Vivienne Westwood: Si Ratu Punk yang memberontak lewat fesyen

Vivienne Westwood

Sumber gambar, Francois Durand

Dia adalah idealis anarkis yang menerobos status quo dan mengubah Inggris.

Dia bercita-cita menjadi seorang revolusioner, yang dibakar oleh kebenciannya terhadap korupsi dan ketidakadilan global, yang juga putus asa pada pasifnya kaum muda.

Vivienne Westwood melahirkan punk, menaklukkan mode kelas atas, dan membangun kerajaan global dari itu semua.

Dia menemukan New Romantics --gerakan fesyen yang populer di Inggris pada era 1980-an--, menampilkan supermodel Naomi Campbell ke catwalk mengenakan sepatu platform setinggi 23 cm, serta menemui Ratu Elizabeth II tanpa mengenakan celana dalam.

Bagi Westwood, fesyen adalah senjata. Tentu dia berpikir bahwa pakaian membuat orang seksi.

Tetapi Westwood meyakini bahwa tujuan utamanya adalah untuk mengguncang, menghancurkan kepantasan yang menyedihkan dan membuat dunia menjadi tempat yang lebih baik.

Vivienne Isabel Swire lahir pada 8 April 1941 di Desa Tintwhistle, Derbyshire, Inggris. Dia adalah anak tertua dari tiga bersaudara.

Orang tuanya berasal dari kalangan buruh dan mahir berkarya.

Mereka mendorong anak-anaknya untuk membuat berbagai macam hal, yang dilakukan Vivienne dengan antusias.

Namun kedua orang tuanya bingung dengan kecanduan Vivienne membaca, sehingga suatu waktu mereka membayar anak perempuannya itu untuk menghancurkan kartu anggota perpusatakaannya.

Vivienne memiliki kepercayaan diri yang patut dicontoh, meyakini dirinya sebagai seorang pengrajin perempuan yang luar biasa.

Ketika bersekolah di sekolah menengah yang sangat selektif di Glossop, Inggris, dia menganggap dirinya sebagai "seorang juara".

"Saat masih berusia lima tahun, saya bisa membuat sepasang sepatu."

Vivienne Westwood

Sumber gambar, UniversalImagesGroup

Keterangan gambar, Dua anak laki-laki mengenakan kaus karya Vivienne Westwood. Dia berharap anak muda marah dan mengubah dunia, namun kenyataannya mengecewakan Westwood.
Lewati Whatsapp dan lanjutkan membaca
Akun resmi kami di WhatsApp

Liputan mendalam BBC News Indonesia langsung di WhatsApp Anda.

Klik di sini

Akhir dari Whatsapp

Keluarganya pindah ke London Utara pada 1958.

Ketika itu, Vivienne mencoba bekerja sebagai pengrajin perak di sekolah seni setempat, namun berhenti setelah satu semester.

Meski dia adalah gadis yang percaya diri, dia tidak paham bagaimana seorang perempuan kelas pekerja bisa mencukupi hidup dengan cara itu.

Dia kemudian menjadi guru sekolah dasar.

Lalu, Vivienne menikah dengan Derek Westwood seorang pekerja magang yang tampan di pabrik Hoover, yang juga modis dan berpenampilan menonjol.

Westwood merancang sendiri gaun pengantin dan perhiasannya. Satu tahun kemudian, mereka memiliki seorang putra.

Baca juga:

Sebuah pertemuan dadakan mengubah segalanya.

Adik laki-laki Vivienne, Gordon, ketika itu mengajak seorang pelajar seni berusia 19 tahun ke flatnya di wilayah Harrow.

Laki-laki itu berambut merah dan wajahnya putih karena dipupuri dengan bedak.

Dia adalah Malcolm McLaurent, yang mengklaim dirinya jenius dan si raja punk.

Sejak itulah dimulai salah satu kolaborasi kreatif terhebat di Inggris.

Vivienne dan Malcolm pindah ke sebuah flat kecil di wilayah Clapham, lalu memiliki anak, dan meluncurkan sebuah revolusi budaya yang mengguncang, bahkan terkadang menakutkan dunia.

Dengan latar belakang ibunya yang merupakan seorang pelacur, Malcolm dibesarkan oleh neneknya yang nyentrik dan bermoto, "menjadi buruk itu baik, dan menjadi baik itu membosankan".

Malcolm McLaren dan Vivienne Westwood

Sumber gambar, Bernard Weil

Malcolm layaknya seekor burung merak: dia berniat menyoroti orang-orang kecil dengan kecemerlangannya, mengejek generasi lebih tua yang dia benci, serta meremehkan semua orang kecuali dirinya sendiri, terutama Vivienne.

Dia baru mengunjungi Vivienne enam hari setelah melahirkan putra mereka di rumah sakit, menolak dipanggil 'ayah' dan mengancam membawa anak itu ke panti asuhan Bernado's ketika minta ikut.

