You’re viewing a text-only version of this website that uses less data. View the main version of the website including all images and videos.
Apa saja skenario yang mungkin terjadi jika AS menyerang Iran?
- Penulis, Frank Gardner
- Peranan, Security correspondent
- Waktu membaca: 6 menit
Amerika Serikat sepertinya tengah bersiap menyerang Iran dalam beberapa waktu ke depan. Apabila tidak tercapai kesepakatan terakhir dengan Iran, Presiden AS Donald Trump diyakini bakal memerintahkan pasukan AS untuk menyerang sasaran potensial mereka di Teheran.
Hanya saja, hasil dari kesepakatan mereka itu tentu belum bisa diprediksi.
Kendati demikian, ada sejumlah skenario yang mungkin terjadi jika serangan diilancarkan.
Lalu, apa saja hasil yang berpotensi timbul jika AS menggelar operasi militer ke Iran?
1. Serangan terarah, korban sipil minimal, transisi ke demokrasi
Skenario pertama, pasukan udara dan laut AS melakukan serangan terbatas ke pangkalan militer Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) dan markas pasukan paramiliter Basij.
Target lain yang mungkin disasar AS adalah situs peluncuran dan penyimpanan rudal balistik, serta program nuklir Iran.
Imbas dari serangan tersebut, yang barangkali ingin dicapai AS, adalah keruntuhan rezim Ayatollah Ali Khamenei yang diyakini sudah melemah. Selanjutnya, terjadi apa yang diklaim AS sebagai "transisi demokrasi" sehingga Iran membuka diri secara luas terhadap dunia internasional.
Gambaran di atas merupakan skenario yang optimis.
Faktanya, intervensi militer negara Barat di Irak dan Libya tidak membawa transisi yang mulus ke demokrasi. Meski kediktatoran di dua negara tersebut berakhir, tahun-tahun penuh kekacauan dan pertumpahan darah terjadi setelahnya.
Suriah, yang melakukan revolusi dengan menggulingkan Bashar Al-Assad tanpa dukungan militer Barat pada 2024, sejauh ini malah mengalami nasib yang lebih baik ketimbang Irak dan Libya.
2. Rezim Ayatollah Ali Khamenei bertahan tapi kebijakannya melunak
Skenario kedua, "model Venezuela" mungkin dipilih AS.
"Model Venezuela" yang dimaksud adalah tindakan cepat AS melakukan intervensi ke negara lain, tapi tetap membiarkan rezim di negara itu untuk berdiri. Namun, berbagai kebijakan di negara tersebut akan dimoderasi.
Dalam kasus Iran, Republik Islam Iran akan tetap bertahan dengan sejumlah syarat. Antara lain, Iran dipaksa untuk mengurangi dukungannya terhadap sejumlah milisi di Timur Tengah, menghentikan atau mengurangi program nuklir dan rudal balistik, serta menurunkan ekskalasi tanggapan terhadap gelombang demonstrasi.
Opsi ini dinilai tidak akan memuaskan banyak warga Iran. Selain itu, skenario ini kecil kemungkinan terjadi mengingat Ayatollah Ali Khamenei telah bersikeras dan resisten terhadap perubahan selama 47 tahun. Karena itu, perubahan arah tidak akan terjadi begitu saja.
- AS menyerang tiga fasilitas nuklir Iran, apa dampaknya dan bagaimana Iran akan membalas?
- AS gabung dengan Israel serang Iran akan ciptakan 'malapetaka' – Bagaimana posisi UK?
- Apa dampak yang dapat dialami Indonesia jika konflik AS-Iran makin memanas?
- Bagaimana cara pesawat siluman B-2 menyerang fasilitas nuklir Iran?
3. Rezim runtuh, digantikan oleh pemerintahan militer
Skenario ketiga, serangan AS bisa berdampak pada runtuhnya rezim yang kemudian digantikan pemerintahan militer. Banyak yang berpendapat ini adalah hasil yang paling mungkin terjadi.
Posisi rezim belakangan makin melemah akibat gelombang demonstrasi. Namun, hal itu tidak lantas melengserkan Ayatollah Ali Khamenei atau mengganggu jalannya pemerintahan. Keamanan dalam negeri Iran tetap bisa dikendalikan dan status quo bertahan.
Alasan utama mengapa gelombang unjuk rasa sejauh ini gagal menggulingkan rezim Ayatollah Ali Khamenei adalah karena tidak ada defisiensi signifikan ke pihak mereka. Bahkan mereka yang berkuasa siap menggunakan kekuatan dan kekejaman tanpa batas untuk mempertahankan kekuasaan.
Dalam kekacauan pascaserangan AS, kemungkinan Iran akan dipimpin oleh pemerintah militer yang kuat, yang sebagian besar terdiri dari tokoh-tokoh IRGC.
4. Iran membalas dengan menyerang pasukan AS dan negara tetangga.
Skenario keempat, Iran telah berjanji akan membalas serangan AS, dengan mengatakan bahwa "jarinya sudah di pelatuk".
