Mengapa Gereja Katolik belum siap mengakui pernikahan sesama jenis?

    • Penulis, Edison Veiga
    • Peranan, BBC News Brasil

Pengumuman bahwa Paus Fransiskus telah mengizinkan pastor Katolik untuk memberkati pernikahan sesama jenis adalah kemajuan signifikan bagi kelompok LGBT+ di Gereja Katolik Roma.

Namun para pakar mengatakan bahwa keputusan tersebut belum tentu merupakan kemajuan besar bagi Vatikan dalam mengakui pernikahan sesama jenis.

Dalam sebuah dokumen yang disetujui oleh Paus dan dikeluarkan pada tanggal 18 Desember silam, Vatikan menyatakan bahwa para imam harus diizinkan untuk memberkati pasangan sesama jenis dan pasangan “tidak normal” dalam keadaan tertentu.

Namun, teks tersebut menyatakan bahwa pemberkatan seperti itu hendaknya tidak menjadi bagian dari ritual rutin Gereja. Vatikan masih memandang pernikahan sebagai penyatuan antara seorang pria dan seorang perempuan.

“Publikasi dokumen ini adalah sesuatu yang sangat penting karena masyarakat tidak mengharapkan pengumuman resmi [dari Vatikan],” kata Filipe Domingues, profesor di Universitas Kepausan Gregorian di Roma

Namun pakar tersebut menyatakan bahwa tidak ada tanda-tanda jelas bahwa Gereja bermaksud mengambil langkah lebih lanjut untuk menerima pernikahan sesama jenis.

“Dalam dokumen itu ada penegasan kembali apa itu sakramen perkawinan dan ulasan tentang apa makna pemberkatan. Itu sangat jelas.”

Pernyataan Vatikan sebelumnya mengenai masalah ini, yang diterbitkan pada tahun 2021, menentang pemberkatan pernikahan sesama jenis dengan argumen bahwa Tuhan “tidak dapat memberkati dosa”.

“Paus tidak terlalu puas dengan versi final dokumen tahun 2021. Meskipun demikian, dia memberikan izin,” imbuh Profesor Domingues, seraya mencatat bahwa sejak itu Paus Fransiskus telah mengambil sikap yang lebih berdamai.

Beragam jenis pemberkatan

Gereja Katolik Roma mempunyai beberapa macam pemberkatan. Menurut aturan ibadah umum, seorang Katolik harus “sesuai dengan kehendak Tuhan yang diungkapkan dalam ajaran Gereja” untuk menerima pemberkatan.

Namun Paus Fransiskus kini telah memperkenalkan pemahaman yang lebih bersifat pastoral atau berbasis komunitas tentang berkat tersebut.

Dokumen tertanggal 18 Desember menyatakan bahwa siapa pun yang meminta untuk diberkati berarti "menunjukkan diri mereka membutuhkan kehadiran Tuhan yang menyelamatkan" dan membuat "permintaan bantuan dari Tuhan, permohonan untuk kehidupan yang lebih baik".

Baca juga:

“Dokumen tersebut sangat jelas bahwa pemberkatan baru tidak boleh dilakukan secara ritual. Sebaiknya dilakukan secara informal, spontan, tanpa menggunakan kata pernikahan atau ada ritual tertentu,” jelas Prof Domingues.

“Ini adalah langkah praktis untuk membantu orang-orang dalam situasi di mana mereka merasa berada di luar atau jauh dari gereja.”

Para pendeta bisa menyangkalnya

Bisa dibilang, hal ini sudah terjadi di paroki-paroki Katolik Roma melalui musyawarah setempat oleh beberapa imam atau uskup.

Mulai sekarang, ada hal yang disebut sosiolog Francisco Ribeiro Neto, pakar agama di Universitas Sao Paulo, Brazil, sebagai legitimasi institusional.

“Pemberkatan yang bersifat pastoral ini telah diberikan. Sekarang ada stimulus, konfirmasi dari Vatikan bahwa sikap yang disambut baik ini diinginkan oleh gereja,” kata Ribeiro Neto.

“Tetapi imam tidak berkewajiban untuk memberikan berkat, dia dapat menilainya berdasarkan kasus per kasus. Apa yang gereja katakan adalah bahwa umat beriman mempunyai hak untuk menerima pelayanan pastoral.”

Sosiolog tersebut juga berpendapat bahwa pengumuman tanggal 18 Desember tidak dapat dilihat sebagai langkah menuju penerimaan pernikahan sesama jenis oleh Gereja Katolik Roma.

“Paus Fransiskus tidak bergerak untuk mengizinkan hal itu tetapi malah menciptakan sebuah kategori yang menjamin penerimaan kaum homoseksual, tanpa mengarah pada pemberkatan pernikahan sesama jenis,” katanya.

Ribeiro Neto melihat langkah ini sebagai cara untuk menenangkan sektor gereja yang lebih tradisionalis dan modern.

“Ini berarti bahwa dia menciptakan sebuah kategori [dalam upaya] mengakhiri kontroversi mengenai menerima atau tidaknya pernikahan sesama jenis.

"Pasangan sesama jenis yang ingin menerima pengakuan dari Gereja akan mendapatkan berkat ini.”

Namun Ribeiro Neto menekankan bahwa pemberkatan tersebut tidak berarti gereja menyetujui hubungan tersebut.

Kawan paus di Argentina

Pengumuman pada 18 Desember silam menyebabkan salah satu teman baik Paus berada dalam sorotan - Kardinal Victor Hernandes.

Pendeta asal Argentina ini baru-baru ini diangkat sebagai petinggi di salah satu departemen administratif tertua di gereja. Ia juga dikenal karena pandangannya yang progresif dan kontroversial.

Fernandez adalah penulis beberapa buku, termasuk buku yang menganjurkan pasangan untuk berlatih ciuman erotis.

Ia tidak pernah menghindar untuk menyampaikan isu-isu pelik di depan umum, seperti menyambut pasangan yang menikah untuk kedua kalinya dan sikap yang lebih bersahabat terhadap isu-isu LGBT.