Perang Aceh: Jejak sejarah pada monumen yang terbengkalai, ‘bukti fisik tertua’ invasi Belanda di Serambi Mekah?

Sebuah tugu peninggalan kolonial Belanda di pesisir Aceh yang diperkirakan berusia 149 tahun kini terbengkalai di pekarangan warga di Kota Banda Aceh. Monumen tersebut menandai serangan kedua Belanda dalam Perang Aceh, salah satu perang terlama dan rumit pada masa kolonial Belanda di Indonesia.

Tugu berbentuk obelisk itu berdiri kokoh di pekarangan, dengan tembok bangunan rumah mengitarinya. Keberadaannya jarang diketahui oleh penduduk setempat, seakan tersembunyi dari dunia luar.

Bangunan yang terletak di pinggir jalan raya di Banda Aceh itu sebenarnya merupakan situs cagar budaya.

Arkeolog meyakini monumen itu merupakan pusara 10 prajurit yang tewas di tangan pasukan Aceh pada 1874, namun sejarawan meragukan klaim ini.

Perang Aceh yang berlangsung selama puluhan tahun menjadi perang terlama dan rumit bagi pemerintah kolonial Belanda yang berambisi menguasai Indonesia—dulu bernama Hindia Belanda—sebab perlawanan rakyat Aceh yang tak pernah surut menguras keuangan dan nyawa serdadunya.

Baca juga:

Sekitar 37.500 orang tewas dari pihak Belanda, dan korban jiwa dari pihak Aceh hampir dua kali lipatnya—sekitar 70.000 orang—hingga 1914 saja.

Sejumlah sejarawan memiliki pendapat berbeda tentang kapan Perang Aceh berakhir, dengan di antaranya meyakini perang ini usai pada sekitar 1910-1912, ketika beberapa ulama terkemuka tewas dalam pertempuran.

Namun di benak sebagian rakyat Aceh, perang tidak benar-benar berakhir. Sebagian dari mereka melanjutkan pertempuran secara gerilya, hingga Jepang menguasai Aceh pada 1942.

Setelah Perang Dunia Kedua, ketika Belanda berusaha merebut kembali Indonesia, Aceh adalah satu-satunya wilayah yang tak coba mereka masuki kembali.

Perang itu dihapus dari sejarah Belanda karena dianggap sebagai “masa lalu yang memalukan”, kata penulis berkebangsaan Belanda, Anton Stolwijk, yang mendokumentasikan sejarah Perang Aceh.

Namun bagi Indonesia, perang Aceh membawa nama-nama tokoh seperti Cut Nyak Dhien, Cut Nyak Meutia, dan Teuku Umar dalam daftar pahlawan pejuang kemerdekaan Indonesia.

Kokoh berdiri meski diterjang tsunami

Tak ada papan nama yang menerangkan keberadaan monumen bernilai sejarah tersebut.

Sepintas, bangunan beton yang kokoh berdiri di pekarangan rumah ini mirip komadai, bidak catur khas Jepang berbentuk segi lima. Warnanya putih, dengan sudut yang mendongak ke langit dari balik rimbunan bunga asoka merah dan kuning.

Namun, pemolesan cat yang tidak merata di bagian belakangnya, menyisakan grafiti dengan cat hitam bertuliskan "SlanK" dan "Metallica"—merujuk pada dua nama band yang melegenda—dan simbol perdamaian di tengahnya.

Satu-satunya akses ke monumen itu adalah pintu masuk ke halaman rumah yang dibatasi pagar.

Muhammad Jamil bin Ali dan Cut Maulidar adalah pasangan suami istri yang tinggal di rumah tempat monumen itu berada.

Jamil mengungkapkan bahwa keluarga istrinya sudah menempati rumah itu selama empat generasi. Dahulu kala, wilayah itu ada lahan perkebunan yang dimiliki oleh Teungku di Anjong, ulama Aceh yang makamnya berlokasi tak jauh dari rumah tersebut.

"Semuanya tanah Teungku di Anjong, sebelum didiami sama keluarga nenek di atas nenek lagi," tutur Jamil kepada Rino Abonita, wartawan di Aceh yang melaporkan untuk BBC News Indonesia, Kamis (03/08).

Jamil menceritakan bahwa istrinya, Cut Maulidar, ketika kecil sering bermain di sekitar monumen yang berlokasi tak jauh dari bibir pantai di Banda Aceh.

Dalam serangan kedua ke Aceh, kata Jamil, ketika pasukan tentara kerajaan Hindia Belanda (KNIL) mendarat di Pantai Ceureumen, namun mereka dihadang oleh pasukan Aceh.

