AS tangkap Presiden Venezuela Nicolas Maduro dalam serangan besar – Apa yang diketahui sejauh ini?

Sumber gambar, Truth Social
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, memperingatkan pemimpin baru Venezuela, Delcy Rodríguez, bahwa ia dapat "membayar harga yang sangat mahal, mungkin lebih mahal daripada Maduro" jika ia "tidak melakukan apa yang benar".
Dalam sebuah wawancara dengan The Atlantic pada Minggu (04/01), Trump menyebut bahwa bagi Venezuela, "Perubahan rezim, apa pun sebutannya, lebih baik daripada yang ada sekarang. Tidak mungkin menjadi lebih buruk."
Komentarnya kepada majalah The Atlantic muncul setelah presiden Venezuela yang digulingkan, Nicolás Maduro, dan istrinya, Cilia Flores, ditangkap, pada Sabtu (03/01).
Maduro dijadwalkan hadir di pengadilan New York pada Senin (05/01).
AS menuduh Maduro, yang didakwa dengan perdagangan narkoba dan pelanggaran senjata, menjalankan rezim "narko-teroris"—klaim yang telah Maduro bantah.

Sumber gambar, Reuters
Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, menegaskan bahwa AS tidak sedang berperang dengan Venezuela, meskipun Maduro dan istrinya telah ditangkap dan dibawa ke AS.
Dalam beberapa wawancara TV pada Minggu (04/01) pagi, Rubio membela operasi militer AS di Venezuela. Dia menekankan bahwa tindakan tersebut tidak berarti AS sedang berperang dengan negara Amerika Selatan itu.
"Kita sedang berperang melawan organisasi perdagangan narkoba. Itu bukan perang melawan Venezuela," kata Rubio kepada program Meet the Press di NBC pada Minggu pagi.
Liputan mendalam BBC News Indonesia langsung di WhatsApp Anda.
Klik di sini
Akhir dari Whatsapp
Rubio juga mengatakan kepada CBS bahwa jika Venezuela tidak "membuat keputusan yang tepat", AS "akan tetap menerapkan berbagai Langkah untuk memastikan bahwa kepentingan kita dilindungi".
Itu termasuk "karantina" yang telah diberlakukan AS terhadap minyak Venezuela, katanya.
"Kita akan menilai semuanya berdasarkan apa yang mereka lakukan, dan kita akan melihat apa yang mereka lakukan," tambahnya.
Apa saja yang dikatakan Donald Trump usai AS menyerang Venezuela?
Berikut adalah poin-poin utamanya:
AS akan 'mengendalikan' Venezuela: Trump mengatakan AS akan "mengendalikan" Venezuela hingga terjadi "transisi kekuasaan yang aman, tepat, dan bijaksana". Saat ditanya bagaimana tepatnya AS akan melakukannya, namun Trump tidak memberikan rincian
Infrastruktur minyak: Ia juga mengatakan perusahaan-perusahaan AS akan masuk ke Venezuela untuk memperbaiki infrastruktur minyaknya dan "mulai menghasilkan uang untuk negara tersebut [Venezuela]".
AS siap untuk serangan kedua: Ia mengatakan AS siap untuk melancarkan serangan kedua ke Venezuela, tetapi kemungkinan besar tidak diperlukan
Sebuah 'kemitraan': Trump juga berbicara tentang 'kemitraan' antara AS dan Venezuela, yang menurutnya akan membuat warga Venezuela 'kaya, mandiri, dan aman'. Ia menyebut Maduro sebagai 'diktator yang tidak sah'
Apa selanjutnya?: Maduro dan istrinya akan dibawa ke New York untuk menghadapi tuduhan terkait perdagangan narkoba, tambah presiden AS. Maduro sebelumnya telah membantah menjadi pemimpin kartel narkoba.
Apa yang dikatakan otoritas Venezuela?
Wakil Presiden Venezuela, Delcy Rodríguez menegaskan, Nicolás Maduro adalah presiden satu-satunya di Venezuela. Rodríguez menyampaikan hal ini di televisi pemerintah setelah serangan AS ke negaranya.
"Hanya ada satu presiden di Venezuela, dan namanya adalah Nicolás Maduro," katanya.
Pernyataan ini muncul setelah Presiden AS Donald Trump mengatakan, bahwa ia adalah pemimpin baru negara tersebut, setelah Maduro ditangkap oleh pasukan AS.
Lebih lanjut Rodríguez mengatakan, pemerintah siap "membela" Venezuela, setelah Trump menyatakan AS akan "mengendalikan" negara tersebut.

