Piala Dunia 2022: Brasil dijagokan juara berkat 'kaki-kaki kecil nan cepat'

Sumber gambar, Getty Images
Timnas Brasil melangkah ke babak perempat final Piala Dunia 2022 berkat kemenangan telak 4-1 atas timnas Korea Selatan di Stadion 974, Kota Doha, Qatar.
Empat gol Selecao—julukan timnas Brasil—dicetak Vinícius Júnior (menit ke-7), Neymar (penalti menit ke-13), Richarlison (menit ke-29), dan Lucas Paquetá (menit ke-36).
Dalam pertandingan itu, para pemain Brasil seolah berjoget dan bersenang-senang di lapangan. Bahkan, gol Richarlison diciptakan setelah dia memainkan bola sebanyak tiga kali di kepalanya, mencungkilnya ke rekan satu tim, berlari, menerima umpan satu-dua, dan dengan santai melepaskan tembakan terarah ke gawang Korsel.
Saat babak pertama berakhir, tim asuhan Tite unggul 4-0. Khalayak Brasil pun merayakannya di Pantai Copacabana dan para pemain menggoyangkan pinggul mereka menuju ruang ganti.
Khalayak yang tidak menikmati perayaan ini adalah rakyat Korea Selatan.
“Jujur saja, ini benar-benar menghancurkan Seoul,“ cuit pembaca BBC Sport, Olly.
Tapi tunggu dulu, Korsel masih ada perlawanan. Pada menit ke-76, Paik Seung-ho melesatkan tembakan yang menjebol gawang Brasil yang dikawal Alison Becker dari luar kotak penalti.
Gol hiburan bagi Korsel. Tapi setidaknya mereka punya kenangan pada babak 16 besar di Doha.
Liputan mendalam BBC News Indonesia langsung di WhatsApp Anda.
Klik di sini
Akhir dari Whatsapp
Baca juga:
Kemenangan Brasil yang seolah mudah ini menegaskan kontribusi sekelompok pemuda yang dijuluki “perninhas rapidas” atau “kaki-kaki kecil yang cepat”.
Mereka mencakup Raphinha, Vinicius Jr, Gabriel Martinelli, Antony, dan Rodrygo.
Kemunculan mereka benar-benar mengubah cara Selecao bermain.
Mereka mengubah sisi pragmatis tim yang sebelumnya terasa seperti kekurangan bakat dan sulit mengambil hati para pendukungnya. Sekarang banyak orang di negara itu meyakini inilah saatnya Brasil menjadi juara untuk pertama kalinya sejak 2006.
Brasil telah menemukan kembali DNA menyerang mereka. Saat menguasai bola, mereka biasanya menggunakan formasi 2-3-5 yang sangat mengandalkan pemain sayap, bukan bertumpu pada bek kanan dan kiri seperti dulu.
Itu bukan berarti pertahanan mereka dibiarkan menganga. Alisson, Thiago Silva, dan kawan-kawan hanya kebobolan 19 gol dalam 50 pertandingan sebelum Piala Dunia Qatar dan sering terlihat tak tertembus.

Sumber gambar, Getty Images
Meski demikian, ada pula yang meyakini bahwa sisi pertahanan Brasil belum benar-benar diuji.
Mereka tidak menghadapi lawan dari Eropa sejak pertandingan persahabatan melawan Republik Ceko pada Maret 2019, meskipun ada sejumlah rencana untuk menggelar pertandingan melawan tim-tim seperti Inggris dan Spanyol.
Itu adalah jeda terlama Brasil menghadapi rival dari Eropa sejak Piala Dunia 1954.
Tetapi pada Piala Dunia kali ini, hal itu tidak lagi dikhawatirkan.
Brasil tampak sudah siap, setelah mengakhiri fase grup di puncak klasemen dan lolos ke fase gugur, dengan kondisi pemain bintang mereka, Neymar, yang sedang fit.
“Brasil jauh lebih siap saat ini dibandingkan Piala Dunia 2018 dan 2014. Perninhas rapidas telah mengangkat sebagian beban dari pundak Neymar,” kata pengamat sekaligus mantan pemain internasional, Grafite kepada BBC Sport.
“Jelas, jika kami ingin juara di Qatar, kami membutuhkan Neymar dalam kondisi terbaiknya. Tapi kami tidak lagi hanya bergantung pada Neymar. Berbeda dengan di masa lalu, kami memiliki kedalaman yang luar biasa di semua lini.”
“Neymar tidak sendirian di tim ini. Jika dia mengoper ke kanan, dia akan menemukan Raphinha, misalnya, yang sangat berbahaya ketika satu lawan satu, bisa menggiring bola dan memotong ke dalam. Di mana pun Anda melihat tim ini, entah itu di pertahanan, lini tengah, dan serangan, ada bakat di mana-mana.”
Titik balik di Caracas