“Tertembaklah mereka di sini. Menurut nenek buyut kami di sini adalah tempat gugurnya 100 tentara, cuma yang disebut di situs hanya sepuluh,” ujarnya, menuturkan kisah yang diceritakan secara turun temurun di keluarganya.

Bencana tsunami 2004 yang menerjang kawasan itu mengubah topografi tanah secara drastis. Namun, monumen itu tetap kokoh berdiri.

Dijelaskan oleh Jamil, monumen itu sebelumnya berbentuk tugu dengan tinggi sekitar dua meter. Dua tingkat undakan menghiasi bagian bawah monumen itu.

Sayangnya, tsunami membuat topografi kawasan itu menjadi lebih rendah sehingga diputuskan untuk menimbun pekarangan rumah tersebut dengan semen.

Akibatnya, sebagian besar monumen itu turut tertimbun, dengan hanya menyisakan satu meter bagian atasnya.

Jamil yang bekerja di instansi pemerintah itu mengaku bahwa selama ini tugu tersebut dibiarkan di sana tanpa perawatan khusus. Hanya sesekali, ia dan istrinya membersihkan tugu itu secara ala kadarnya.

Sebuah plakat dengan tulisan berbahasa Belanda tertempel di bagian atas monumen itu. Namun untuk melihatnya, perlu menyibak rimbunan bunga asoka yang tumbuh subur di depannya.

"Di sini beristirahat sepuluh prajurit, menemui ajal dalam aksi kepahlawanan pada 6 Januari 1874 di saat menyerang benteng pertahanan di depan masjid," demikian keterangan yang tertulis pada tugu tersebut.

Jamil berkata sejumlah warga Belanda sesekali mendatangi rumah Jamil demi berkunjung ke monumen itu. Ia memperkirakan bahwa mereka adalah keturunan dari serdadu Belanda, namun Jamil tak yakin siapa sebenarnya yang terkubur di bawah tugu tersebut.

Tugu peringatan atau pusara serdadu?

Ambo Asse Ajis dari Perhimpunan Ikatan Ahli Arkeologi Indonesia meyakini objek peninggalan Belanda itu monumen sekaligus batu nisan bagi 10 prajurit, seperti dijelaskan dalam plakat monumen itu.

Penanda bahwa tugu itu sekaligus batu nisan, kata Ambo, adalah teks yang diukir di tugu itu secara eksplisit menjelaskan bahwa “di sini berbaring sepuluh prajurit atau perwira”.

“Sepuluh perwira ini dalam konteks sejarah tidak lain adalah pasukan yang diserahi tugas untuk merebut masjid raya.”

“Ketika mereka dalam proses merebut itu mereka berhadapan dengan pasukan Aceh yang sudah siap untuk mempertahankan masjid raya dan istana pada masa itu,” jelas Ambo.

Desa Peulanggahan—lokasi di mana tugu tersebut berada—dahulu kala merupakan salah satu benteng pertahanan pasukan Aceh saat menghadapi pasukan Belanda yang melakukan serangan ke pusat pertahanan Kesultanan Aceh di Masjid Raya Baiturrahman, kata Ambo

“Ketika sepuluh perwira ini meninggal di sini, itu menandakan bahwa pasukan Belanda berhasil merebut pertahanan Kesultanan Aceh di sini, sayangnya mereka meninggal,” jelasnya kemudian.

Pemerintah kolonial Belanda, lanjut Ambo, kemudian membangun tugu itu sebagai peringatan atas meninggalnya perwira mereka saat itu.

Dari sisi arkeologis, menurutnya, monumen ini sangat penting untuk dilestarikan karena tugu ini menandakan peperangan hebat dan melibatkan dua kekuatan besar pada masa itu.

Baca juga:

Akan tetapi, akademisi di bidang sejarah dari Universitas Syiah Kuala di Aceh, Teuku Bahagia Kesuma, tidak sepakat tugu itu diklaim sebagai pusara 10 prajurit Belanda.

Menurutnya, tugu itu hanya sekedar monumen peringatan “peristiwa monumental”, bahwa di tempat itu pernah terjadi “peristiwa bersejarah”.

Bahagia berpendapat sepuluh prajurit tersebut memang tewas di tempat itu, namun jenazah mereka dikuburkan di tempat lain.

"[Korban] Perang Aceh dahulu, pada awalnya itu tidak dikebumikan di sini, itu dibawa ke Jakarta," ujar Bahagia.

Lebih jauh Bahagia menambahkan bahwa hingga kini belum ada penelitian menyeluruh terkait monumen itu, termasuk siapa yang membangunnya.

