Apa saja jenis kecurangan pemilu dan bagaimana menghentikannya?

Kotak suara

Sumber gambar, Getty Images

Keterangan gambar, Sejumlah pakar memperingatkan bahwa kualitas pemilu di seluruh dunia mengalami penurunan
    • Penulis, Issariya Praithongyaem
    • Peranan, BBC World Service

Lebih dari empat miliar orang akan menggunakan hak pilihnya dalam pemilu tahun ini di lebih dari 60 negara di seluruh dunia.

Dengan makin meningkatnya kekhawatiran akan kemunduran demokrasi, sejumlah pakar menjelaskan berbagai jenis kecurangan pemilu.

Apa yang dimaksud dengan integritas pemilu?

Integritas pemilu adalah ketika seluruh proses pemilu mencerminkan keinginan para pemilih dan cara mereka memilih, kata Riccardo Chelleri, pejabat pemilu Uni Eropa.

Dia mengatakan masyarakat harus bisa mempercayai proses tersebut sehingga mereka mau menggunakan hak pilihnya pada saat pemungutan suara.

“Pemilu harus dilakukan secara transparan untuk memastikan setiap orang mendapatkan informasi yang mereka perlukan,” kata Chelleri, yang bekerja di divisi Demokrasi dan Pengamatan Pemilu di dinas luar negeri Uni Eropa (EEAS).

Donald Trump

Sumber gambar, Getty Images

Keterangan gambar, Di AS, ada kekhawatiran besar mengenai persekongkolan, penindasan pemilih, dan disinformasi

"Pemilu semestinya inklusif. Itu bukan hanya tentang bagaimana pemilik suara bisa diperbolehkan menggunakan suaranya. Itu juga [tentang bagaimana] partai-partai politik diperbolehkan untuk berpartisipasi, untuk berkampanye tanpa kekerasan."

Dr Nic Cheeseman, profesor dalam bidang demokrasi di Universitas Birmingham di Inggris, mengatakan bahwa penelitian yang dilakukan olehnya menunjukkan kualitas pemilu – yakni ketika kandidat dan pemilik suara dapat berpartisipasi secara bebas dan suara dihitung dengan akurat – mengalami penurunan di seluruh dunia.

Risiko dari kualitas pemilu yang rendah akan jadi norma baru, tambahnya.

"Tak ada pemilu yang sempurna, tapi pemilu yang berkualitas tinggi memberi kuasa pada pemilih untuk memilih pemerintahan mereka dan meminta pertanggungjawaban pemimpin mereka," jelas Cheeseman.

Apa yang dimaksud manipulasi pemilu?

Proses pemilu dimulai sehari setelah pemilu, menjelang pemilu berikutnya.

Para ahli mengatakan manipulasi pemilih bisa terjadi kapan saja dalam rentang waktu ini.

“Hanya amatir yang mencurangi pemilu pada hari pemilu. Para profesional memanipulasi pemilu setahun sebelumnya,” kata Dr Cheeseman.

Teknik yang digunakan untuk memanipulasi pemilu mencakup penggunaan pihak berwenang oleh pemerintah yang berkuasa untuk mengintimidasi oposisi, menyensor media agar oposisi tak bisa mengamplifikasi pesannya, dan menyiasati proses pendaftaran pemilu untuk menguntungkan partai berkuasa.

"Yang biasanya terjadi adalah petahana menunjuk hakim yang tidak independen, sehingga tidak ada banding terhadap hasil akhir yang diterima,” kata Chelleri.

Kotak suara di AS

Sumber gambar, Getty Images

Keterangan gambar, Bahkan di negara-negara dengan sistem pemilu yang kuat, para ahli memperingatkan bahwa kita masih perlu mewaspadai kecurangan dalam pemilu

Teknik lain untuk memanipulasi pemilu adalah gerrymandering, ketika pemilihan daerah direkayasa untuk menguntungkan kelompok tertentu.

Partai berkuasa atau pemerintah juga dapat menggunakan uang rakyat untuk meningkatkan kampanye petahana, menyebarkan disinformasi untuk mendiskreditkan proses pemilu, atau membeli suara.

"Di AS, ada kekhawatiran besar mengenai persekongkolan, penindasan terhadap pemilih, dan disinformasi,” kata Dr Cheeseman.

"Kita telah menyaksikan bagaimana pesan digital palsu dimanipulasi agar terdengar seperti Presiden Joe Biden yang memberi tahu masyarakat agar tak repot memilih, padahal itu belum dalam masa kampanye."

Terdapat juga risiko serious bahwa disinformasi, manipulasi elektoral dan kekerasan politik akan muncul selama pemilu di El Savador, India dan Sri Lanka, tambahnya.

Vladimir Putin

Sumber gambar, Getty Images

Keterangan gambar, Presiden Rusia Vladimir Putin mencalonkan diri untuk masa jabatan kelima dengan pemilihan presiden yang berlangsung selama tiga hari dari tanggal 15-17 Maret.

Apa itu kecurangan pemilu?

Itu adalah upaya untuk mengubah hasil pemilu setelah pemungutan suara.

