanjutan – dan dapatkah itu kembali menghantui mereka yang melakukan begitu banyak langkah cepat?
Pergeseran generasi
Bagi generasi yang lalu, kontrak kerja menyiratkan bahwa perusahaan akan menghargai loyalitas dengan peningkatan jabatan dan upah.
Pemahaman ini, bagaimanapun, mulai tergoyahkan pada 1980-an.
“Banyak perusahaan melakukan perampingan dan menghemat uang melalui PHK massal,” jelas Christopher Lake, asisten profesor manajemen di University of Alaska Anchorage, AS.
“Lebih banyak pekerja mulai merasa mudah tersingkirkan, dan pekerjaan mereka dapat hilang kapan saja.”
Setelah era itu, berpindah secara strategis di lapangan kerja menjadi lebih umum, kata Lake.
Pada 1990-an, sebuah mentalitas baru telah berkembang: job hopping (berpindah-pindah tempat kerja).
“Ketimbang membiarkan kemajuan mereka didikte oleh satu perusahaan, banyak pekerja terdorong untuk mengelola karier mereka sendiri: berpindah antar perusahaan sesuai kebutuhan untuk maju, memperoleh keterampilan baru, atau mencari peluang baru.”
Baru-baru ini, job hopping – yang didefinisikan Lake sebagai pergantian pekerjaan setahun sekali – telah berkembang, dengan pekerja yang lebih muda mendorong sebagian besar gerakan ini.
Biro Statistik Tenaga Kerja AS menunjukkan bahwa tidak hanya karyawan berusia di bawah 34 tahun yang paling sering berganti pekerjaan (rata-rata 1,3 tahun untuk karyawan berusia 20 hingga 24 tahun pada Januari 2020, dibandingkan 4,9 tahun untuk mereka yang berusia 35 hingga 44 tahun), tetapi mereka juga melakukannya lebih sering: rata-rata masa jabatan telah menyusut sejak 2010.
Setelah Pengunduran Diri Besar-besaran dan krisis perekrutan, job hopping tampaknya semakin meningkat
Dalam sebuah studi LinkedIn Februari 2022 terhadap lebih dari 20.000 pekerja AS, 25% Gen Z dan 23% milenial mengatakan mereka berharap atau berencana untuk meninggalkan tempat kerja mereka saat ini dalam enam bulan ke depan.
Lake mengatakan dengan pilihan yang lebih banyak, pekerja memiliki peluang lebih besar untuk pindah kerja.
“Agar seseorang dapat bergerak, mereka membutuhkan pilihan yang cukup untuk menemukan pekerjaan yang lebih baik.”
Namun, tambah Lake, ada juga perubahan generasi dalam sikap terhadap pekerjaan.
“Kami telah melihat interpretasi ulang yang berkembang tentang apa itu karier bagi orang-orang, bahkan sebelum Pengunduran Diri Besar-besaran. Model tradisional adalah bekerja untuk perusahaan yang akan secara efektif memutuskan kemajuan Anda untuk Anda. Hari ini, orang-orang otonom – mereka ingin mengendalikan karier mereka.”
Siapa yang diuntungkan oleh berpindah pekerjaan?
Dalam banyak kasus, ketika seorang pekerja pindah, mereka mengambil langkah maju lebih besar di jalur karier mereka.
“Ketika orang berganti pekerjaan, mereka mengumpulkan keterampilan, kemampuan, dan pengetahuan yang dapat mereka gunakan untuk peran di masa depan,” kata Lake.
“Seorang pekerja yang berpindah-pindah pekerjaan kemungkinan akan memiliki lebih banyak pengalaman, yang mengarah ke lebih banyak variasi pekerjaan dan perusahaan yang tersedia bagi mereka.”
Lauren Thomas, ekonom Eropa di situs web ulasan perusahaan Glassdoor, yang berbasis di London, mengatakan bahwa para pekerja sering kali berpindah pekerjaan karena proses internal yang lambat di perusahaan mereka.
