Anak gajah bernama Tari mati di Taman Nasional Tesso Nilo – Apa penyebab kematiannya?

Seekor anak gajah sumatera bernama Kalistha Lestari, atau dikenal dengan nama Tari, dilaporkan mati di Balai Taman Nasional Tesso Nilo (TNTN), Riau, pada Rabu (10/09) lalu.

Sumber gambar, Balai TNTN

Keterangan gambar, Seekor anak gajah sumatera bernama Kalistha Lestari, atau dikenal dengan nama Tari, dilaporkan mati di Balai Taman Nasional Tesso Nilo (TNTN), Riau, pada Rabu (10/09).
Waktu membaca: 6 menit

Seekor anak gajah sumatera bernama Kalistha Lestari, atau dikenal dengan nama Tari, dilaporkan mati di Balai Taman Nasional Tesso Nilo (TNTN), Riau, Rabu (10/09).

Selain Tari, sepanjang 10 tahun terakhir, tercatat ada 23 kasus kematian gajah sumatera di taman nasional tersebut. Penyebabnya mulai dari diracun, perburuan liar, penyakit, hingga menyempitnya habitat mereka.

Kepala Balai TNTN, Heru Sutmantoro, membuat klaim gajah berusia dua tahun 10 hari itu tidak menunjukkan tanda sakit apapun sebelum menghembuskan nafas terakhir.

"Kemarin sore dia masih sehat. Rupanya tadi pagi pas dicek mahout [pawang gajah], Tari sudah tergeletak mati. Saya sangat kaget. Soalnya tidak ada tanda-tanda sakit," kata Heru.

Ribuan warganet memberikan pesan duka di akun Instagram TNTN yang mengabarkan kematian anak gajah itu.

Seorang warganet pengemar Tari, bernama Rumondang, mengaku bersedih dengan kematian itu.

"Sedih banget rasanya. Padahal dia [Tari] baru saja kemarin [akhir Agustus] ulang tahun, dan lagi becanda siapa jodoh buat Tari nanti pas besar. Tiba-tiba pagi ini dengar sudah meninggal," katanya.

Tari merupakan salah satu gajah di TNTN yang kerap mencuri perhatian warganet karena sikapnya yang lucu dan menggemaskan.

Sumber gambar, Balai TNTN

Keterangan gambar, Tari merupakan salah satu gajah di TNTN yang kerap mencuri perhatian warganet karena sikapnya yang lucu dan menggemaskan.

Tari merupakan salah satu gajah di TNTN yang kerap mencuri perhatian warganet karena sikapnya yang lucu dan menggemaskan.

Bahkan, Tari bersama anak gajah lain, bernama Domang, diangkat menjadi warga kehormatan Riau pada Juli 2025 lalu.

Dalam satu postingan di IG TNTN, Tari bersama ibunya, Lisa, sedang makan gedebong pisang dan kelapa.

Bukannya memakan gedebong seperti ibunya, Tari malah memakan daun pisang. Konten itu telah ditonton lebih dari 5,5 juta kali, dan disukai oleh lebih dari 340.000 akun.

Bagaimana kronologi kematiannya?

Pihak Balai TNTN dan Polda Riau kini tengah mencari tahu penyebab kematian gajah Tari.

Sumber gambar, Balai TNTN

Keterangan gambar, Pihak Balai TNTN dan Polda Riau kini tengah mencari tahu penyebab kematian gajah Tari.

Melalui unggahannya di akun Instagramnya, Balai TNTN mengumumkan gajahnya yang bernama Tari mati di camp Elephants Flying Squad, Desa Lubuk Kembang Bunga, Pelalawan, Riau, pada Rabu (10/09), sekitar pukul 08.00 WIB.

Kepala Balai TNTN, Heru Sutmantoro, mengaku kaget dengan kematian Tari .

"Kemarin sore dia masih sehat. Rupanya tadi pagi pas dicek mahout, Tari sudah tergeletak mati. Saya sangat kaget. Soalnya tidak ada tanda-tanda sakit," kata Heru, Rabu (10/09)

Tari adalah gajah betina yang berusia dua tahun 10 hari. Anak gajah ini merupakan hasil perkawinan antara gajah Lisa dengan gajah liar.

Hentikan Instagram pesan
Izinkan konten Instagram?

Artikel ini memuat konten yang disediakan Instagram. Kami meminta izin Anda sebelum ada yang dimunculkan mengingat situs itu mungkin menggunakan cookies dan teknologi lain. Anda dapat membaca Instagram kebijakan cookie dan kebijakan privasi sebelum menerima. Untuk melihat konten ini, pilihlah 'terima dan lanjutkan'.

Peringatan: BBC tidak bertanggung jawab atas konten situs eksternal

Lompati Instagram pesan

Balai TNTN menjabarkan, pada Selasa (09/09), Tari masih menunjukkan kondisi sehat.

"Pagi hari, Tari tampak aktif, bermain seperti biasa, dengan nafsu makan normal, feses baik, serta tanpa tanda kelemasan. Hanya intensitas menyusu yang sedikit berkurang. Kondisi di sore hari juga tetap stabil tanpa gejala sakit," menurut keterangan Balai TNTN.

Baca juga:

Lalu keesokan harinya pada Rabu (10/09), sekitar pukul 08:00 WIB, seorang pawang gajah (mahout) menemukan Tari dalam keadaan berbaring tanpa gerakan dan segera dinyatakan mati.

"Hasil pemeriksaan awal menunjukkan tidak adanya luka atau trauma pada tubuh, namun perut terlihat sedikit menggembung."

