Gempa Maroko: 'Saya kehilangan anak-anak saya, rumah saya, semua milik saya'

Sumber gambar, Getty Images
Di sebuah desa kecil bernama Algou yang terletak di lereng Pegunungan Atlas, teriakan terdengar dari bawah reruntuhan beberapa saat setelah gempa mengguncang Maroko.
Jam demi jam berlalu, tapi tim penyelamat tak kunjung datang untuk membantu upaya warga menyelamatkan orang yang terperangkap di balik reruntuhan.
Teriakan itu berganti dengan kesunyian.
Tiga hari kemudian, petugas pemadam kebakaran Spanyol yang merupakan tim profesional pertama yang mencapai desa terpencil itu berharap mereka masih memiliki waktu untuk menyelamatkan warga di balik reruntuhan.
Ketika melalui jalanan dan bangunan yang luluh lantak, mereka menengarai bahwa tidak ada harapan selamat bagi para warga tersebut.
Kenyataan suram itu diperkuat oleh reaksi anjing-anjing mereka, Igor dan Teddy, yang telah dilatih untuk menggonggong tiap kali menemukan tanda-tanda kehidupan.
Kedua anjing itu tidak menggonggong sama sekali.
"Tidak ada yang bisa kami lakukan di sini,” kata Juan Lopez, petugas pemadam kebakaran yang telah dua kali melakukan penyelamatan bencana gempa.
Yang pertama adalah ketika timnya berangkat ke Turki pada bulan Februari setelah gempa dahsyat di sana.

“Di Maroko, rumah-rumah dibangun dari batu. Di Turki, rumah-rumah dibuat dari baja dan jauh lebih kuat,” kata Lopez.
“Kami tidak akan menemukan siapa pun di sini,” katanya, sementara rekan-rekannya menganggukan kepala tanda setuju.
Baca juga:
Kami mengikuti tim penyelamat saat mereka beralih menuju ke desa berikutnya.
Tidak ada tempat yang mulus ketika gempa terjadi, namun hanya sedikit tempat yang lebih buruk dari Ait Hmid.
Wilayah itu tadinya berada di tepi lereng gunung, namun yang tersisa hanyalah puing-puing yang berserakan.

Sulit memahami bahwa reruntuhan batu bata dan batu ini dulunya adalah rumah bagi 28 orang yang tinggal di sana. Hanya tujuh orang selamat dari gempa.
Seiring kami berjalan menuju puncak reruntuhan, Omar Ait Mahdi tampak menerawang jauh ke lembah di seberang.
Di belakangnya, 20 pria sedang sibuk melakukan upaya penyelamatan dengan peralatan seadanya, mulai dari beliung, sekop dan tangan.
Istri Omar kini tengah dirawat di rumah sakit. Sementara kedua putrinya, Hanane yang berusia 17 tahun dan Khadijah yang berusia 14 tahun, belum ditemukan.

Tiba-tiba, orang-orang tampak tergesa-gesa melakukan upaya penyelamatan. Lantunan doa sayup-sayup terdengar.
Jenazah kedua perempuan itu akhirnya ditemukan.
Saat selimut dan tandu dibawa menuju puncak puing-puing, Omar memberi tahu kami dengan suara pelan bahwa dia ingin mengirimkan pesan.
"Saya ingin orang-orang membantu saya. Saya ingin dunia membantu saya. Saya kehilangan anak-anak saya, rumah saya, semua milik saya," tutur Omar.

Pihak berwenang Maroko berada di bawah tekanan untuk menerima bantuan dari lebih banyak negara.
Sejauh ini, negara itu hanya menerima bantuan dari empat negara. Sementara tawaran dari sejumlah negara, termasuk Prancis dan Jerman, telah ditolak.
Paman Hanane dan Khadijah, Hamid, datang untuk menghibur Omar, namun dia sendiri menangis.
“Kami sangat membutuhkan bantuan. Dan kami membutuhkannya dari siapa pun yang mau memberikannya,” kata Hamid.