Sumber gambar, Televisi Negara Venezuela
Rodríguez juga menyerukan warganya tetap tenang dan bersatu.
Ia mengecam "agresi bersenjata terhadap negara kita" dan menambahkan bahwa dewan pertahanan negara telah "diaktifkan".
Tanggapan lebih lanjut dari pemerintah Venezuela dapat diharapkan dalam beberapa jam ke depan, katanya.
"Kepada Venezuela kita, kepada rakyat kita: Ada pemerintahan yang jelas di sini," katanya, sambil menambahkan bahwa Venezuela terbuka untuk dialog yang terhormat dan sesuai dengan hukum.
Baca juga:
Dalam perkembangannya, Mahkamah Agung Venezuela memutuskan Delcy Rodríguez, yang telah menjabat sebagai wakil presiden Maduro, harus mengambil alih peran presiden sementara.
Mahkamah tinggi mengatakan, menempatkan Rodríguez pada posisi tersebut penting "untuk menjamin keberlanjutan pemerintahan dan pertahanan komprehensif negara", menurut Reuters.
Mahkamah akan membahas masalah ini untuk "menentukan kerangka hukum yang berlaku untuk menjamin kesinambungan negara, administrasi pemerintahan, dan pertahanan kedaulatan dalam menghadapi ketidakhadiran paksa Presiden Republik", menurut Reuters.
Bagaimana reaksi pemimpin-pemimpin dunia ?
Malaysia: Kementerian Luar Negeri Malaysia menggunakan bahasa lebih tegas dalam tanggapannya. Mereka menyatakan, mereka "menolak segala bentuk campur tangan asing dalam urusan dalam negeri negara lain, serta ancaman atau penggunaan kekuatan".
Jepang: Kementerian Luar Negeri Jepang menanggapi serangan dan campur tangan AS dengan mengulang posisi mereka sebagai negara G7, dan menawarkan dukungan "untuk pemulihan demokrasi dan stabilisasi situasi di Venezuela".
Inggris: Perdana Menteri Keir Starmer mengatakan pemerintahannya "tidak akan menyesali" berakhirnya rezim Maduro, tetapi menolak terlibat dalam pembahasan apakah tindakan militer tersebut mungkin melanggar hukum internasional.
Rusia: Kementerian Luar Negeri Rusia mendesak Amerika Serikat "untuk mempertimbangkan kembali posisinya dan membebaskan presiden yang terpilih secara sah dari negara berdaulat beserta istrinya", serta menyatakan perlunya "dialog" antara Venezuela dan Amerika Serikat.

Sumber gambar, Reuters
China: Kementerian Luar Negeri China menyatakan "sangat terkejut dan dengan tegas mengecam penggunaan kekuatan secara terang-terangan oleh Amerika Serikat" dan mendesak Amerika Serikat "mematuhi hukum internasional"
PBB: Sekretaris Jenderal António Guterres menyatakan ia "sangat prihatin" dan memperingatkan tentang "preseden berbahaya", seraya mendesak penghormatan terhadap hukum internasional
Brasil: Presiden Lula mengatakan tindakan AS "melampaui batas yang tidak dapat diterima" dan merupakan "serangan serius terhadap kedaulatan Venezuela". Ia mendesak komunitas internasional untuk "menanggapi dengan tegas".
Argentina: Sekutu dari Trump, Presiden Javier Milei, mengatakan "kita merayakan jatuhnya diktator narkoba-teroris Maduro". Menawarkan bantuan Argentina dalam transisi negara ke pemerintahan baru, ia mengatakan "tidak ada setengah-setengah atau nuansa abu-abu di sini," tambahnya. "Anda berada di pihak KEBAIKAN, atau Anda berada di pihak KEJAHATAN."

