'Tuhan menyelamatkannya, tetapi iblis menemukannya' - Curahan hati orang tua bayi-bayi yang dibunuh Lucy Letby

- Penulis, Vibeke Venema dan Kirstie Brewer
- Peranan, BBC News
Orang tua bayi-bayi yang dibunuh oleh Lucy Letby memberikan kesaksian di Pengadilan Manchester, Inggris, soal bagaimana pembunuhan berantai tersebut menimbulkan dampak mengerikan bagi kehidupan mereka.
Letby akan menghabiskan sisa hidupnya di penjara tanpa peluang bebas bersyarat karena telah membunuh tujuh bayi dan mencoba membunuh enam bayi lainnya.
Para orang tua korban menyampaikan dampak yang mereka rasakan atas perbuatan Letby, sebelum mantan perawat itu dijatuhi hukuman. Mereka mengatakan beberapa bayi yang masih hidup kini cacat.
Baca juga:
Di pengadilan, keluarga bayi-bayi tersebut muncul di ruang publik, beberapa di antaranya menangis. Para juri juga tampak kesal saat mendengarkan kesaksian mereka.
Letby menolak hadir untuk mendengarkan penderitaan yang ditimbulkannya.
Anonimitas para orang tua dilakukan untuk melindungi identitas bayi dan keluarganya.
Mereka disebut sebagai bayi A hingga P dalam laporan ini.
Peringatan: Artikel ini mengandung rincian yang mungkin membuat Anda merasa tidak nyaman.
Ibu dari Bayi A dan B
“Anda pikir Anda berhak mempermainkan Tuhan dengan kehidupan anak-anak kami.”
Bayi A dibunuh pada 8 Juni 2015 dan Letby berusaha membunuh saudara perempuannya, Bayi B, 28 jam kemudian. Bayi B akhirnya selamat.
“Kami sangat trauma sehingga tidak dapat mengingat malam ketika Anda membunuh anak kami,” kata ibu mereka dalam sebuah pernyataan.
"Setelah kehilangan (Bayi A) kami diliputi rasa takut soal saudara perempuannya (Bayi B)."
"Kami sangat bersukur kami mengkhawatirkannya, karena itu menyelamatkan nyawanya… selalu ada anggota keluarga kami yang mengawasinya.”
“Kami tidak tahu Anda menunggu kami pergi agar bisa menyerang,” tambahnya.
“Anda pikir anda bisa memasuki dan membalikkan hidup kami, tapi Anda tidak akan pernah menang."
"Kami harap Anda berumur panjang dan menghabiskan hari-hari dengan menderita atas apa yang telah Anda lakukan.”
Ibu dari bayi C
“Mengetahui bahwa pembunuhnya mengawasi kami rasanya seperti cerita horor.”
Ibu dari Bayi C teringat akan “gelombang emosi yang luar biasa” yang dia rasakan ketika pertama kali menggendong Bayi C, yang dia sebut sebagai “anak kecil saya yang penuh semangat”.
Bayi C dibunuh pada 14 Juni 2015.
Dia mengenakan kalung dengan lambang jejak kaki dan tangan bayinya setelah kematiannya.
Namun ketika Letby ditangkap, dia merasa “sangat dilema” karena perawat itulah yang mengambil sidik jari tersebut.
Dia menangis ketika menceritakan dampak tindakan Letby terhadap keluarganya.
“Tidak ada hukuman yang sebanding dengan penderitaan luar biasa yang kami rasakan akibat tindakan Anda.”

Sumber gambar, KEPOLISIAN CHESHIRE
Ibu dari Bayi D
"Saya sangat ingin merasakan keberadaanya, menciumnya, memeluknya."
Ibu Bayi D memegang mainan kelinci sambil bercerita dari kursi saksi.
Setelah putrinya dibunuh pada tanggal 22 Juni 2015, dia mendesak ada jawaban, namun awalnya dia diberitahu bahwa itu bukan urusan polisi.
“Saya sangat merindukan (Bayi D). Saya sangat ingin merasakan keberadaannya, menciumnya, memeluknya. Saya sangat ingin menjaganya tetap aman.”
Dia mengaku kehilangan kepercayaan diri “sebagai seorang perempuan, seorang teman, seorang istri”, dan pernikahannya berantakan.
