Warga Muslim China bentrok dengan polisi imbas keputusan pembongkaran kubah masjid

Warga Muslim di China bentrok dengan polisi karena rencana pembongkaran kubah masjid

Sumber gambar, SUPPLIED

Keterangan gambar, Penduduk kota Nagu, China, bentrok dengan puluhan polisi di luar masjid pada Sabtu (27/05).
    • Penulis, Nicholas Yong
    • Peranan, BBC News

Kerumunan massa pengunjuk rasa bentrok dengan sejumlah personel kepolisian China, pada Sabtu (27/05), di kota berpenduduk mayoritas Muslim di Provinsi Yunnan terkait rencana pembongkaran kubah masjid.

Video yang beredar di media sosial memperlihatkan kerumunan massa bentrok dengan polisi di luar Masjid Najiaying di Kota Nagu.

Masjid Najiaying merupakan tengaran (landmark) yang didirikan pada abad ke-13. Dalam beberapa tahun terakhir masjid itu diperluas dengan kubah baru serta sejumlah menara.

Namun, putusan pengadilan pada 2020 menyatakan perluasan bangunan itu ilegal dan memerintahkan kubah masjid dibongkar.

Tindakan kepolisian untuk melaksanakan perintah pengadilan tampaknya telah memicu demonstrasi.

Video protes pada Sabtu (27/05) lalu, yang diverifikasi oleh BBC, menunjukkan barisan polisi menghalangi jalan masuk ke masjid. Sekelompok pria mencoba memaksa masuk dengan melemparkan batu ke arah polisi.

Video lain menunjukkan polisi kemudian mundur, saat massa memasuki Masjid Najiaying.

Baca juga:

Lewati Whatsapp dan lanjutkan membaca
Akun resmi kami di WhatsApp

Liputan mendalam BBC News Indonesia langsung di WhatsApp Anda.

Klik di sini

Akhir dari Whatsapp

Kepolisian wilayah Tonghai, tempat Kota Nagu berada, mengeluarkan pernyataan pada Minggu (28/05) lalu yang menyerukan para pengunjuk rasa menyerahkan diri kepada polisi paling lambat 6 Juni.

Sejauh ini puluhan orang telah ditangkap.

"Mereka yang secara sukarela menyerahkan diri dan dengan jujur mengakui fakta pelanggaran dan kejahatan dapat diberikan hukuman yang lebih ringan atau pengurangan hukuman," kata pemberitahuan itu.

Pihak berwenang menyebut insiden itu sebagai "halangan serius terhadap tatanan manajemen sosial", dan mendesak orang-orang untuk melaporkan para pengunjuk rasa “secara aktif".

Di China, unjuk rasa relatif jarang terjadi. Namun, sejak pandemi unjuk rasa lebih banyak terjadi ketika pembatasan ketat memicu kemarahan publik.

Hui adalah salah satu dari 56 kelompok etnis yang diakui oleh Beijing dan sebagian besar adalah penganut Muslim Sunni.

Yunnan, di barat daya negara itu, adalah tempat tinggal bagi sekitar 700.000 orang dari sekitar 10 juta orang Muslim Hui di China.

Mereka sering disebut sebagai Muslim Tionghoa oleh media lokal, dan dianggap terintegrasi dengan baik ke dalam masyarakat China setelah berabad-abad melakukan perkawinan dan asimilasi.

Pengamat mengatakan Beijing berusaha untuk memperluas kendali atas kelompok agama dalam beberapa tahun terakhir - dan bagaimana kelompok-kelompok ini mempraktikkan ajaran agama mereka di masyarakat.

Pada 2021, Presiden Xi berjanji untuk melanjutkan "Sinicisasi agama", yaitu transformasi keyakinan agama sesuai dengan budaya dan masyarakat China.

Pada 2018, ratusan Muslim Hui di wilayah Ningxia terlibat perselisihan berkepanjangan dengan pihak berwenang untuk mencegah masjid mereka dihancurkan.

Pihak berwenang kemudian mengalah, tetapi bersikeras bahwa dekorasi bergaya Arab harus diubah.

Di tahun yang sama, tiga masjid di Yunnan juga ditutup karena dianggap melakukukan "pendidikan agama ilegal".

China juga dituduh melakukan pelanggaran hak asasi manusia yang sistematis terhadap Muslim Uyghur di Provinsi Xinjiang, di mana masjid-masjid telah dihancurkan dan praktik keagamaan Islam dilarang.

Beijing membantah tuduhan tersebut.