'Ratu masuk sedikit lebih cepat' - Mengenang upacara penobatan Ratu Elizabeth II

Sumber gambar, Getty Images
Bagi sebagian besar orang, upacara penobatan Raja Charles III akan menjadi pengalaman pertama menyaksikan bangsawan Inggris diangkat. Namun, bagi sebagian yang lain, ini adalah upacara penobatan kedua atau ketiga.
Tiga warga Inggris yang hadir di acara penobatan Ratu Elizabeth II pada 1953 berbagi cerita mereka dari hari itu.
'Tukang roti mengantarkan saya ke stasiun'

Sumber gambar, Eve Morris
Eve Morris terlihat menonjol saat dia bergegas pergi ke tempat kerjanya, mengenakan gaun berwarna pastel dan topi putih pada hari upacara penobatan Ratu Elizabeth II.
Saat itu cuaca sedang hujan deras dan "semua orang memakai jas hujan", kata dia.
Morris yang saat itu baru berusia 17 tahun kesulitan pergi ke upacara karena keluarganya tidak memiliki mobil.
"Sehingga saya meminta tukang roti untuk mengantarkan saya ke stasiun kereta," ujarnya.
Eve sedang magang di kantor perancang busana Norman Hartnell yang letaknya di Mayfair. Norman merupakan perancang busana favorit Ratu Elizabeth II. Ia juga tokoh yang mendesain gaun pernikahan Ratu.
Hartnell, yang terkenal karena teknik sulamannya, diminta untuk merancang gaun penobatan yang mewah bagi Ratu Elizabeth II.
Pada hari upacara itu berlangsung, Eve sedang berada di Westminster Abbey dengan jarum dan benang di tasnya.
"Jika ada yang kehilangan kancing atau ada jahitan yang robek, saya harus memperbaikinya," kata Eve. "Tetapi untungnya itu tidak terjadi."
Ia menerima sebuah surat dari Duke of Norfolk, yang bertanggungjawab untuk menggelar upacara tersebut, memberikan instruksi untuk Eve pada hari itu.
Dalam surat itu tertulis: "Silakan bawa roti dan minum, karena kopi tidak akan tersedia."
Baca juga:

Sumber gambar, Getty Images
Liputan mendalam BBC News Indonesia langsung di WhatsApp Anda.
Klik di sini
Akhir dari Whatsapp
Eve ditempatkan persis di seberang area duduk para bangsawan, ia bisa melihat dengan jelas sosok Ratu dengan gaunnya yang memukau. Sepanjang acara dia harus berdiri.
Tempat Eve berdiri "posisinya indah", Eve mengingat, "lebih baik daripada mendapatkan tempat duduk".
Dalam beberapa minggu menjelang upacara besar itu, Eve bekerja sebagai pengantar barang di kantornya. "Saya harus pergi ke ruangan stok untuk mencari kain yang cocok untuk dipadukan dengan bordir," kata Eve.
Ia dan seorang rekannya juga ditugaskan untuk mengangkat gaun penobatan yang berat karena diselubungi debu tebal, bolak-balik dari bengkel bordir di salah satu ujung jalan ke tempat penjahit di ujung jalan lain.
Bahkan sekarang, di umurnya yang sudah 87 tahun, Eve akan memandang gaun-gaun di upacara penobatan Raja Charles III dengan tatapan tajam. "Saya akan lebih kritis daripada sebagian besar orang," sebutnya.
Bagi Eve, gaun penobatan Ratu Elizabeth II tetap "mengalahkan gaun-gaun baru lainnya" yang ia lihat.
'Sang Ratu datang sedikit lebih cepat'

Sumber gambar, Gavin Ross
Sebagai seorang pelajar berumur 15 tahun di Sekolah Westminster, Gavin Ross tahu ia pasti akan mendapat peran dalam upacara penobatan Ratu Elizabeth II ketika ayah Ratu, George VI, tiba-tiba meninggal pada 1952.
Sejak 1685, tanggung jawab untuk iring-iringan penguasa yang baru melewati Westminster Abbey dengan teriakan dalam bahasa Latin “Vivat Regina!“ (Panjang umur Ratu) atau “Vivat Rex!“ (Panjang umur Raja) merupakan tugas bagi para pelajar sekolah itu.
"Pada 1902, Edward VII menginginkan upacara resmi dengan musik yang bagus," kata Gavin. "Maka pencipta lagu Hubert Parry menggubah 'I was Glad (Saya senang)'. Di tengah lagu itu, musik berhenti, kemudian para siswa berteriak "Vivat!" untuk menyambut Raja atau Ratu baru.
Lagu yang sama dipakai untuk upacara Ratu Elizabeth pada 1953, dan Gavin mengingat dirinya datang dua jam sebelum upacara itu dimulai agar ia siap dalam posisinya.
Ia diantar ke atas, menuju triforium, sebuah lorong di atas lantai gereja tersebut, "18 meter di sebelah kanan atas dari takhta," katanya.