Westwood tinggal di sebuah karavan di Wales, ketika Malcolm membuat kekacauan di London dan menikahi siswa seni lainnya.

Namun ketertarikan mengalahkan segalanya.

Vivienne memiliki masa kecil yang bahagia, namun kering dari budaya.

Dalam konteks kreativitas, Malcolm bagaikan kebangkitan yang memperkenalkannya pada seni, musik, membantunya bertransformasi "dari seorang gadis muda menjadi penata rias yang cantik dan percaya diri".

Vivienne mengabaikan pelecehan yang dilakukan Malcolm, membangun kembali kemitraan mereka, dan berkembang secara artistik.

Kemudian lahirlah Sex Pistols pada era 1970-an,

McLaren memaknainya sebagai kemarahan pada gerakan hippi yang dia benci.

Vivienne membuka toko di Kings Road, menyulap tampilan Pistols menjadi terkenal.

Dunia yang tersentak dengan itu, kemudian menamainya Punk.

Dia menamai toko itu sebagai 'Let it Rock', lalu menggantinya menjadi 'Too Fast To Live, Too Young To Die'.

Akhirnya nama toko itu diubah menjadi 'SEX' dengan logo merah muda besar di atas pintunya, sehingga hanya orang-orang pemberani yang bisa masuk ke dalamnya.

Vivienne Westwood

Sumber gambar, DAVID DAGLEY/REX/Shutterstock

Keterangan gambar, Staf Vivienne Westwood dikenal mengintimidasi. Hanya orang-orang yang berani yang datang ke tokonya.

Para stafnya pun terkenal mengintimidasi. Ada Chrissie Hynde, Toyah Wilcox, serta yang paling menakutkan yakni 'Jordan', seorang perempuan yang menjadi ikon punk.

Koleksi pakaian SEX, tentu saja berbeda dari yang dengan yang lain. Koleksinya berkarakter radikal dan individualis, seolah mengacungkan dua pada lini fesyen jalanan saingan mereka seperti flower power, Teddy Boy dan Mod.

Celana bondage dan jaket swastika, kata Vivienne, “diterjemahkan ke dalam mode menjadi fetish”.

Itu adalah “wujud jadi asumsi keabadian masa muda.”

Vivienne Westwood dan Margareth Thatcher

Sumber gambar, RICHARD YOUNG/REX/Shutterstock

Keterangan gambar, Vivienne Westwood membenci politik Margaret Thatcher, tetapi dia memuji selera berpakaian mantan perdana menteri Inggris itu.

Orang tua Vivienne membenci Malcolm dan mereka sangat kaget dengan ini semua. Namun mereka tetap membantu Vivienne ketika “Vivienne kami” menghasilkan karya.

Daster karet Westwood, rambut runcing, stiletto, dan kaus porno benar-benar mengguncang. Dia menikmati masa-masa itu dan merasa seperti menjadi “putri dari planet lain”.

Belakangan, Malcolm membual bahwa dia adalah seorang “penipu”, yang mengubah budaya populer menjadi sesuatu yang tidak lebih dari tipu muslihat pemasaran.

Bagi Vivienne, gerakan itu bermakna lebih dalam. Dia melihatnya sebagai pemberontakan anak muda melawan korupsi dan tatanan dunia lama.

Dia mempercayai bahwa punk lebih dari sekadar fesyen. Gerakan itu bersifat politis dan revolusioner.

Ketika generasi muda cenderung tidak berhenti meludah dan membangun barikade, Vivienne sangat kecewa.

Dia berselisih dengan Johnny Rotten karena sama-sama mengklaim bahwa mereka telah mengilhami ide Anarchy In The UK. Tetapi yang membuatnya frustasi adalah pesannya yang gagal dipahami.

Pakaian dan musik semestinya menyalurkan kemarahan dan membawa perubahan. Tapi generasi muda mengabaikan ketidakadilan global, menindik hidung mereka dan moshing mengikuti alunan music.

Pasangan itu dituduh menghasut revolusi, namun itu tidak pernah terjadi.

Westwood merasa kecewa sampai akhirnya terbawa arus.

Vivienne Westwood

Sumber gambar, Pascal Le Segretain

Keterangan gambar, Ratu catwalk: Vivienne Westwood membangun merek fesyen global dan dinobatkan sebagai salah satu desainer paling berpengaruh di abad ke-20.

Itu membuat mereka membawa ide-ide subversif mereka ke catwalk di London dan Paris.

Westwood bekerja sendirian menggunakan mesin jahit kecil, menyatukan potongan-potongan kain dan mencobanya sendiri. Kebetulan, dia memiliki ukuran tubuh yang sempurna.