“Pindah ke pekerjaan baru bisa menjadi cara yang lebih cepat dan mudah untuk maju ke tingkat berikutnya dalam karier.”
Karyawan sering diberi imbalan finansial karena berganti peran juga.
Di Inggris, data Office for National Statistics (ONS) menunjukkan pekerja yang berganti pekerjaan dalam waktu satu tahun sejak memulai peran memiliki pertumbuhan upah per jam yang lebih tinggi secara konsisten dibandingkan mereka yang menetap; pekerja berusia 16 sampai 24 tahun adalah yang paling diuntungkan dari segi gaji.
Di AS, analisis terhadap 18 juta gaji pekerja menunjukkan upah para pengalih pekerjaan pada tahun 2021 melebihi mereka yang bertahan; di beberapa industri, pekerja menerima kenaikan gaji hampir 12%.
“Job hopping adalah salah satu cara termudah untuk mendapatkan kenaikan gaji yang signifikan,” kata Thomas.
“Bertahan lama dalam peran yang sama dapat menghasilkan gaji di bawah pasar, sementara mencari pekerjaan baru biasanya berarti langsung menerima harga pasar.”
Stigma dari pekerja senior
Namun, perpindahan pekerjaan sering kali disertai dengan stigma – terutama dari manajer perekrutan yang lebih tua dan lebih senior.
“Job hopping dianggap berbeda oleh tenaga kerja dan agen perusahaan, seperti para eksekutif dan bos,” jelas Lake.
“Sebagian besar berasal dari frustrasi menginvestasikan waktu, uang, dan energi dalam mempekerjakan seseorang, hanya untuk mereka tinggal selama beberapa bulan.”
Stigma juga mungkin datang dari perbedaan generasi: mereka yang telah menghabiskan beberapa dekade di sebuah perusahaan, dan mencapai puncak tangga karier, seringkali menjadi pengambil keputusan utama.
“Melompat-lompat pekerjaan adalah tanda bahaya bagi perekrut – hanya saja lebih diabaikan selama krisis perekrutan,” kata Lake.
“Saat pasar kerja semakin ketat persaingannya, saat itulah perusahaan bisa benar-benar pilih-pilih lagi. Resume yang menunjukkan terlalu banyak pergerakan dapat dengan cepat dihilangkan dari kumpulan pelamar; sehingga kandidat itu mungkin lebih sulit menemukan pekerjaan baru.”
Dalam jangka panjang, pekerja dengan rekam jejak berpindah terus-menerus mungkin akan terhambat di kemudian hari.
“Semakin lama mereka berpindah pekerjaan, kemungkinan besar mereka akan melamar lowongan dan, seiring waktu, bertemu dengan manajer yang tidak mau mempekerjakan mereka karena khawatir mereka tidak akan bertahan,” kata Lake.
Perubahan terus-menerus meninggalkan pekerjaan dan memulai pekerjaan baru juga dapat membentuk pola perilaku yang berpotensi bermasalah; karyawan yang menghadapi masalah di tempat kerja dapat tergoda untuk berhenti daripada menyelesaikannya, berdampak pada prospek karir jangka panjang mereka.
“Seorang karyawan yang terlalu sering berpindah pekerjaan dapat berarti mereka tidak berada dalam posisi yang cukup lama untuk benar-benar mempelajari peran atau mendapatkan keterampilan baru,” kata Thomas.
“Ini pada akhirnya dapat merusak karier seseorang: mungkin menjadi sulit untuk menunjukkan kemahiran dan pencapaian sebelumnya kepada pemberi kerja baru.”
Sementara penelitian ONS menunjukkan para pencari kerja biasanya mengalami pertumbuhan upah per jam yang lebih besar, data yang sama menunjukkan bahwa mereka umumnya masih dibayar lebih sedikit secara keseluruhan per jam daripada pekerja yang bertahan dalam pekerjaan jangka panjang.