"Dari beberapa literatur yang saya baca tidak ada penjelasan secara utuh siapa sebenarnya yang pertama kali membangun tugu itu. Apakah pihak pemerintahan kita, ataukah pihak pemerintahan Belanda?" ucapnya.

“Itu jelas dibangun oleh pemerintah kolonial,” ujar penulis berkebangsaan Belanda, Anton Stolwijk, menjawab pertanyaan BBC News Indonesia tentang siapa yang membangun monumen ini.

Namun penulis buku berjudul Aceh: In Het Spoor Van Een Koloniale Oorlog yang diterjemahkan dalam bahasa Indonesia pada 2021 itu mengaku tak dapat memastikan sepuluh prajurit yang dimakamkan di sana adalah serdadu Belanda atau prajurit Aceh.

“Karena tidak ada nama di monumen itu, tidak ada yang tahu siapa mereka. Keturunannya, mereka tidak akan mengetahui monumen ini,” katanya.

Apalagi, kata Stolwijk, kata "strijders" yang tertera dalam monumen itu untuk merujuk para pejuang yang terbaring di sana, adalah kata yang jarang digunakan pemerintah kolonial Belanda untuk menyebut serdadu mereka sendiri.

Lebih jauh Stolwijk mengatakan sangat jarang pemerintah kolonial Belanda tidak mencantumkan nama prajuritnya yang meninggal di pusara mereka. Itu membuatnya meragukan klaim bahwa yang dimakamkan di sana adalah serdadu Belanda.

Namun, dengan wujud monumen yang sebesar itu, ia tak yakin pemerintah kolonial Belanda membangun tugu peringatan itu untuk prajurit Aceh.

“Saya pikir satu-satunya cara untuk mengetahuinya adalah dengan mulai melakukan penggalian,” ujar Stolwijk.

“Akan menarik untuk menggali dan melihat apa yang sebenarnya ada [di bawah sana],” ujarnya kemudian.

Jurnalis Belanda yang menulis tentang Perang Aceh tersebut menelusuri sejarah monumen itu pada 2014 setelah mendapat informasi dari warga Belanda keturunan pasukan marsose tentang keberadaan objek peninggalan Belanda yang terbengkalai di dekat Pantai Ulee Lheue, kawasan yang terdampak parah oleh tsunami satu dekade sebelumnya.

Pasukan Marsose (Korps Marechaussee) adalah pasukan kontra gerilya yang dibentuk khusus pada 1890 untuk melawan pasukan Aceh. Mereka terdiri dari bumiputra, terutama dari Ambon, Jawa, Madura, Manado dan Nusa Tenggara.

Setelah bertanya-tanya ke warga sekitar, Stolwijk akhirnya menemukan monumen itu di pekarangan rumah warga.

“Sangat menarik bagi saya karena itu adalah objek sejarah yang cukup signifikan dan sepertinya tidak diketahui oleh pihak berwenang,” ujar Stolwijk.

‘Bukti fisik tertua’ invasi Belanda ke Serambi Mekah?

Stolwijk meyakini bahwa monumen ini “memiliki arti yang sangat besar dalam sejarah invasi Belanda di Aceh”.

Tahun 1874 yang tertera di monumen itu merupakan tahun ketika pemerintah kolonial Belanda menginvasi Aceh untuk kedua kalinya, setelah sebelumnya gagal pada invasi pertama mereka.

“Mereka menyerbu lagi dan terjadilah perebutan masjid raya di Banda Aceh dan banyak orang tewas dalam pertarungan itu,” kata dia.

“Menurut saya itu adalah bukti fisik tertua dari invasi itu. [Monumen] itu memang memiliki makna sejarah,” ujarnya kemudian.

Baca juga:

Seperti diketahui, pada abad ke-19, pemerintah kolonial Belanda memiliki ambisi untuk menguasai Aceh. Adapun Kesultanan Aceh yang saat itu dipimpin oleh Sultan Mahmud Syah, enggan mengakui kedaulatan Belanda atas wilayahnya.

Pemerintah Hindia Belanda kemudian menyerang Aceh dengan menembakkan meriam dari kapal Citadel van Antwerpen pada Maret 1873.

Pada April 1873, pasukan KNIL yang dipimpin oleh Jenderal Johan Harmen Rudolf Köhler berlabuh di pesisir barat Aceh, yang kala itu merupakan kawasan yang vital bagi lalu lintas perdagangan internasional.