Sumber gambar, Getty Images
Baca juga:
Latihan berkepanjangan itu difokuskan agar "teriakan musik" mereka cukup berisik.
"Meskipun kami jumlahnya 40 orang," kata Gavin, yang saat itu posisinya berada sangat tinggi di atas kerumunan, "[teriakan] itu belum tentu terdengar dengan baik kecuali jika kami berteriak dengan sangat keras."
Gavin tidak merasa gugup, tetapi ia mengingat waktunya tidak berjalan sesuai rencana.
"Ratu masuk sedikit lebih awal daripada musiknya," kata Gavin "jadi dia sudah berjalan cukup jauh sebelum kami mulai berteriak … Vivat Regina Elizabetha!"
Benar-benar ada nuansa optimis di kala itu, kata Gavin.
Itu adalah masa pascaperang, dan dengan adanya seorang Ratu muda menduduki takhta, "penjatahan telah berakhir [untuk beberapa produk] dan berbagai hal terbuka, [yakni] peluang bagi orang-orang, dan dunia itu berbeda dari hari ini," katanya.
Kini, berusia 85 tahun, Gavin akan memperhatikan dengan saksama bagian khusus tersebut dalam upacara penobatan Raja Charles.
Westminster Abbey telah menerbitkan lirik dan musik dari aklamasi Vivat itu. Dan, untuk pertama kalinya, lagu itu akan dinyanyikan oleh perempuan bersama dengan laki-laki.
'Anda harus membayar dua guinea untuk staf emas Anda'

Sumber gambar, Sir Simon Bowes-Lyon
Sir Simon Bowes-Lyon akan menyaksikan upacara penobatan yang ketiga saat Raja Charles III diangkat nanti.
Ia baru berusia empat tahun pada 1937 ketika menyaksikan penobatan George VI dan Ratu Elizabeth Ibunda Ratu, yang merupakan tante Simon. Ia menonton dari jendela kamar tidur di Istana Buckingham.
Kenangan masa kecil Simon dari hari itu mencakup memakan "telur orak arik yang sangat enak" untuk sarapan paginya dan melihat "kereta emas dengan banyak kuda".
Pada 1953, saat ia berusia 20 tahun, ia diundang ke Westminster Abbey untuk melihat saudaranya, Ratu Elizabeth II dinobatkan.
Awalnya, ia diminta untuk menjadi penerima tamu, dan berdasarkan instruksi, perlu menanggung sendiri biaya perjalanan, biaya akomodasi, dan membeli tongkat emas yang harus dibawa.
"Anda harus membayar dua [koin] guinea untuk staf emas Anda," katanya.
Tetapi pada akhirnya, keluarganya diberikan tempat duduk. Sehingga, ia tidak perlu bertugas dan bisa menonton upacara bersama dengan para undangan lainnya. Namun, busananya tetap harus formal.
"Mantel dan celana beludru, dengan kancing baja berpotongan, ruffle, dan rompi putih," kata Sir Simon. "Itu sangat, sangat rapi."
Setelah upacara itu selesai, Simon dan saudara perempuannya kembali ke apartemen mereka di London, berganti baju dan bergabung dalam "kerumunan bahagia dan berisik" yang bersorak-sorai dan mengibarkan bendera di jalanan.
Dia juga melihat Ratu yang baru diangkat muncul di balkon istana.
Keluarganya sempat membeli beberapa cenderamata dari upacara penobatan pada 1937 dan 1953, termasuk kursi-kursi yang mereka duduki saat di Westminster Abbey.
"Kursi-kursi itu sangat nyaman," kata Sir Simon, menambahkan bahwa kursi-kursi itu masih dipakai hingga kini di rumah mereka di Hertfordshire. Dengan upacara penobatan berlangsung hampir tiga jam, kursi yang nyaman sangat diperlukan.
Sir Simon juga mengatakan bahwa keluarganya juga membeli sebagian dari karpet yang digunakan pada tangga gereja itu.
"Sepertinya kami memperbaikinya sekitar 10 tahun yang lalu, supaya itu bisa bertahan sampai 60 tahun," kata Sir Simon. "Tetapi segala sesuatu harus bertahan lama di sini. Kami tidak mengganti karpet kecuali sudah terpaksa."
Sekarang, di usianya yang 90 tahun, Simon berharap upacara penobatan Raja Charles III akan "menciptakan banyak perayaan".