Sumber gambar, Getty Images
Uruguay: Dalam pernyataan resmi, Presiden Yamandú Orsi mengatakan ia memantau perkembangan "dengan penuh perhatian dan keprihatinan serius" dan "menolak, seperti yang selalu dilakukannya, intervensi militer."
Prancis: Presiden Emmanuel Macron menyerukan agar kandidat oposisi Maduro pada tahun 2024 – Edmundo González – yang ia sebut sebagai "presiden", mengawasi transisi yang "damai dan demokratis".
Jerman: Maduro "telah membawa negaranya menuju kehancuran", kata Kanselir Friedrich Merz, tetapi menambahkan, pemerintah sedang meluangkan waktu untuk memutuskan apakah tindakan AS melanggar hukum internasional.
Italia: Perdana Menteri Giorgia Meloni mengatakan, "tindakan militer eksternal bukanlah cara untuk mengakhiri rezim totaliter", tetapi menambahkan bahwa "sah" untuk membela diri terhadap "serangan terhadap keamanan sendiri".
Spanyol: Perdana Menteri Pedro Sánchez mengatakan, Spanyol "tidak mengakui" rezim Maduro, tetapi "juga tidak akan mengakui intervensi yang melanggar hukum internasional". Ia menyerukan penghormatan terhadap Piagam PBB.
Uni Eropa: Perwakilan Tinggi untuk Urusan Luar Negeri, Kaja Kallas mengatakan Uni Eropa "telah berulang kali menyatakan" bahwa Maduro tidak memiliki legitimasi, tetapi menyerukan "pengekangan" dan penghormatan terhadap hukum internasional.
Analis: 'Akses AS ke ladang minyak Venezuela'
"Saya mendapat kesan dari pernyataan Trump sebelumnya, bahwa tidak ada rencana yang jelas selain ancaman yang jelas terhadap pemimpin de facto saat ini, Wakil Presiden Delcy Rodriguez, untuk mematuhi apa yang Trump inginkan. Dan apa yang Trump inginkan, seperti yang dia jelaskan, adalah akses AS ke ladang minyak Venezuela," tulis Koresponden BBC News bidang Departemen Luar Negeri AS, Tom Bateman.
Menurut Tom, motif ini disamarkan dalam janji untuk melepaskan kekayaan minyak yang besar bagi rakyat Venezuela, tetapi juga bagi AS, serta dalam tuntutan Trump akan "stabilitas" di negara-negara yang berdekatan dengan AS.
"Dia mengatakan Menteri Luar Negeri Marco Rubio telah berbicara dengan Rodríguez, yang "ramah" dan tampaknya patuh," kata Tom.
Namun, Rodríguez segera membantah hal ini dalam pidato di televisi pemerintah. Ia menyatakan pemerintah Venezuela siap mempertahankan negara dan menegaskan Maduro masih memegang kendali.

Sumber gambar, Pemerintah AS
Trump ditekan untuk memberikan rincian spesifik, tetapi tetap berpegang pada ambiguitas yang menjadi ciri khasnya. Saat ditanya apakah AS akan mengirim pasukan darat AS, ia hanya mengatakan bahwa ia tidak takut mengirimnya.
Dan ketika ditanya tentang tokoh oposisi di Venezuela, Maria Corina Machado, Trump mengatakan bahwa akan sulit baginya untuk memimpin karena ia tidak memiliki popularitas dan "hormat" yang cukup.
"Hal itu saja sudah cukup untuk memberi sinyal kepada sebagian orang di Venezuela, terutama pendukung Machado, bahwa Trump tidak serius dalam memperkuat Venezuela untuk masa depan demokratis atau adil, melainkan untuk mengeksploitasi kekayaan minyaknya," kata Tom.
Apa alasan Trump menyerang Venezuela dan menangkap Nicolas Maduro?
"Operasi ini dilakukan bekerja sama dengan penegak hukum AS," kata Trump dalam unggahannya di media sosial Truth Social.
"Detail lebih lanjut akan menyusul. Akan ada konferensi pers hari ini pukul 11 pagi, di Mar-a-Lago," tulisnya. Mar-a-Lago yang dia sebut adalah resor di Florida, AS, yang dimiliki oleh Trump.
Pemerintah AS sejak lama menuduh Nicolás Maduro memimpin organisasi perdagangan narkotik internasional. Maduro telah dan selalu membantah tudingan ini. Tuduhan ini juga tidak memiliki kekuatan hukum.

Sumber gambar, AFP via Getty Images
Trump tidak memberikan detail lebih lanjut tentang bagaimana Maduro ditangkap atau ke mana dia dibawa. Pemerintah Venezuela belum mengonfirmasi klaim ini.
Wakil Presiden Venezuela, Delcy Rodríguez, mengatakan pemerintahannya tidak mengetahui keberadaan Maduro maupun Ibu Negara, Cilia Flores.
Rodríguez berkata, pemerintah Venezuela menuntut bukti keberadaan keduanya sesegera mungkin.
Menurut CBS News, Maduro ditangkap Delta Force dari Angkatan Darat AS. Info ini mereka dapatkan dari seorang pejabat AS. Delta Force adalah unit kontraterorisme militer AS.