Pendaratan pasukan Belanda itu menandai awal mula perang yang diklaim sebagai “perang terlama dalam sejarah Nusantara” oleh penulis Ibrahim Alfian dalam bukunya, Perang di Jalan Allah: Perang Aceh 1873 - 1912 yang diterbitkan pada 1987.

Pasukan Aceh yang dipimpin oleh Panglima Polim dan Sultan Mahmud Syah lantas menggempur pasukan Belanda, yang terpaksa mundur dari pantai Aceh pada 29 April 1873 setelah jenderal mereka tewas dalam pertempuran itu.

“Kejadian itu tidak pernah terjadi di kerajaan-kerajaan lain saat mereka melakukan invasi," kata Ketua Institut Peradaban Aceh, Heikal Afifa.

Penulis berkebangsaan Belanda, Anton Stojwilk, merekam kegagalan invasi pertama Belanda dalam bukunya berjudul Aceh: In Het Spoor Van Een Koloniale Oorlog, yang diterjemahkan dalam bahasa Indonesia dengan judul Aceh: Kisah Datang dan Terusirnya Belanda dan Jejak yang Ditinggalkan (2021).

Ia mengungkap hampir 500 serdadu Belanda tewas dalam invasi pertama itu. Kendati korban di pihak Aceh bisa jadi lebih tinggi, menurut Stolwijk, mundurnya pasukan Belanda ini merupakan kemenangan yang luar biasa bagi Aceh dan jadi aib bagi Belanda.

Namun, serangan terhadap pasukan Aceh tak berhenti sampai di situ.

Kala pemerintah Belanda bersiap melakukan invasi kedua, Angkatan Laut Belanda memblokade pantai Aceh agar Kesultanan Aceh tak dapat berhubungan dengan dunia luar.

“Untuk ekspedisi kedua akan dikerahkan enam batalion infanteri dengan masing-masing terdiri dari 1.250 tentara yang siap maju perang,” tulis Stolwijk dalam bukunya, mengutip surat kabar Algemeen Handelsblad terbitan Juli 1873 yang mendeskripsikan bagaimana persiapan invasi kedua dilakukan.

Alhasil, lebih dari 8.000 serdadu Belanda yang separuhnya direkrut dari sejumlah negara di benua Eropa dan sisanya lagi dari kelompok bumiputra, dipersiapkan untuk serangan kali ini.

Menurut Ketua Institut Peradaban Aceh, Heikal Afifa, dalam invasi kedua, pihak Belanda tidak sanggup lagi memobilisasi anggaran akibat kerugian yang mereka alami pada invasi pertama.

"Di tahapan kedua itu mereka sudah mulai mengorganisir tentara-tentara yang dari pribumi," jelas Heikal.

Sebanyak 3.000 tenaga kerja paksa, 26 tentara kavaleri, dua tukang potret, dan seorang pendeta juga dikerahkan untuk invasi kedua.

Dalam invasi kali ini, pasukan Belanda berlabuh di Kuala Gigieng, Aceh Besar, pada 9 Desember 1873. Kedatangan pasukan Belanda ini sekaligus menjadi penanda pertempuran berbabak-babak yang dicatat oleh sejarah.

Penulis Belanda, J. Kreemer, membagi Perang Aceh dalam beberapa periode. Ekspedisi pertama di bawah Jenderal J.H.R Kohler hanya berlangsung selama belasan hari, hingga pasukan Belanda dipukul mundur pada 29 April 1873.

Kemudian, ekspedisi kedua hingga pendudukan Kesultanan Aceh pada 9 Desember 1873 sampai 24 Januari 1874. Di masa inilah diperkirakan monumen peninggalan Belanda yang terbengkalai itu dibangun.

Selanjutnya, masa konsolidasi pendudukan Aceh dari April 1874 sampai Juli 1878, masa aksi kekerasan hingga babak ketika Perang Aceh dianggap berakhir mulai dari 1896-1910.

Akan tetapi, Paul van’t Veer, penulis Belanda lainnya, beranggapan Perang Aceh berakhir pada 1942, ditandai dengan masuknya Jepang ke wilayah Aceh.

Namun, penulis asal Aceh Ibrahim Alfian dalam bukunya Perang di Jalan Allah: Perang Aceh 1873-1912 (1987) memilih seirama dengan J. Jongejans, penulis Land en Volk van Atjeh: Vroeger en Nu (1939).

Ibrahim berpendapat perang ini berakhir pada 1912, ditandai dengan terbunuhnya sejumlah ulama yang memimpin perjuangan rakyat Aceh, seperti Tengku di Barat di tahun yang sama.

