Israel klaim 24 tentara mereka tewas dalam 'hari terburuk di Gaza' dan nyaris 200 warga Palestina tewas belakangan

Sumber gambar, Getty Images
Otoritas Pertahanan Israel (IDF) membuat klaim 24 tentara mereka tewas di Gaza dalam kurun 24 jam pada Senin (22/01), yang mereka sebut sebagai hari paling mematikan bagi pasukan Israel sejak operasi militer darat mereka ke Gaza dimulai. Adapun dalam beberapa hari terakhir, 195 warga Palestina terbunuh, menurut Kementerian Kesehatan Gaza yang dikelola Hamas.
Dari total 24 tentara Israel yang disebut tewas, 21 di antaranya merupakan tentara cadangan alias warga sipil yang telah menyelesaikan "wajib militer" dan dapat dimobilisasi untuk operasi militer.
IDF memperkirakan, tentara mereka tewas akibat ranjau yang dipasang pasukan Israel untuk menghancurkan dua bangunan di Gaza.
IDF belakangan menambahkan, ledakan tersebut itu dipicu tembakan granat berpeluncur roket (RPG).
“Satu regu militan mengejutkan pasukan Israel dengan tembakan RPG,” kata juru bicara IDF, Laksamana Muda Daniel Hagari.
“Roket pertama menghantam salah satu bangunan yang di dalamnya terdapat bahan peledak. Tembakan itu berujung pada ledakan yang menyebabkan bangunan tersebut dan bangunan di sebelahnya runtuh,” ujar Hagari.
Dalam pernyataan Hagari sebelumnya, Israel membuat klaim bahwa pasukan cadangan itu tewas di Gaza bagian tengah, di dekat permukiman Kissufim di sisi perbatasan Israel, sekitar jam empat sore waktu setempat.
Pasukan itu terlibat dalam operasi untuk memungkinkan penduduk Israel selatan kembali ke permukiman tersebut. Puluhan ribu warga Gaza telah mengevakuasi diri setelah serangan Hamas pada 7 Oktober 2023 dibalas gempuran militer Israel.

Sumber gambar, Getty Images
Pemakaman pertama bagi para tentara Israel itu diadakan di Gunung Herzl di Yerusalem. Kebanyakan pelayat datang mengenakan seragam militer. Adapun lokasi ledakan di mana para tentara itu tewas dipenuhi bendera Israel berwarna biru dan putih.
Sementara itu, tiga dari 24 tentara Israel yang tewas itu dalam serangan terpisah di Gaza selatan.
Perdana Menteri (PM) Israel, Benjamin Netanyahu, mengatakan bahwa meskipun “negaranya menderita“, Israel akan terus melakukan serangan sampai mencapai “kemenangan mutlak”.

Sumber gambar, AFP
Liputan mendalam BBC News Indonesia langsung di WhatsApp Anda.
Klik di sini
Akhir dari Whatsapp
Di tempat lain di Gaza, tepatnya di tiga rumah sakit yang berada di kawasan Khan Younis, terjadi pertempuran sengit antara milisi Hamas dan tentara Israel. Tiga rumah sakit itu penuh dengan pengungsi.
IDF mengumumkan bahwa mereka telah mengepung Khan Younis sepenuhnya. Kawasan ini adalah fokus utama serangan darat Israel.
Israel membuat klaim bahwa para pemimpin Hamas bersembunyi di lokasi tersebut. Mereka juga memiliki klaim lain bahwa beberapa warga Israel yang disandera Hamas berada di lokasi tersebut.
Baca juga:
Menurut IDF, puluhan laki-laki bersenjata yang bertempur untuk Hamas tewas dalam kontak tembak tersebut. IDF membuat klaim bahwa mereka menemukan roket yang siap ditembakkan, terowongan, dan senjata dalam jumlah besar.
Di sisi lain, otoritas Gaza menyebut perempuan dan anak-anak juga terbunuh dalam pertempuran tersebut. Mereka menambahkan, blokade Israel dan penyerbuan rumah sakit sejak Senin telah membuat korban luka dan tewas berada di luar jangkauan tim penyelamat.
Korban tewas dari kalangan warga sipil Gaza dikuburkan di halaman Rumah Sakit Nasser karena pemakaman di perkuburan sipil bukan opsi yang aman.
Otoritas Gaza menyebut pasukan Israel menyerbu rumah sakit lainnya, yaitu Al-Khair, yang berada di daerah al-Mawasi di sebelah barat Gaza. Tentara Israel disebut menangkap para staf rumah sakit itu.
Kesaksian warga Gaza
Warga Gaza menyebut tank-tank Israel telah menutup akses terakhir mereka untuk keluar kota menuju pantai Mediterania. Akibatnya upaya terakhir mereka untuk mengevakuasi diri ke arah selatan tertutup.
Dalam beberapa hari terakhir, pasukan Israel dikatakan telah mencapai pusat Khan Younis. Di sini ratusan ribu warga Gaza yang melarikan diri dari wilayah utara berlindung.
Namun pasukan Israel menghadapi perlawanan sengit dari Brigade Khan Younis yang dipimpin Hamas. Kelompok ini dianggap sebagai satu dari dua kelompok terkuat Hamas. Mereka dimasukkan ke dalam daftar organisasi teroris oleh Israel, Inggris, dan sejumlah negara lain.
Operasi Israel telah diperluas dan diintensifkan dalam beberapa hari terakhir. Puluhan orang sipil dilaporkan tewas dalam serangan udara dan artileri Israel, hanya pada hari Senin lalu saja, ketika tank-tank bergerak ke arah barat dan pusat kota.

