Komunitas Palestina terbesar di luar dunia Arab dan Israel berada di Cile, mengapa?

Sumber gambar, Getty Images
- Penulis, Fernanda Paúl
- Peranan, BBC World Service
Meskipun berjarak lebih dari 13.000 km dari Gaza atau Tepi Barat, Cile merupakan tempat tinggal setengah juta warga Palestina, komunitas terbesar di luar dunia Arab dan Israel.
Kini, komunitas Palestina di Cile ingin suara mereka didengar.
Sejak pecahnya pertikaian Israel-Hamas sebulan yang lalu, warga telah mengadakan berbagai aksi unjuk rasa di ibu kota Cile, Santiago. Ribuan orang mengutuk serangan Israel di Gaza.
Setelah serangan Hamas terhadap Israel pada 7 Oktober, yang menewaskan 1.400 orang dan lebih dari 200 disandera, pemerintah Israel melancarkan operasi darat dan pengeboman terhadap Gaza yang menewaskan lebih dari 10.000 orang, termasuk 4.300 anak, menurut Kementerian Kesehatan yang dikelola Hamas di Gaza.
Sambil mengenakan kufiya – syal tradisional dari Palestina – pengunjuk rasa berjalan melalui ibukota, Santiago, pada Sabtu (4/11).
Mereka membawa poster dan spanduk bertuliskan frasa-frasa seperti "Mereka ingin mengubur kami, tetapi mereka tidak tahu kami adalah benih" atau "Ini bukan perang, ini genosida".

Sumber gambar, Comunidad Palestina de Chile
Banyak warga Cile-Palestina merasa terhubung dengan krisis itu secara emosional karena mereka memiliki kerabat yang tinggal di Jalur Gaza atau di sekitarnya.
Selama ini, mereka berusaha untuk mempertahankan kontak dengan keluarga mereka di tengah pemutusan internet dan jaringan komunikasi yang dilakukan Israel.
Salah satu kasus yang menggerakan hati komunitas ini adalah ketika Ghassan Sahurie, seorang anak laki-laki Cile-Palestina berusia tujuh tahun yang hilang di Gaza selama beberapa hari hingga ia ditemukan di salah satu rumah sakit setempat.
"Kami sangat tersentuh dengan apa yang terjadi di Gaza. Sangat terdampak oleh gambar-gambar yang berasal dari sana," kata Diego Khamis, direktur eksekutif Komunitas Palestina di Cile, kepada BBC Mundo.
Duta Besar Palestina untuk negara Amerika Selatan, Vera Baboun, menjelaskan bahwa "secara historis, komunitas Palestina di Cile telah berkomitmen untuk menolak semua kekejaman yang dialami bangsa Palestina."
Tetapi bagaimana Cile bisa menjalin ikatan yang kuat dengan komunitas Palestina? Mengapa begitu banyak orang Palestina memutuskan untuk pindah ke negara yang begitu jauh?
Mengapa Cile memiliki komunitas Palestina yang besar?
Liputan mendalam BBC News Indonesia langsung di WhatsApp Anda.
Klik di sini
Akhir dari Whatsapp
Untuk memahami fenomena migrasi warga Palestina ke Cile, kita harus kilas balik ke akhir abad ke-19.
Wilayah Palestina, yang berada di antara Sungai Yordan dan Laut Mediterania, dianggap sebagai tanah suci bagi umat Islam, Yahudi, dan Kristen.
Tanah itu berada di bawah kuasa Kekaisaran Ottoman pada masa yang menegangkan itu.
"Kepergian warga Palestina, Suriah, dan Libanon terjadi di tengah krisis ekonomi, kemunduran Kekaisaran Ottoman, dan penindasan gerakan nasionalis Arab pertama di daerah itu," ungkap Ricardo Marzuca, seorang akademisi di Pusat Studi Arab Universitas Cile, kepada BBC Mundo dalam sebuah wawancara pada 2021.
Baca juga:
Bagi komunitas ini, seperti kebanyakan komunitas lainnya, Benua Amerika dipandang sebagai "dunia baru" yang penuh peluang.
Begitu banyak pemuda Palestina melakukan perjalanan ke Eropa melalui darat, kemudian melanjutkan lewat laut ke Buenos Aires di Argentina.
Tetapi alih-alih tinggal di ibu kota Argentina, yang lebih kaya dan lebih mirip Eropa, beberapa lebih memilih untuk menyeberangi Pegunungan Andes dan melanjutkan ke Cile, mungkin tertarik dengan tujuan yang lebih asing.
Mulai 1885 hingga 1940, terdapat sekitar 8.000 dan 10.000 orang Arab yang menetap di Cile, berdasarkan buku "The Arab World and Latin America (Dunia Arab dan Amerika Latin)", oleh Lorenzo Agar Corbinosla.
Setengah dari mereka adalah warga Palestina, yang mayoritas berasal dari tiga kota: Betlehem, Beit Jala, dan Beit Sahour.