Sumber gambar, AFP via Getty Images
Sebelumnya Trump menjanjikan hadiah sebesar US$50 juta atau setara Rp649 miliar bagi siapapun yang memberi petunjuk agar pasukan AS dapat menangkap Maduro.
Hal itu, bersama dengan peningkatan besar-besaran kekuatan militer di kawasan tersebut selama beberapa bulan terakhir.
Beberapa jam sebelum klaim penangkapan Maduro, Trump memerintahkan militer AS menyerang Venezuela, terutama fasilitas militer mereka.
Di ibu kota Venezuela, Caracas, ledakan telah terdengar dan asap terlihat mengepul di langit kota.
Terdapat banyak laporan ledakan yang hampir bersamaan di beberapa tempat di Caracas, termasuk instalasi militer.

Sumber gambar, AFP via Getty Images
La Carlota, lapangan terbang militer di pusat kota, dan pangkalan militer utama Fuerte Tiuna terdampak ledakan, menurut sejumlah saksi mata. Beberapa video yang beredar di media sosial juga menunjukkan ledakan di dua tempat itu.
Beberapa permukiman di sekitar pusat militer itu lantas mengalami pemadaman listrik. Terdapat laporan yang belum dikonfirmasi tentang pesawat yang terbang di atas kota.
Setelah sejumlah ledakan itu, pemerintah Venezuela mengeluarkan pernyataan resmi yang mengecam serangan AS.
"Venezuela menolak, menyangkal, dan mengecam di hadapan komunitas internasional agresi militer yang sangat serius yang dilakukan oleh Pemerintah Amerika Serikat saat ini terhadap wilayah Venezuela," demikian pernyataan tertulis itu.
Maduro dilaporkan telah mendeklarasikan keadaan darurat nasional. Dia menyebut serangan ke negaranya merupakan upaya AS untuk merebut sumber daya minyak dan mineral negaranya.
Maduro telah "menandatangani dan memerintahkan pelaksanaan Dekrit yang menyatakan keadaan kekacauan eksternal di seluruh wilayah nasional".
Maduro juga telah memerintahkan semua rencana pertahanan nasional untuk dilaksanakan "pada waktu yang tepat dan dalam keadaan yang tepat".
Presiden yang kini belum diketahui kondisinya itu meminta semua kekuatan sosial dan politik di Venezuela untuk mengaktifkan rencana mobilisasi dan mengutuk "serangan imperialis ini."
Bagaimana reaksi warga Venezuela?
Vanessa Silva, seorang jurnalis yang tinggal di Caracas, melihat ledakan dari jendela rumahnya.
Dia mengatakan suara ledakan itu sangat besar dan lebih kuat dari halilintar, sehingga menyebabkan rumahnya bergetar.
Caracas adalah sebuah lembah. Akibatnya, ledakan yang terjadi bergema di seluruh kota.
"Jantung saya berdebar kencang dan kaki saya gemetar," kata Vanessa. Dia berkata merasa takut karena ledakan itu begitu dekat dari posisinya.
Vanessa bilang, Caracas saat ini sunyi, tapi semua orang masih saling mengirim pesan dengan panik untuk memastikan keadaan mereka baik-baik saja.
Seorang kerabatnya melihat sesuatu jatuh dari langit dan sepuluh detik kemudian melihat dan mendengar suara ledakan.

Sumber gambar, AFP via Getty Images
BBC juga telah berbicara dengan sejumlah jurnalis Venezuela lainnya. Mereka mencemaskan keselamatan diri dan keluarga mereka.
Jurnalis BBC berbicara dengan seorang wartawan melalui video. Dalam percakapan itu, dia tetap mematikan lampu. Dia tinggal cukup dekat dengan La Carlota, yang merupakan landasan udara militer di pusat kota Caracas. Dia bisa melihat apa yang terjadi dari jendelanya.
"Rasa adanya peristiwa yang terkoordinasi sangat kuat. Anda bisa membayangkan betapa menakutkannya hal itu bagi orang biasa, baik mereka setuju dengan Maduro atau menentangnya," kata jurnalis BBC Will Grant.
Artikel ini akan diperbarui secara berkala