Meskipun jelas tidak sebanding dengan kekuatan Angkatan Laut dan Angkatan Udara AS, Iran masih dapat melancarkan serangan dengan arsenal misil balistik dan drone mereka. Senjata-senjata tersebut banyak disembunyikan di dalam gua, di bawah tanah, atau di pegunungan terpencil.
Tidak hanya itu, Iran juga dapat menargetkan infrastruktur kritis negara mana pun yang dianggapnya terlibat dalam serangan AS, seperti Yordania.
Bahrain dan Qatar juga berpotensi terkena serangan karena ada pangkalan dan fasilitas AS di sana.
Serangan rudal dan drone yang menghancurkan fasilitas petrokimia Saudi Aramco pada 2019, yang dikaitkan dengan milisi yang didukung Iran di Irak, menunjukkan kepada Saudi betapa rentannya mereka terhadap rudal Iran.
Negara-negara Arab Teluk yang berbatasan dengan Iran, yang semuanya merupakan sekutu AS, saat ini sangat cemas bahwa tindakan militer AS akan berbalik menyerang mereka.
5. Iran membalas dengan menanam ranjau di Teluk
Skenario kelima, ini telah lama menjadi ancaman potensial bagi perdagangan maritim global dan pasokan minyak sejak Perang Iran-Irak pada periode 1980-1988.
Kala itu, Iran menanam ranjau di jalur pelayaran dan kapal pembersih ranjau Angkatan Laut Kerajaan Bersatu (UK) membantu membersihkannya.
Selat Hormuz yang sempit antara Iran dan Oman juga merupakan titik krusial. Sekitar 20% ekspor Gas Alam Cair (LNG) dunia dan antara 20-25% minyak dan produk minyak melewati selat ini setiap tahun.
Iran telah melakukan latihan dalam penempatan cepat ranjau laut. Jika hal itu dilakukan, hal itu pasti akan berdampak pada perdagangan dunia dan harga minyak.
6. Iran membalas, menenggelamkan kapal perang AS
Skenario keenam adalah "serangan serentak". Hal ini disampaikan Kapten Angkatan Laut AS di atas kapal perang di Teluk bahwa salah satu ancaman dari Iran yang paling dikhawatirkan adalah "serangan serentak".
Ini adalah skenario saat Iran meluncurkan begitu banyak drone bermuatan ledak tinggi dan perahu torpedo cepat ke satu atau beberapa target. Akibatnya, pertahanan jarak dekat Angkatan Laut AS yang tangguh pun tidak mampu mengeliminasi semuanya tepat waktu.
Angkatan Laut Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) telah menggantikan Angkatan Laut Iran konvensional di Teluk Persia. Beberapa komandannya bahkan dilatih di Dartmouth pada masa pemerintahan Shah.
Awak kapal Iran telah fokus pada pelatihan perang tidak konvensional atau "asimetris". Ini dilakukan guna mencari cara untuk mengatasi atau mengelak dari keunggulan teknis yang dimiliki oleh musuh utama mereka, Armada Kelima Angkatan Laut AS.
Penenggelaman kapal perang AS, disertai dengan kemungkinan penangkapan awak kapal yang selamat, akan menjadi penghinaan besar bagi AS.
Meskipun skenario ini dianggap tidak mungkin, kapal perusak senilai miliaran dolar USS Cole rusak parah akibat serangan bunuh diri Al-Qaeda di Pelabuhan Aden pada 2000 dan menewaskan 17 pelaut AS.
Pada 1987, seorang pilot jet Irak yang secara tidak sengaja menembakkan dua rudal Exocet ke kapal perang AS, USS Stark, menewaskan 37 pelaut.
7. Rezim runtuh, digantikan oleh kekacauan
Skenario terakhir merupakan ancaman yang sangat nyata dan menjadi salah satu kekhawatiran pada negara-negara tetangga Iran, seperti Qatar dan Arab Saudi.
Selain kemungkinan terjadinya perang saudara, seperti yang dialami Suriah, Yaman, dan Libya, ada juga risiko konflik bersenjata saat Kurdi, Baluchi, dan minoritas lainnya berusaha melindungi rakyat mereka di tengah kekosongan kekuasaan nasional.
Banyak negara di Timur Tengah tentu akan senang melihat kekacauan di Republik Islam, terutama Israel.
Israel telah memberikan pukulan berat kepada jejaring Iran di seluruh wilayah dan selalu khawatir akan ancaman eksistensial dari program nuklir Iran.
Namun, tidak ada yang ingin melihat negara berpopulasi terbesar di Timur Tengah itu terjerumus ke dalam kekacauan sehingga memicu krisis kemanusiaan dan pengungsi.
Kini, Presiden Trump menjadi bahaya terbesar bagi kelangsungan negara ini.
Trump telah mengumpulkan kekuatan besar di dekat perbatasan Iran, bahkan siap memutuskan untuk bertindak daripada kehilangan muka.
Jika perang benar dimulai tanpa akhir yang jelas, maka ada konsekuensi yang tidak terduga dan berpotensi sangat merusak.