Pemandangan alam di Jepang yang menginspirasi film-film Studio Ghibli

Air sungai mengalir di antara bebatuan yang diselimuti lumut dan pohon-pohon cedar di Hutan Yakushima.

Sumber gambar, John Abernethy/Getty Images

Keterangan gambar, Hutan Yakushima disebut menginspirasi Princess Mononoke.
    • Penulis, Mizuki Uchiyama
    • Peranan, BBC Travel
  • Waktu membaca: 5 menit

Saat Studio Ghibli genap berusia 40 tahun, kami mengunjungi hutan, pemandian, dan desa-desa yang menginspirasi film-film paling populernya. Kami juga bertemu dengan orang-orang yang menjaga keajaiban itu tetap hidup.

Dunia animasi Studio Ghibli sering terasa fantastis sekaligus familiar. Mulai dari hutan cedar yang diselimuti lumut, pemandian air panas, sampai hutan di tepi kota.

Lewat 23 film panjangnya, studio asal Jepang ini menghadirkan lanskap yang digambar begitu hidup, di mana kurosuke berlarian dan bus kucing raksasa berkeliaran. Ghibli telah membawa penontonnya ke tempat berbaurnya kenyataan dan fantasi.

Banyak dari latar yang dicintai para penontonnya itu tidak lahir semata dari imajinasi, tapi dari tempat-tempat nyata di seluruh Jepang. Beberapa di antaranya adalah tempat sakral, terancam punah. Namun, semuanya sangat dijaga.

Saat Studio Ghibli merayakan ulang tahun ke-40-nya tahun ini, kami menjelajahi tempat-tempat nyata di balik beberapa film ikoniknya.

Yakushima: Hutan sakral dalam Princess Mononoke

Dalam adegan embuka film masterpiece Princess Mononoke (1997), seekor babi hutan menerjang hutan purba yang berkabut, dipenuhi pohon-pohon raksasa dan roh-roh kuno.

Latar ini diyakini terinspirasi dari Yakushima, sebuah pulau yang masuk sebagai situs UNESCO di lepas pantai Kyushu. Pulau ini dijaga karena makna spiritualnya.

Di Yakushima, pohon-pohon cedar berusia 1.000 tahun tumbuh di antara hamparan lumut tebal. Hujan yang nyaris tak pernah berhenti menumbuhkan hutan yang begitu lebat, yang konon menjadi rumah bagi kodama (roh pohon).

"Ke mana pun melihat—atas, bawah, depan, belakang—semuanya hijau," kenang Yumi Takahashi, pekerja kantoran dari Tokyo yang baru saja mengunjungi pulau itu.

"Rasanya seperti ada di dasar laut, tapi dikelilingi hutan, bukan air. Benar-benar mistis."

Sungai dengan bebatuan mengalir di tengah hamparan pepohonan hijau di Kagoshima, Yakushima, Jepang.

Sumber gambar, Corbis via Getty Images

Keterangan gambar, Yakushima adalah tempat yang menginspirasi Princess Mononoke.
Lewati Whatsapp dan lanjutkan membaca
Akun resmi kami di WhatsApp

Liputan mendalam BBC News Indonesia langsung di WhatsApp Anda.

Klik di sini

Akhir dari Whatsapp

Taro Watanabe, Kepala Kantor Panduan Sangku Taro yang memimpin ekspedisi gunung di Pulau Yakushima, mengatakan bahwa Ghibli telah menarik wisatawan dari berbagai negara datang ke pulau ini.

"Bahkan sekarang banyak orang datang ke Yakushima karena Princess Mononoke," kata Watanabe.

"Tapi beberapa tahun terakhir, pariwisata sebenarnya mulai menurun. Saya berharap lebih banyak orang datang untuk merasakan sendiri keindahan alam pulau ini."

Secara ekologi, hutan Yakushima tergolong unik. Pulau ini punya garis pantai subtropis sampai puncak pegunungan alpin. Ada beragam spesies tumbuhan endemik yang tidak ditemukan di tempat lain di dunia.

Namun, ekosistem yang rapuh ini makin terancam oleh populasi rusa yang berlebihan hingga perubahan iklim yang memicu longsor.

Demi menjaga keseimbangan alamnya, para konservasionis dan pemandu lokal bekerja sama dengan UNESCO dan lembaga pemerintah untuk membatasi dampak pariwisata, melindungi pohon-pohon cedar tua, dan memulihkan hutan yang rusak.

Semua upaya ini dilakukan demi menjaga lanskap magis Yakushima tetap lestari.

Dōgo Onsen: Rumah pemandian dalam Spirited Away

Dōgo Onsen, rumah pemandian dengan arsitektur khas Jepang.

Sumber gambar, Getty Images

Keterangan gambar, Dōgo Onsen menyambut pengunjung yang datang untuk berendam maupun yang bernostalgia dengan dunia Ghibli.

Sebuah jembatan merah mengarah ke rumah pemandian yang menjulang. Jendelanya tampak terang benderang di tengah kegelapan malam.

Ini adalah wilayah kekuasaan Yubaba, penyihir serakah yang mengelola rumah pemandian dalam film dalam film pemenang Oscar, Spirited Away. Film ini selalu dikaitkan dengan pemandian air panas Dōgo Onsen Honkan di Matsuyama, Prefektur Ehime.