Daripada secara bertahap mengumpulkan keahlian dan modal sosial di sebuah perusahaan, para pencari kerja dapat menemukan diri mereka terjebak dalam lingkaran, dan memulai dari awal, selamanya dalam keadaan transisi antara peran baru dan lama.
Perubahan pekerjaan yang terus-menerus juga dapat menimbulkan kerugian psikologis.
“Ini bisa menjadi lingkaran setan,” kata Lake. “Anda berada di pekerjaan baru dan itu bagus untuk sementara waktu, hanya untuk menemukan ada hal-hal yang tidak Anda sukai dan mulai mencari yang berikutnya segera setelah itu. Naik turunnya proses itu benar-benar melelahkan secara emosional .”
Melangkah dengan benar
Thomas percaya bahwa mengingat prevalensinya, berpindah pekerjaan tidak lagi tabu. Namun, penerimaannya umumnya bergantung pada industri.
Dia menunjuk pada sektor teknologi sebagai contoh di mana pengusaha lebih mudah menerima banyak perusahaan yang tercantum di CV.
"Mereka melihatnya sebagai tanda pengalaman yang beragam, alih-alih tidak dapat diandalkan."
Di sektor lain, meski tugas singkat sesekali cenderung diabaikan, pola perpindahan pekerjaan yang konsisten – peran baru setiap tahun atau lebih – dapat menimbulkan kecurigaan di antara perekrut.
Sampai pada waktunya pekerja yang lebih muda dan sering berpindah akhirnya menempati posisi sebagai perekrut, kemungkinan besar generasi yang lebih tua saat ini akan lebih memilih pekerja yang lebih loyal.
Dengan demikian, beberapa strategi muncul sebagai kunci untuk berpindah pekerjaan yaitu: menjelaskan perpindahan sebagai taktik jangka pendek untuk kemajuan karir jangka panjang, dengan memungkinkan pekerja untuk mencapai jabatan yang lebih tinggi dengan lebih cepat.
“Sebagian besar berasal dari membuat langkah yang tepat pada waktu yang tepat,” kata Lake.
Dia menambahkan bahwa gerakan lateral memiliki risiko yang lebih besar karena pekerja mungkin akhirnya menukar satu set masalah dengan yang lain.
“Ini harus menjadi peningkatan keseluruhan: jika seseorang memiliki riwayat pekerjaan yang melompat-lompat selama lima hingga 10 tahun terakhir, maka mereka benar-benar perlu berpikir apakah langkah mereka selanjutnya benar-benar akan menguntungkan karier mereka.”
Untuk alasan ini, pekerja yang lebih muda di awal lintasan karir mereka sering kali memiliki peluang terbesar untuk berpindah pekerjaan.
Anna tahu bahwa berpindah pekerjaan bukanlah pilihan untuk jangka panjang: harapannya adalah bahwa itu akan berakhir dengan peran barunya.
“Perusahaan-persahaan tempat saya bekerja sebelumnya tidak pernah menawarkan saya kesempatan berkembang atau kemajuan dalam karier,” katanya.
“Saya hanya dibiarkan berasumsi bahwa, jika beruntung, saya mungkin akan mendapatkan kenaikan jabatan setelah tiga tahun atau lebih. Dan itulah mengapa saya pindah-pindah. ”
Lake mengatakan sampai perusahaan lebih menghargai loyalitas, berpindah pekerjaan tidak akan terhindarkan.
“Saya berharap itu berbeda, tetapi seorang karyawan tidak dapat menganggap perusahaan mereka akan mengurus mereka. Pelatihan, peluang pengembangan, dan perencanaan kesuksesan adalah insentif yang sangat penting yang membantu mempertahankan pekerja lebih lama.”
“Sebaliknya, untuk maju dan memiliki karir yang memuaskan, karyawan sering kali harus menjadi peserta aktif dan bergerak di sekitar pasar kerja.”
Versi bahasa Inggris dari artikel ini, The case for job hopping, bisa Anda baca di laman BBC Worklife.