Heru mengatakan kematian Tari adalah kehilangan besar bagi jajaran TNTN maupun para mahout. Heru menyebut, Tari memiliki peran penting dalam perawatan serta upaya konservasi gajah Sumatera di Tesso Nilo.

Mengusut kematian Tari

Pihak Balai TNTN kini tengah mencari tahu penyebab kematian gajah Tari.

Sumber gambar, Balai TNTN

Keterangan gambar, Pihak Balai TNTN kini tengah mencari tahu penyebab kematian gajah Tari.

Pihak Balai TNTN kini tengah mencari tahu penyebab kematian gajah Tari.

"Untuk memastikan penyebab kematian, dokter melakukan tindakan nekropsi [bedah bangkai] dan mengambil sampel organ untuk pemeriksaan laboratorium. Sampel tersebut akan dikirim ke Bogor untuk analisis lebih lanjut," bunyi keterangan Balai TNTN.

Selain itu, Polda Riau juga menyelidiki kematian Tari.

Kasubdit IV Ditreskrimsus Polda Riau, AKBP Nasrudin, mengatakan pihaknya telah turun ke lokasi bersama BBKSDA Riau dan Balai TNTN.

"Iya, anggota kami sudah turun ke lokasi, saat ini masih dalam proses penyelidikan, untuk laporan hasilnya, akan kami sampaikan," kata Nasrudin.

Nasrudin bilang akan terus melakukan penyelidikan kematian anak gajah tersebut.

"Apa pun hasilnya akan kami sampaikan, dugaan diracun atau tidak, masih kami selidiki terlebih dahulu, mohon waktu," ujarnya.

Ungkapan sedih warganet

Kabar kematian gajah Tari mengundang rasa kaget dan duka dari warganet, saat membaca unggahan kematian itu di Instagram Balai TNTN.

Sebuah akun menuliskan, "Hah??Tari?? Gadis mungilku?? Ya Allah seriusan ini?? Baru beberapa hari kemarin kamu bisa lompat pager dek."

Akun lain berkomentar, "Dek Tari yang cantik, terima kasih sudah hadir menghibur kami semua walaupun hanya untuk waktu yang sangat singat. Dedek Tari, banyak senang di surga yah. Kami akan selalu mengenangmu sebagai adek yang gemoy, lincah, lucu dan menggemaskan. Pak Mahout: titip Mama Lisa ya. Mama Lisa pasti sedih sekali sekarang."

Tari merupakan salah satu gajah di TNTN yang kerap mencuri perhatian warganet karena sikapnya yang lucu dan menggemaskan.

Sumber gambar, Balai TNTN

Keterangan gambar, Tari merupakan salah satu gajah di TNTN yang kerap mencuri perhatian warganet karena sikapnya yang lucu dan menggemaskan.

Lalu ada juga akun yang menuliskan, "Dek Tari, dua hari yang lalu masih lari-lari. Sekarang secepat ini nak kamu kembali kepada sang Pemilik. Makasih Dek Tari sudah memberi banyak kebahagiaan untuk aunty uncle online."

Selain warganet, Kapolda Riau Irjen Herry Heryawan yang menyebut Tari sebagai anak angkatnya, juga mengaku sedih dan kehilangan.

"Ia adalah suara hutan Tesso Nilo yang semakin menyempit. Dan kini, kepergiannya menjadi pengingat bahwa hubungan kita dengan alam bukanlah hubungan penguasa dengan yang dikuasai, melainkan hubungan saling menjaga dan menghormati," kata Herry di Pekanbaru, Rabu (10/09).

Herry pernah viral karena ucapannya 'mewakili gajah-gajah di Tesso Nilo' saat berhadapan dengan massa yang demo menolak relokasi dari kawasan TNTN.

Puluhan gajah di TNTN mati dan menyempitnya rumah mereka

Selain Tari, sepanjang 10 tahun terakhir, tercatat ada 23 kasus kematian gajah sumatera di TNTN.

Data BBKSDA Riau mencatat, kasus kematian tertinggi terjadi pada 2015 sebanyak delapan ekor.

"Kematian gajah disebabkan beberapa faktor. Ada yang diracun, dijerat, perburuan liar dan terkena penyakit," ujar Kepala BBKSDA Riau, Supartono.

Tari merupakan salah satu gajah di TNTN yang kerap mencuri perhatian warganet karena sikapnya yang lucu dan menggemaskan.

Sumber gambar, Balai TNTN

Keterangan gambar, Tari merupakan salah satu gajah di TNTN yang kerap mencuri perhatian warganet .

Salah satu yang menjadi sorotan adalah kematian seekor gajah latih bernama Rahman, pada Januari 2024, yang diduga diracun. Gading Rahman sebelah kiri juga dipotong dan hilang.

Selain itu, perambahan hutan di TNTN menjadi kebun sawit ilegal dan permukiman juga mengancam kehidupan gajah.

Sebelumnya, Kejaksaan Agung menyapaikan ada dugaan korupsi dalam kasus pengalihfungsian kawasan TNTN. Jaksa Agung ST Burhanuddin menemukan banyak dokumen kependudukan hingga kepemilikan tanah palsu beredar di TNTN.

"Berdasarkan hasil kunjungan tim Satgas PKH pada 10 Juni 2025, dari luas kawasan hutan ±81.793 hektare, saat ini hanya tersisa ±12.561 hektare," kata Burhanuddin melalui keterangannya, Jumat (13/06).

"Hal ini disebabkan oleh perambahan hutan yang merusak ekosistem dan fungsi hutan sebagai rumah satwa serta paru-paru dunia," tambahnya.