Dōgo Onsen diperkirakan telah berusia sekitar 3.000 tahun, membuatnya sebagai salah satu pemandian air panas tertua di Jepang.

Koridornya berliku, lantai kayunya berderit dan atap gentengnya bertumpuk menyerupai pagoda. Bangunan ini telah memikat hati Hayao Miyazaki, salah satu pendiri Studio Ghibli.

Meskipun dia tidak pernah secara langsung mengonfirmasi sumber inspirasinya, kata Dōgo muncul dalam papan cerita film Spirited Away. Menara pengawas dan kamar-kamarnya tergambar dalam rumah pemandian Aburaya.

Turis menaiki becak di depan Dōgo Onsen Honkan.

Sumber gambar, Getty Images

Keterangan gambar, Dōgo Onsen adalah salah satu pemandian air panas tertua di Jepang.

"Tamu-tamu sering bilang, 'Ini rumah pemandian di Spirited Away kan?'" kata Kazuya Watanabe, staf humas di Konsorsium Dōgo Onsen.

"Kami sering sekali mendengar omongan itu."

Saat ini, Dōgo Onsen menyambut pengunjung yang datang untuk berendam maupun yang bernostalgia dengan dunia Ghibli.

Setelah restorasi besar selesai pada 2024, rumah pemandian ini kembali dibuka untuk umum dan diakui sebagai Warisan Budaya Penting Jepang.

"Kami ingin mewariskan tempat ini kepada generasi berikutnya," tutur Watanabe.

"Ini adalah harta berharga bagi Matsuyama dan kami berharap keindahannya tetap lestari sampai bertahun-tahun yang akan datang".

Baca juga:

Perbukitan Sayama: Hutan di dalam My Neighbor Totoro

Di antara semua ciptaan Studio Ghibli yang fantastis, mungkin tidak ada yang lebih ikonik dibanding Totoro, roh hutan bertubuh bulat seperti bantal besar.

Totoro tinggal di antara pepohonan kamper dan hamparan sawah dalam film My Neighbor Totoro. Latar ini pun ternyata terinspirasi dari tempat nyata.

Perbukitan Sayama membentang seluas 3.500 hektare melintasi perbatasan Prefektur Tokyo dan Saitama. Lanskapnya adalah perpaduan hutan, ladang, sawah dan lahan basah.

Hayao Miyazaki tinggal di sekitar kawasan ini. Studio Ghibli juga mengakui bahwa perbukitan itu menjadi salah satu inspirasi utama film My Neighbor Totoro.

Sebagian besar area yang kini dikenal sebagai "Hutan Totoro" ini dilindungi oleh Yayasan Totoro no Furusato, yang didirikan pada 1990 dengan dukungan Miyazaki.

Hutan-hutan itu tersebar di bagian utara Perbukitan Sayama. Ada yang tersembunyi di antara rumah-rumah warga atau di tepi aliran sungai kecil. Ada juga yang membentang di tepian Danau Sayama.

Ini menggambarkan lanskap pedesaan tradisional Jepang yang dulunya menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.

Jalanan yang berliku di kawasan ini terasa seperti jalan setapak yang dilalui Mei dalam My Neighbor Totoro.

Dari punggungan bukit, pengunjung bisa melihat danau Sayama yang permukaannya memantulkan bayangan Gunung Fuji saat hari cerah.

Totoro di Museum Ghibli.

Sumber gambar, AiMuse/Getty Images

Keterangan gambar, Totoro menjadi karya Ghibli yang paling ikonik.

Kurosuke's House, sebuah rumah pedesaan berusia 120 tahun, serupa dengan bangunan tua kosong di pedesaan tempat keluarga dalam My Neighbor Totoro menemukan tempat berlindung.

Rumah kayu ini masih mempertahankan pesona Jepang tempo dulu, dengan ruang berlantai tatami, pintu geser fusuma, dan sekat kertas shoji.

Di dalamnya terdapat replika lucu soot sprites, roh debu yang berlarian di balik bayangan, seperti di dalam film.

Halamannya juga dipenuhi benda-benda nostalgia, seperti gudang pengering the dua dan sumur pompa tangan. Pengunjung dibuat seolah melangkah ke masa lalu.

Sejak Totoro no Furusato berdiri, yayasan ini telah membeli lebih dari 50 bidang hutan untuk mencegah pengembangan perkotaan.

Relawan dan wisatawan juga bisa membantu membersihkan semak belukar, memangkas pohon, serta memperbaiki jalur hiking. Lalu, staf di Kurosuke's House menggelar lokakarya dan memandu tur untuk menjelaskan kerja-kerja konservasi mereka dan mengapa hutan-hutan ini harus dilestarikan.

"Para pengunjung sering takjub ketika mengetahui soal hutan dan upaya dari bawah berusaha mempertahankannya," kata Mie Nahazawa dari Yayasan Totoro no Furusato.

Artikel versi Bahasa Inggris berjudul The Japanese landscapes that inspired Studio Ghibli films dapat Anda baca di BBC Travel.