Terlepas dari perdebatan berapa lama Perang Aceh berlangsung, perang itu telah menghasilkan banyak kisah heroik dari kalangan rakyat Aceh. Sejak era kesultanan berakhir, api pertempuran tetap menyala baik di tangan ulama maupun rakyat.

Panglima Polim, Cut Nyak Dhien, Cut Nyak Meutia, dan Tengku Umar, adalah sebagian kecil dari tokoh Aceh yang namanya masuk ke dalam daftar pahlawan nasional.

Bagi Anton Stolwijk, Perang Aceh merupakan “perang kolonial terbesar bagi Belanda, baik dalam hal lamanya perang berlangsung, uang yang dihabiskan, nyawa yang dikorbankan, serta kehancuran yang diakibatkan”.

Namun anehnya, kata Stolwijk, sangat sedikit orang Belanda di era modern ini yang mengetahui sejarah Perang Aceh.

“Mereka tak pernah mendengar perang ini, mereka tidak tahu Aceh berada di mana. Mereka tidak mengajarkan di sekolah. Ini seperti sejarah yang memalukan bagi Belanda,” ujarnya.

‘Tidak kami bongkar karena ini benda bersejarah’

Salah satu yang kemudian tersisa dari invasi Belanda ke Aceh ialah monumen-monumen yang menandai jalur yang menjadi rute invasi menuju pusat pertahanan Aceh, seperti monumen terbengkalai yang berdiam di rumah Jamil dan Cut Maulidar.

Ambo Asse Ajis dari Perhimpunan Ikatan Ahli Arkeologi Indonesia mengatakan bahwa monumen tersebut telah terdata sebagai struktur cagar budaya pada 2021, setelah didaftarkan pada 2017.

“Secara hukum sudah punya legalitas untuk dilindungi dan dikembangkan serta dimanfaatkan masyarakat Banda Aceh secara khusus dan masyarakat Indonesia secara umum," ujar Ambo, seraya menekankan perlunya intervensi pemerintah terhadap tugu peringatan seperti di Peulanggahan.

Namun, hingga kini, situs cagar budaya ini hanya dilestarikan secara mandiri oleh keluarga Jamil secara ala kadarnya.

“Tidak kami bongkar karena ini benda bersejarah,” tegas Jamil.

“Mesti dilestarikan karena dia ada kaitannya dengan sejarah Aceh ,” ujarnya kemudian, seraya berharap situs cagar budaya ini segera dipugar oleh pemerintah agar tetap lestari.

Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah I Aceh, Piet Rusdi, sendiri mengaku baru mengetahui tentang keberadaan tugu peringatan di Peulanggahan.

Soal intervensi apa yang bisa diambil oleh otoritas terkait, Piet Rusdi sendiri menekankan pentingnya koordinasi semua pihak tergantung urgensitas yang mesti diambil termasuk kemungkinan ekskavasi.

"Nah, tidak ada salahnya, kalau misalnya seperti itu, kita bisa mendatangi dulu untuk melihat objek itu sendiri, melakukan identifikasi apa yang harus kita lakukan di situ, itu ada prosesnya," ujarnya.

Adapun penulis berkebangsaan Belanda, Anton Stolwijk beranggapan pemerintah Belanda harus turut bertanggungjawab atas objek bernilai historis ini, atau setidaknya memulai percakapan dengan pemerintah atau sejarawan tentang apa yang harus dilakukan dengan situs ini.

“Saya kira pemerintah Belanda memiliki tanggung jawab. Jika orang Aceh merasa ini penting dan ini harus dipertahankan sebagai pengingat atas perang atau semacamnya, lalu mengapa pemerintah Belanda tidak mengeluarkan uang untuk itu?”

Selain monumen yang terbengkalai ini, terdapat kompleks pemakaman pasukan Belanda seluas 3,5 hektare bernama Kherkoff Peucut yang terawat dengan baik.

Di tempat itu terbaring 2.000 lebih serdadu Belanda yang tewas dalam kurun 1873-1904.

Selain di Kherkoff Peucut, kuburan serdadu Belanda sekaligus tugu peringatan lainnya tersebar di beberapa tempat, seperti di Langsa, Sabang, Gayo Lues, dan Sigli.

Keberadaan monumen-monumen inisiatif Belanda di Aceh pada masa kolonial menurut arkeolog Deddy Satria menjadi bagian dalam khazanah Perang Aceh.

"Karena salah satu dokumen penting dari Perang Aceh, [yaitu] apa yang dibuat Belanda di Aceh," tegas Deddy.

Jika monumen-monumen tersebut lenyap atau dilenyapkan, "[kita] jangan bicara Perang Aceh lagi. Kubur saja Perang Aceh," kata dia.