Kecurangan pemilu ini termasuk surat suara yang sudah diisi sebelumnya ke dalam kotak suara, mengubah penghitungan setelah suara diberikan, atau menghancurkan kotak suara untuk membatalkan suara oposisi.

Selama tiga hari pemungutan suara pada pemilu parlemen tahun 2021 di Rusia, terdapat dugaan terjadinya kecurangan pemilu yang meluas, termasuk penjejalan kotak suara dan ancaman terhadap pemantau pemilu.

Video yang beredar secara luas di media sosial menunjukkan sejumlah orang menjejalkan kertas ke kotak suara.

Bagaimanapun, pemerintah Rusia mengatakan bahwa itu tak dikategorikan sebagai "pelanggaran berat".

“Tetapi jika Anda memiliki kendali penuh atas proses tersebut, Anda bisa saja ‘berbohong’,” kata Dr Cheeseman, yang ikut menulis buku How to Rig an Election.

Lebih jauh dia Cheeseman menerangkan bahwa kecurangan pemilu bisa terjadi di mana saja, termasuk di negara-negara dengan sistem pemilu yang kuat.

Di negara-negara ini, pemantau dalam negeri dan agen partai politik biasanya hadir di banyak TPS, untuk mencatat suara dan menghitung hasil mereka sendiri.

Pemilu di Kongo

Sumber gambar, Getty Images

Keterangan gambar, Pemilihan presiden di Republik Demokratik Kongo pada bulan Desember 2023 diwarnai oleh masalah logistik dan pengamat independen melaporkan adanya penyimpangan yang meluas.

Dr Cheeseman mencontohkan pemilihan presiden di Ghana pada 2016, ketika partai oposisi menggunakan aplikasi telepon seluler untuk membantu mengumpulkan hasil pemilu.

Sementara itu, di Zambia pada tahun 2021, pengamat dalam negeri dan kelompok gereja bekerja sama dengan komunitas internasional dan menyusun daftar tabulasi suara paralel. Hal ini memberi tekanan pada komisi pemilu setempat untuk mengeluarkan hasil serupa.

Akan tetapi, hal ini jadi lebih sulit dalam 10 tahun terakhir lantaran pemerintah otoriter telah mengeluarkan undang-undang yang membatasi aktivitas masyarakat sipil dan LSM selama proses pemilu, menurut Dr Cheeseman.

Sementara itu, kata Chelleri, para pemantau pemilu hanya menyaksikan bagian akhir dari sebuah proses pemilu dan tidak bisa menghentikan kecurangan yang dilakukan pada tahap awal.

Pemilu Indonesia

Sumber gambar, Antara Foto

Keterangan gambar, Warga menunjukkan jari kelingking yang telah dicelup tinta saat simulasi pemungutan dan penghitungan suara di Palangka Raya, Kalimantan Tengah, Jumat (02/02/2024).

Di Indonesia, Komite Independen Pemantau Pemilu (KIPP) menyebut potensi kecurangan saat pencoblosan hingga penghitungan surat suara pada Pemilu 2024 jauh lebih besar dari tahun 2019.

Sekjen KIPP, Kaka Suminta, mencatat setidaknya ada tujuh bentuk kecurangan yang bakal terjadi di lapangan.

Mulai dari beli suara, kongkalikong mencoblos surat suara cadangan, hingga mobilisasi pemilih yang mengklaim masuk dalam Daftar Pemilih Khusus (DPK).

Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) mengatakan peranan sangat krusial dalam mengawasi proses pemungutan dan penghitungan ada pada Pengawas Tempat Pemungutan Suara (PTPS).

Bisakah partai oposisi melakukan kecurangan pemilu?

Pihak oposisi juga bisa melakukan hal-hal yang “curang” dan bisa lolos begitu saja, kata Dr Cheeseman.

“Seseorang seperti Donald Trump, yang saat ini menjadi oposisi, dapat melontarkan segala macam tuduhan, ada yang benar, ada yang tidak benar, dan menggunakannya sebagai cara untuk melemahkan pemerintah,” katanya.

Joe Biden

Sumber gambar, Getty Images

Keterangan gambar, Presiden AS Joe Biden telah menjadi korban pesan digital palsu dan pemilihan presiden baru akan berlangsung pada 5 November 2024

Apakah demokrasi dalam bahaya?

“Jangan membodohi diri kita sendiri. Kita berada dalam periode demokrasi yang buruk secara global,” kata pejabat Uni Eropa Riccardo Chelleri.

“Saya pikir telah terjadi resesi demokrasi dalam lima tahun terakhir.”

Chellereri mengatakan faktor yang mendorong apa yang disebutnya sebagai "resesi demokrasi" ini antara lain lemahnya perekonomian dan pengaruh negatif media sosial dalam menyebarkan teori konspirasi.

Dr Cheeseman mengatakan masa depan demokrasi bergantung pada hasil pemilu tahun ini.

“Jika masyarakat berada di negara demokrasi yang pemilunya selalu dicurangi, cepat atau lambat mereka akan mulai bertanya-tanya,” ujarnya.

“Apa gunanya memberikan suara atau partisipasi politik jika sistem tidak pernah mengizinkan kita untuk membuat pilihan yang nyata?”