Sumber gambar, Getty Images
Namun, kemudian gelombang migrasi lainnya terjadi.
Beberapa di antaranya berlangsung setelah Perang Dunia I, ketika jatuhnya Kekaisaran Ottoman, dan setelah Perang Dunia II ketika Israel dibentuk pada 14 Mei 1948.
Berdirinya negara Israel memiliki makna tersendiri untuk Palestina, yakni Nakba atau "bencana" yang merupakan awal dari tragedi nasional.
Saat itulah sekitar 750.000 warga Palestina melarikan diri ke negara lain atau diusir oleh pasukan Yahudi.
Seperti negara-negara muda lainnya, Cile membutuhkan imigran-imigran untuk memperkuat ekonominya dan mengisi wilayahnya.
Baca juga:
Kaum elite Cile biasanya lebih menyukai orang Eropa, yang ditawari tanah dan hak sejak awal abad ke-19, tetapi banyak orang Palestina dan Arab lainnya juga mengambil keuntungan dari dorongan itu.
"Ada semacam efek berantai, ketika kelompok-kelompok tertentu tiba di Cile dan membawa kerabat mereka," kata Marzuca.
"Sejumlah faktor membuat pemukimannya diminati: iklim, karena ada kesamaan antara wilayah Palestina dan Cile.
“{Kemudian] kebebasan, sesuatu yang sangat dirindukan setelah penindasan Kekaisaran Ottoman dan kemudian penindasan mandat Inggris; serta kemakmuran ekonomi," tambah akademisi tersebut.
Berkembangnya industri tekstil
Mereka yang datang dari Timur Tengah memilih untuk bekerja di bidang perdagangan dan tekstil, keputusan tersebut kelak menjadi kunci kelimpahan rezeki yang membuat komunitas itu tumbuh.
Mereka mengikuti tradisi, mereka tahu cara menawar, tetapi mereka juga memenuhi permintaan yang ada.
Komunitas Arab dan Palestina membawa barang dagang mereka ke pedesaan atau ke kota-kota Cile yang hanya menyediakan sedikit komoditas.
"Awalnya orang-orang Palestina mendedikasikan diri mereka untuk menjadi pedagang kaki lima, kemudian mereka memasuki usaha kecil dan pada 1930-an, ada kontribusi penting dari keluarga-keluarga ini dalam pengembangan tekstil," kata Marzuca.
Dengan demikian, anggota pertama keluarga Abumohor - yang kini mewakili salah satu kelompok ekonomi terbesar di Cile, dengan bisnis di bidang perdagangan, sektor keuangan dan bahkan sepak bola - keliling negara menawarkan barang dagangan grosir.

Sumber gambar, Getty Images
Contoh lain adalah perusahaan Casa Saieh, yang juga dimiliki oleh keluarga asal Palestina. Perusahaan itu pertama buka di kota Talca pada 1950-an.
Keturunan keluarga ini kemudian menjadi pengusaha terkenal: Álvaro Saieh, pemilik dan presiden perusahaan besar CorpGroup, yang saat ini memiliki investasi di sektor keuangan, ritel, dan bahkan media seperti surat kabar La Tercera.
Sementara, kelompok imigran lain mulai memproduksi kapas atau sutra, menggantikan pekerjaan artisanal lokal atau impor Eropa yang mahal.
Seiring berjalannya waktu, nama keluarga asal Palestina seperti Hirmas, Said, Yarur dan Sumar menjadi identik dengan industri tekstil yang kuat.
Setelah ekonomi mulai terbuka pada 1980-an dan 1990-an, dan menghadapi persaingan ketat dengan pedagang Tionghoa, sebagian besar orang Palestina kaya mengembangkan berbagai bisnis: keuangan, real estat, pertanian, penanaman anggur, pertanian, makanan, dan media.
Selain kontribusi mereka terhadap pembangunan ekonomi, mereka juga mendirikan sejumlah institusi beragam jenis.