Sumber gambar, Getty Images
Selain kekalahannya di kandang dari Argentina pada final Copa America 2021, Brasil nyaris tidak pernah mengalami guncangan dalam perjalanannya menuju Piala Dunia Qatar.
Namun terlepas dari hasil positif itu, juara dunia lima kali ini awalnya juga berjuang untuk bisa tampil meyakinkan di lapangan dan mendapatkan dukungan para penggemar.
Itu semua berubah setelah kemenangan di laga tandang di Caracas melawan Venezuela dengan skor 3-1 pada Oktober 2021.
Brasil sempat tertinggai 1-0 pada babak pertama, sehingga Tite memutuskan memasukkan Raphinha ke lapangan, yang menandai debut internasionalnya.
Pemain muda di sektor sayap ini berhasil menciptakan malam yang tidak terlupakan bagi timnas Brasil.
Dia mencetak dua gol. Sedangkan satu gol lainnya didapat dari penalti.
Vini Jr dan Antony yang juga dimainkan pada malam itu pun tampil mengesankan di Caracas.
Pekan berikutnya, Raphinha masuk skuad utama dan turut berkontribusi dalam kemenangan Brasil melawan Uruguay dengan skor 4-1. Itu mungkin adalah penampilan terbaik Brasil sejak Piala Dunia 2018 di Rusia.
Sejak saat itu, tidak ada jalan kembali.
"Saya percaya bahwa kontribusi utama dari Raphinha dan para pemain muda lainnya sejauh ini adalah kegembiraan yang mereka bawa kembali ke tim," kata Grafite.
"Kami tidak akan selalu bisa menyerang tim lain seperti yang kami lakukan saat kualifikasi, itu jelas, tapi saya merasa penting bahwa kami bisa menyaksikan gaya ofensif tradisional kami sekali lagi muncul dan kami bisa mengenalinya.”
Saatnya ‘kaki-kaki kecil yang cepat’ bersinar

Sumber gambar, Getty Images
Dari 14 pemain yang bermain saat tunduk 1-2 dari Belgia pada Piala Dunia 2018, hanya empat yang tersisa di skuad saat ini, yaitu Alisson, Thiago Silva, Neymar, dan Jesus yang kini cedera.
Pesepakbola veteran seperti Fernandinho, Marcelo dan Filipe Luis tersingkir dari tim.
Tim yang bermain di Qatar adalah tim yang berbeda, tetapi tekanan yang mereka dapat lebih besar dibanding Piala Dunia 2018.
Jika Brasil tidak menjuarai turnamen musim dingin ini, mereka akan menyamai rekor terlama negara itu tanpa mengangkat trofi Piala Dunia, yakni selama 24 tahun antara 1970 dan 1994.
Tidak ada pemain ‘perninhas rapidas’ yang sudah ada di muka bumi ini ketika Romario cs mengantarkan Brasil meraih Piala Dunia 1994 di Amerika Serikat.
Saat ini nasib tim bergantung pada mereka untuk menghindari rekor tidak diinginkan itu dan kembali ke tanah air sebagai juara.
“Brasil tiba di Qatar dalam kondisi terbaik, tetapi semuanya terjadi begitu cepat di Piala Dunia, jadi itu bukan jaminan kesuksesan,” kata Grafite.
“Masih ada tim seperti Inggris, Prancis, dan Argentina yang juga berpeluang memenangkannya. Kita harus menunggu dan melihatnya lebih dulu.”












