|
Awal Perjalanan | ||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
Lelah. Mengantuk. Tetapi tak bisa menutup mata. Setidaknya sayup musik latin bosas membuat saya merasa sedikit lebih segar. Perjalanan selama 13 jam dari London ke Sao Paulo disambung lima jam penerbangan lanjutan membawa saya ke Manaus, kota berpenduduk sekitar dua juta jiwa tepat di tengah hutan Amazon. Manaus kota yang hanya bisa di akses lewat udara dan sungai ini ramai, padat, modern, dengan gedung pencakar langit bertebaran layaknya kota megapolitan dunia, bahkan ada gedung opera kelas dunia. Manaus adalah salah satu pemukiman kecil pertama di Amazon yang tumbuh menjadi kota modern lebih dari 125 tahun lalu, karena ditemukannya pohon karet yang saat itu hanya bisa ditemukan di hutan Amazon. Bagi saya Manaus menjauhkan bayangan eksotik hutan Amazon yang lebat dan perawan. Namun dari Manaus inilah perjalanan menyusur Sungai Amazon saya mulai. Memahami kekhawatiran Dan dari Manaus pula saya mulai memahami kekhawatiran banyak kalangan akan ancaman kemusnahan yang dihadapi hutan Amazon.
Dari berbagai pembicaraan yang saya lakukan dengan berbagai kalangan, baik itu pejabat pemerintah, lembaga swadaya masyarakat, warga biasa, pengusaha, semua sepakat bahwa kekayaan hutan Amazon harus dieksploitasi. Tetapi pertanyaan adalah oleh siapa dan bagaimana caranya. Tak ada kata sepakat dicapai karena semua mempunyai pendapatnya sendiri-diri. Saya tentu saja juga tak bisa menjawabnya. Mungkin yang bisa saya katakan hanyalah sebisa mungkin hutan Amazon ini harus dilestarikan. Sumber kehidupan
Yang menarik adalah ketika dalam perjalanan menggunakan kapal, kami mampir di sebuah depo perbekalan sekitar 6 jam jauhnya dari kota Manaus. Depo ini sederhananya adalah sebuah koperasi milik sekelompok masyarakat yang sudah bergenerasi hidup di pinggir sungai Amazon. Mereka bercocok tanam dan memanfaatkan kekayaan hutan untuk mereka ambil yang kemudian dijual didepo itu. Berbeda dengan penduduk lokal yang sudah melakukannya selama beratus tahun dan menganggap hutan sebagai sumber kehidupan. Kekhawatiran mereka sama: pembalakan hutan yang terjadi di Amazon, menjamurnya pertanian kedelai, dan semakin banyaknya peternakan sapi. Ketiganya mengancam kelestarian hutan Amazon. |
| ||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
| |||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||