Sumber gambar, EPA
IDF, pada Selasa kemarin, mengatakan bahwa selama beberapa hari terakhir pasukannya telah "melakukan operasi besar-besaran dengan mengepung Khan Yunis dan memperdalam operasi di daerah tersebut".
Tentara Israel terlibat dalam pertempuran jarak dekat, mengarahkan serangan udara, dan menggunakan intelijen untuk mengoordinasikan tembakan. Petinggi IDF membuat klaim, mereka telah menewaskan puluhan milisi Hamas.
IDF memerintahkan penduduk Khan Younis bagian barat untuk segera berpindah ke daerah al-Mawasi, di pantai Mediterania, demi keselamatan mereka sendiri.
Namun, beberapa saksi mata mengatakan tank-tank Israel memblokir jalan menuju al-Mawasi. Israel mencegah warga sipil dari Khan Younis untuk bergabung dengan sekitar jutaan orang yang saat ini berlindung di selatan Rafah, di perbatasan dengan Mesir.
“Saya mencoba berangkat ke Rafah namun tank-tank tersebut kini berada sangat dekat dengan pantai dan menembak ke arah barat,” kata Shaban, seorang insinyur listrik asal Gaza dengan empat anak, kepada kantor berita Reuters.

Sumber gambar, Bulan Sabit Merah Palestina
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan sangat prihatin dengan laporan serangan terhadap rumah sakit di Khan Younis.
Bulan Sabit Merah Palestina (PRCS) menyebut pada Selasa kemarin seorang warga sipil terbunuh oleh pesawat tak berawak Israel di pintu masuk Rumah Sakit Al-Amal.
Mereka menyebut terdapat banyak warga yang juga terluka ketika peluru menghujam rumah sakit tersebut.
"Situasinya masih sangat berbahaya. Pagi tadi, terjadi penembakan artileri langsung ke markas Bulan Sabit Merah Palestina di lantai empat. Drone Israel tidak berhenti menembaki orang-orang di Rumah Sakit al-Amal," kata juru bicara PRCS, Nebal Farsakh, kepada BBC dari Ramallah .
“Ada kepanikan dan ketakutan di antara ribuan pengungsi yang berlindung di dalam fasilitas kami,” ujarnya.
Belum ada komentar langsung dari IDF terkait serangan di Rumah Sakit al-Amal. Namun sebelumnya mereka menuduh milisi Hamas menempatkan diri mereka di tengah-tengah penduduk sipil dan beroperasi di dalam dan sekitar fasilitas medis.
Baca juga:
Farsakh mengatakan, ambulans yang mereka kelola menghadapi tantangan berat untuk menjangkau orang-orang yang terluka dan membawa mereka ke rumah sakit.
PRCS, kata dia, sekarang diminta untuk membawa kasus-kasus medis yang kritis ke Deir al-Balah, di Gaza tengah.
Farsakh berkata, rumah sakit al-Amal dan kompleks medis Nasser di dekatnya “kewalahan dan penuh sesak”. Rumah Sakit Nasser merupakan rumah sakit terbesar dari 14 rumah sakit yang masih beroperasi sebagian di Gaza.
Haytham Ahmad, yang bekerja di unit gawat darurat RS Nasser, mengatakan kepada BBC bahwa mereka melakukan beberapa operasi amputasi. Dalam beberapa kasus, pasien tidak diberikan obat bius karena mereka kekurangan persediaan.
“Para pasien ini mengalami luka parah dan hanya ada sebagian kulit dan otot yang masih terhubung. Kami mencoba menggunakan anestesi terbatas dalam situasi ini,” kata Ahmad.

Sumber gambar, EPA
Juru bicara WHO mengatakan, RS Nasser sekarang pada dasarnya terkepung militer Israel. Tidak ada jalan masuk dan keluar bagi 400 pasien rumah sakit dan para staf medis yang bekerja di sana.
Kementerian Kesehatan Gaza menuduh pasukan Israel telah melepaskan tembakan besar-besaran ke lantai atas gedung bedah khusus dan gedung darurat rumah sakit.
Sebuah video yang direkam oleh seorang jurnalis Palestina menunjukkan tembakan menghantam sudut barat rumah sakit, sementara di klip lain terlihat asap membubung dari suatu daerah di selatan.
IDF mengatakan kepada kantor berita AFP bahwa mereka “tidak mengetahui kejadian tersebut”.
Baca juga:
Belakangan, Sekretaris Jenderal PBB António Guterres mengatakan situasi kemanusiaan di Gaza "mengerikan" dan seluruh penduduknya "mengalami kehancuran dengan skala dan kecepatan yang tiada bandingannya dalam sejarah saat ini".
Guterres juga sekali lagi menyerukan agar gencatan senjata kemanusiaan segera dilakukan.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Qatar mengatakan mereka terlibat dalam diskusi serius dengan Israel dan Hamas mengenai kemungkinan kesepakatan.
Seorang pejabat Hamas mengatakan kepada BBC bahwa delegasi mereka telah tiba di Kairo, Mesir, pada Selasa pagi kemarin untuk "membahas proposal baru" dengan Menteri Intelijen Mesir.
Israel tidak membantah bahwa mereka telah mengusulkan gencatan senjata selama dua bulan, yang turut berisi kesepakatan pembebasan sandera dan tahanan Palestina.
Namun Hamas, yang menuntut gencatan senjata permanen, dikabarkan menolak usulan Israel itu.