“Terkadang sulit untuk berupaya bersama-sama untuk tetap kuat.”
"Sejak (Bayi D) meninggal, saya hidup di balik bayang-bayang saya sendiri.”
Ibu dari Bayi E dan F
“Dunia kami hancur ketika kami menyadari sedang berhadapan dengan orang jahat yang menyamar sebagai perawat yang penuh perhatian.”
Letby membunuh Bayi E pada 4 Agustus 2015. Dia mencoba membunuh saudaranya, Bayi F, 24 jam kemudian.
Ibu dari anak laki-laki kembar tersebut mengatakan bahwa keluarga mereka serasa “dihukum seumur hidup karena kejahatan Letby”.
Dia mengatakan putranya yang selamat dari upaya pembunuhan Letby memiliki kebutuhan yang kompleks setelah serangan itu.
Dia masih takut meninggalkan anaknya sendirian.
Ketika Letby pertama kali diidentifikasi sebagai tersangka pembunuhan, dia dan suaminya merasa “dibohongi, diperdaya, dan sangat patah hati”.
Dia menggambarkan absennya Letby di pengadilan sebagai “sebuah kejahatan terakhir yang dilakukan seorang pengecut”.
Ayah dari Bayi G
"Kondisi anak kami memengaruhi setiap aspek kehidupan kami."
Bayi G menjadi cacat parah akibat tindakan Letby.
Perawat itu dinyatakan bersalah karena mencoba membunuh Bayi G dua kali pada September 2015.
“Setiap hari saya duduk di sana dan berdoa. Saya berdoa supaya Tuhan menyelamatkannya."
"Tuhan menyelamatkannya, tetapi iblis menemukannya,” kata ayah Bayi G tentang momen ketika mereka di rumah sakit.
Pengadilan mengetahui bahwa Bayi G kini buta, mengalami kelumpuhan otak dan skoliosis progresif.
Menurut ayahnya, Bayi G membutuhkan perawatan yang intesif, sehingga ibunya hanya tidur sekitar dua jam setiap malam.
“Kami melihat keluarga lain memancing dengan anak-anak mereka, bermain sepak bola, dan hal-hal lain yang tidak bisa kami lakukan."
"Dia tidak akan pernah bisa menginap, sekolah, punya pacar, dan menikah.”
Ibu dari Bayi I
Liputan mendalam BBC News Indonesia langsung di WhatsApp Anda.
Klik di sini
Akhir dari Whatsapp
“Sebagian dari kami ikut mati bersamanya.”
Sang ibu menceritakan Bayi I tampak aktif, senang dan makan dengan baik sebelum meninggal.
Keluarga itu berencana membawa pulang putri mereka setelah diberi tahu bahwa bayi itu pingsan lagi pada 23 Oktober 2015. Letby dinyatakan bersalah telah membunuhnya.
"Dia adalah putri kecil kami yang cantik dan saya bahkan tidak bisa menjelaskan rasa sakit ketika kami kehilangan dia."
Sang ibu mengatakan seluruh tubuhnya gemetar ketika diberitahu bahwa seseorang telah ditangkap karena pembunuhan putrinya.
"Kami berdua benar-benar hancur karena seseorang bisa melakukan sesuatu yang sangat jahat kepada gadis kecil kami yang berharga."
Dia menjalani terapi dan mengonsumsi obat selama enam tahun terakhir sebagai dampak kematian putrinya.
“Kami sangat terpuruk secara mental”.
Setelah kematian Bayi I, mereka memiliki putri lain yang lahir prematur dan dengan kondisi sepsis, namun dia mengatakan sangat sulit baginya untuk kembali ke unit neonatal.
Dia menolak meninggalkan putrinya sampai bayi itu bisa pulang.
"Saya tidak akan meninggalkan anak-anak saya di rumah sakit. Kami tidak akan pernah memberikan kepercayaan semacam itu dengan anak-anak kami lagi.
"Kami tidak akan pernah melupakan fakta bahwa putri kami disiksa hingga tidak bisa melawan.”

Sumber gambar, KEPOLISIAN CHESHIRE
Ayah dari Bayi L dan M
"Letby terus memperhatikan saya."