Sumber gambar, Getty Images
Salah satu institusi yang paling penting adalah Deportivo Palestino – atau Palestina Berolahraga – tim sepak bola yang didirikan pada 1920 yang kini bersaing di divisi pertama Cile dan telah memainkan peran kunci dalam sejarah sepakbola negara Amerika Selatan itu.
Bagi duta besar Vera Baboun, tim ini adalah salah satu contoh paling "nyata" tentang pentingnya keberadaan warga Palestina di Cile.
Moto mereka adalah "lebih dari sebuah tim, seluruh bangsa".
Warga Palestina juga berhasil menetap di berbagai kota di seluruh Cile, hal ini menjadi kunci dalam menjalin hubungan dengan beragam komunitas di Cile.
Baca juga:
Kemudian di Santiago, mereka mengambil alih "perumahan Patronato" yang terkenal.
Permukiman itu dipenuhi restoran yang menawarkan daun anggur, shawarma atau permen Arab yang populer, serta alunan suara musik diaspora.
Pada puncaknya, daerah itu digambarkan sebagai Palestina kecil.
Nama-nama keluarga Palestina menonjol di bidang hukum, budaya dan bisnis, dan juga tokoh-tokoh politik penting: para pemimpin partai, senator, deputi, walikota dan anggota dewan berasal dari komunitas ini.
"Hal yang paling menarik tentang komunitas Palestina di Cile adalah mereka sepenuhnya terintegrasi sebagai orang Cile tetapi pada saat yang sama mereka secara intrinsik terhubung dengan tanah air mereka.
“Dan perjuangan Palestina hidup dalam kehidupan mereka," kata duta besar Vera Baboun.
‘Turcophobia’
Kehidupan di Cile tidak selalu mudah bagi komunitas Palestina, terutama di tahun-tahun pertama.
Sebab, para migran harus menghadapi prasangka dari banyak orang di populasi Cile yang sudah ada.
Orang-orang keturunan Palestina kerap merasa direndahkan dengan julukan "orang Turki".
Tak hanya karena mereka disebut dengan nama negara yang salah, tetapi mereka dianggap sama dengan kaum penindas mereka saat Kekaisaran Ottoman berkuasa.
"Di Amerika Latin, serta di sebagian besar dunia, paradigma orientalis peradaban berlaku dan fenomena yang dikenal sebagai Turcophobia terjadi," Marzuca menjelaskan.
"Ada penolakan dari kaum elit tertentu; dari masyarakat kelas atas Cile, di mana orang-orang Palestina dipandang sebelah mata.
“Mereka dianggap tidak bisa berkontribusi pada masyarakat, bahwa mereka ambisius dan tidak bermoral dari sudut pandang seksual," tambah akademisi itu.

Sumber gambar, Getty Images
Meskipun, orang Palestina di Cile setuju bahwa "Turcophobia" terjadi di masa lampau, komunitas itu kembali merasakan diskriminasi setelah serangan Hamas terhadap Israel dan serangan Israel di Gaza.
"Kami prihatin karena kami percaya bahwa 'Turcophobia' benar-benar sudah dilewati.
“Dan melihat pecahnya diskriminasi semacam ini setelah bertahun-tahun warga Palestina hadir di Cile tidak dapat diterima," kata Diego Khamis.
Khamis mengatakan komunitas Palestina di Cile mengakui Organisasi Pembebasan Palestina (PLO) – bukan Hamas – sebagai "satu-satunya wakil sah rakyat Palestina".
Mereka juga percaya " kekerasan bukanlah metode aksi politik yang valid".
Namun, mereka menambahkan bahwa krisis yang melanda Palestina selama beberapa dekade – termasuk pengeboman Israel di Gaza baru-baru ini –memperdalam hubungan yang dimiliki Cile-Palestina dengan tanah asal mereka.
"Ada suatu masa ketika sentimen Palestina di Cile tidak begitu jelas," ungkap Maurice Khamis, yang tiba di Cile pada 1952 dan sekarang menjadi presiden komunitas Palestina di negara itu kepada BBC Mundo.
"Tapi itu telah berubah. Hari ini apa yang terjadi di sana sudah menjadi transparan dan masalah-masalah menjadi terlihat."
"Tidak peduli seberapa besar kami berasimilasi di sini, darah lebih kental dari air. Darah itu penting.”