Dia terinspirasi oleh seorang sejarawan seni Kanada, Gary Ness, lalu meneliti sejarah mode, dan mengolahnya kembali dengan sepenuh hati hingga menantang dunia haute-couture untuk menolaknya.

Dia mengenakan model-modelnya dengan bahan Harris Tweed, rajutan halus, ‘mini-crinis’ dan korset yang menaikkan payudara mereka.

Publik terkikik, sampai Westwood mengancam pergi dari salah satu wawancara BBC ketika penonton terus menertawakannya.

Kehadiran sesama narasumber dalam wawancara itu, Russel Harty, pun tidak menolong, karena dia menggambarkan seorang gadis sebagai “toko keripik berjalan”.

The Pistols pun mencibir, menuduhnya meninggalkan punk dan merancang “rok mewah untuk Ascot”.

Itu tidak mudah; kadang-kadang dia hampir bangkrut.

Tapi dunia mode mencintainya.

Bersama McLaren, dia memakai koleksi legendaris dengan nama-nama seperti Pirate, Savages, dan Nostalgia of Mud.

Dan ketika McLaren mundur, dia melanjutkannya seorang diri: memulai Romantisme Baru dengan desain yang memparodikan kemapanan. Itu membawa hasil.

Pada akhirnya, dia menghasilkan banyak uang. Sebuah pertunjukan di Paris berakhir dalam hitungan menit, namun menampilkan pakaian senilai lebih dari satu juta poundsterling.

Ketika Carrie Bradshaw dari Sex and the City menginginkan gaun pengantin, dia menoleh ke Westwood.

Perempuan yang tadinya membuka toko di Kings Road kini telah menjadi merek global besar.

Vivienne Westwood

Sumber gambar, LEON NEAL

Keterangan gambar, Vivienne Westwood aktif mengkampanyekan isu-isu lingkungan.

Pada 1989, Women’s Wear Daily yang sangat berpengaruh menilai dia sebagai satu dari enam desainer terbaik pada abad kedua puluh, menjadi satu-satunya perempuan bersama Armani, Lagerfeld dan Saint Laurent.

“Sejauh yang saya ketahui, itu adalah fakta,” katanya.

Ketika Naomi Campbell jatuh dari sepatu platform ungu setinggi hampir 28 cm di catwalk, sepatu itu tetap terjual sangat cepat.

Itu bukan berarti dia menyerah pada revolusi.

Karya-karya Westwood sangat politis dan memiliki tujuan. Dia mendadani para model sebagai debutan punk, mengacungkan dirinya ke kelas penguasa.

Pakaiannya menumbangkan mode yang secara historis tunduk pada perempuan.

Dia membuat kaus yang dihiasi slogan-slogan politik tidak senonoh, lalu menjualnya dengan harga mahal.

Westwood membenci Tony Blair (mantan perdana menteri dari Partai Buruh) dan Margaret Thatcher (mantan PM dari Partai Konservatif) dengan sepenuh hati, lalu mempromosikan kebebasan individu, mendukung dunia bebas dari senjata nuklir, serta memerangi ancaman perubahan iklim.

Dia mendukung gerakan-gerakan seperti Aids Research, PETA dan Oxfam, menghasilkan ratusan ribu poundsterling kepada Partai Hijau dan kerap mengunjungi Julian Assange.

Dia bahkan memarkirkan sebuah tank putih di depan rumah David Cameron (saat menjadi PM dari Partai Koservatif) sebagai wujud protes terhadap pertambangan.

Vivienne Westwood

Sumber gambar, Press Association

Keterangan gambar, Westwood menjadi seorang Dame pada 2006.

Dia diberi gelar kehormatan oleh kerajaan pada 1992, dan Westwood muncul tanpa mengenakan celana dalam.

Dia memberi kejutan bagi para fotografer.

Tetapi, sang Ratu tidak menunjukkan ketidaksenangannya soal itu, bahkan Westwood kembali diundang ke istana beberapa tahun kemudian. Pemberontak legendaris itu mendapat gelar kehormatan Dame.

Dia menikah lagi, kali ini dengan seorang mahasiswa fesyen Austria yang jauh lebih muda darinya.

Andreas Kronthaler adalah sosok yang tenang dan suportif, karakter yang tidak dimiliki oleh McLaren.

Mereka membentuk kemitraan kreatif baru, setelah bertahun-tahun masih bekerja dari flat bekas dewan Spartan.

Kutipan favorit Westwood adalah dari Aldous Huxley: "Ortodoks adalah kuburan kecerdasan". Toko yang dia buka di Kings Road masih beroperasi.

Sekarang disebut Worlds End, menjual desain arsip dan kaos slogan, untuk mengenang ikon yang bertekad untuk berperang melawan kepantasan.

Si ratu punk, permaisuri mode global, dan Dame Kerajaan Inggris telah melakukan itu semua.