Si pembunuh berantai berupaya membunuh anak laki-laki kembar tersebut pada awal April 2016.
Ayah mereka mengatakan bahwa bayangan putranya yang pingsan “selamanya terpatri” di benaknya.
Melalui sebuah pernyataan, keluarga mengatakan bahwa awalnya diberitahu oleh dokter bahwa kejadian tersebut “normal pada bayi prematur”.
“Kami tidak tahu bahwa satu tahun atau lebih setelah kelahiran mereka, polisi akan datang mengetuk pintu dan menyampaikan kabar bahwa ini mungkin merupakan kasus percobaan pembunuhan.”
Dia telah mengonsumsi obat antidepresan akibat peristiwa ini, namun “meskipun obat tersebut membantu, obat itu tidak akan pernah bisa mengobati perasaan saya sebagai orang tua”.
Selama persidangan, dia mengatakan suatu hari dia sempat duduk di bangku di mana Letby bisa melihatnya, dan dan perawat itu terus memperhatikannya.
"Itu membuat saya merasa tidak nyaman dan gelisah sampai saya harus pindah pada sore hari, supaya tidak terlihat olehnya.”
Ibu dari Bayi N
“Kami yakin Bayi N cacat permanen akibat cedera yang dideritanya.”
Letby berusaha membunuh bayi laki-laki itu pada Juni 2016.
"Hari ketika kami dipanggil ke unit neonatal adalah hari terburuk dalam hidup kami," kata ibunya dalam sebuah pernyataan.
Dia mengatakan bahwa dia tahu putranya sengaja disakiti.
“Saya tidak tahu apakah itu naluri seorang ibu, tapi saya tahu.”
“Kami hanya mempertanyakan mengapa bayi laki-laki yang sehat dan baik-baik saja, dalam satu menit menjadi muntah darah dan membutuhkan CPR pada menit berikutnya.”
"Kami berdua menghadapi bayang-bayang itu setiap hari.”
Dia mengaku "senang dan lega" ketika polisi menghubungi mereka untuk menginformasikan bahwa mereka sedang menyelidiki Letby.
“Kami merasa didengarkan.”
Keluarga tersebut masih menempatkan kamera di kamar tidur anak mereka yang kini berusia tujuh tahun sehingga dapat memeriksa keadaannya saat dia tidur.
“Kami sangat protektif,” katanya.
“Kami ingin dia bersekolah di rumah karena kami tidak ingin orang lain yang menjaganya.”
Orang tua dari Bayi O dan P
"[Kejadian] itu telah menghancurkan saya sebagai seorang laki-laki dan sebagai seorang ayah."
Pasangan ini memiliki anak kembar tiga yang semuanya adalah laki-laki.
Dua di antaranya dibunuh, masing-masing pada tanggal 23 dan 24 Juni 2016.
Orang tua Bayi O dan P menyampaikan pernyataan melalui video yang direkam dan diputar di pengadilan.
"Melalui kejadian 'yang pertama' dengan bayi lainnya yang masih bertahan sangatlah sulit,” kata sang ibu.
"Saya mulai menyalahkan diri saya sendiri. Saya pikir saya telah menularkan infeksi kepada ketiga bayi ini.”
Setelah kematian Bayi P, Letby tampak “sangat sedih”, kata sang ibu, yang berterima kasih kepada si perawat pada saat itu.
Dia membenci kenyataan bahwa Letby adalah orang terakhir yang menggendong putranya.
Ayah dari ketiga bayi kembar ini menceritakan bagaimana dia menyaksikan keadaan Bayi O memburuk hingga meninggal.
“Mengerikan menyaksikannya. Itu adalah peristiwa yang tidak akan pernah saya lupakan,” katanya. Dia terisak sepanjang pernyataannya sehingga banyak orang di pengadilan ikut menangis.
Dia mengalami gangguan mental, kecanduan alkohol, dan sempat ingin bunuh diri akiabt peristiwa ini. Dia masih dinyatakan sakit jangka panjang.
"Kemarahan dan kebencian saya terhadap [Letby] tidak akan pernah hilang," katanya. "Itu akan terus menghantui kami dan akan selalu berdampak pada kehidupan kami."









